Breaking News

Selasa, 17 Maret 2015

BERJUANGLAH, PARA PEJUANG!

Tahun ini, merupakan tahun pertama saya menginjakan kaki pada usia kepala dua. Kenyataan yang takkan bisa dipungkiri, dan harus dilalui terus demi mencapai apa yang telah diangankan sejak lama. Momentum dimana harus segera meninggalkan tingkah polah kekanak-kanakan yang masih sering saya lakukan dengan sengaja ataupun tidak. Dan tahun ini pula, adik-adik saya, Dadang, Majid, Nandang, Timun, Ela, Cicih, Dianty, Idah, Erna, Mimin, Dian, Aam, Nia, Dita, Aas dan rekan-rekan seluruh angkatannya (yang tentu tak bisa saya sebut satu per satu) akan berjuang menempuh hidup baru –tapi jangan dulu nikah ya- menuju masa depannya.

“Merantaulah, maka kau akan mendapat pengganti kawan” – Imam Syafi’i dalam cover book trilogi Negeri Lima Menara yang membuat saya mantap menatap tanah rantau yang saat ini sedang dijalani. Perlu dipahami bahwa ‘pengganti kawan’ yang dimaksud adalah bukan berarti kawan yang lama terlupa begitu saja, akan tetapi bahwa kalian tidak perlu takut akan kehilangan kawan karena bertambahnya teman adalah sebuah keniscayaan.

Menjalani masa-masa seperti yang kalian hadapi saat ini adalah fase paling menarik yang pernah saya hadapi sejauh ini. Saingan kalian sangatlah banyak, apalagi saya baca bahwa saat ini pendaftar SNMPTN mencapai 850ribu orang, bisa dibayangkan bahwa kalian bersaing melawan ratusan ribu orang tersebut. SNMPTN sendiri mungkin masih jadi primadona di Bojongmangu, karena ketika bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri tanpa tes itu adalah sesuatu yang sangat nikmat. Pengalaman – pengalaman terdahulu dari kakak kelas adalah visualisasi nyata tak terbantahkan.

Danboo aja berjuang, masa kalian nggak
Sumber gambar : my-sphire.blogspot.com
Akan tetapi, yang perlu kalian ingat adalah jangan pernah menggantungkan harapan terlalu tinggi pada jalur yang satu ini. Seperti harapan – harapan lainnya, pabila digantungkan terlalu tinggi akan menjadi hal yang sangat menyakitkan kalau tak dapat digapai. Anggap saja fase ini sebagai fase “nyabut” yang kalian harus memilih satu dari ratusan ribu kertas yang ada atau malah lempar dadu dengan ratusan ribu mata dadu dan hanya satu yang tertulis nama kalian, yang artinya apabila kalian berhasil mendapatkannya pun itu adalah suatu keberuntungan. Ya, tes ini hanya untung – untungan. Bukankah tidak pernah panitia mengatakan secara gamblang kriteria penilaiannya? Rapor, nilai UN, Sertifikat Prestasi, dan lain sebagainya bukankah hanya (setidaknya menurut saya) prediksi belaka padahal kenyataan di dalam penilaian tersebut tidak pernah dibuka secara transparan? Sekali lagi, anggaplah ini hanya undian. Tapi kalian harus tetap ikut, karena mana tahu keberuntungan ada di pihak kalian. Meskipun jalur ini bukan jalan saya :D

Tetapi jika kalian tidak beruntung, ada lagi jalur lain untuk menuju PTN, yakni SBMPTN. Di jalan yang lebih ‘pasti’ ini kalian harus mengerahkan kemampuan sendiri dalam sebuah tes tertulis. Di jalur ini kalian mesti mengerahkan kemampuan terbaik kalian untuk bisa lolos, dan kriteria penilaiannya pun lebih jelas ketimbang jalur SNMPTN. Akan tetapi, saingan kalian bukan hanya orang – orang seangkatan seperti SNMPTN, tetapi juga (kalau tidak berubah aturannya) adalah angkatan 2014 dan angkatan saya. Saingan kalian dari angkatan sebelumnya ini biasanya adalah yang tidak lolos pada tahun lalu ataupun yang lolos tetapi diterima di Prodi yang tidak cocok dengannya sehingga ia mencoba untuk tes lagi. Yang harus diwaspadai adalah pengalaman mereka dalam menjalani tes ini, karena tentunya selain pengetahuan terkait materi, pengalaman juga penting dibutuhkan. Banyak kok tulisan – tulisan di blog sebelah yang memuat tips dan trik dalam menjalani tes yang satu ini. Kreatiflah, banyak – banyak mencari informasi. Ini masa depanmu! Dan lewat jalan inilah sekitar 2 tahun yang lalu Alhamdulillah saya diterima di Ilmu Hubungan Internasional, UIN Jakarta.

Selain dua jalur populer di atas, masih ada jalur lain untuk memasuki PTN. Ada beberapa PTN yang menerima mahasiswa lewat jalur mandiri, ya tidak jauh berbeda dengan SBM akan tetapi yang menyelenggarakan hanya PTN yang bersangkutan. Lalu ada pula untuk Perguruan Tinggi Negeri Islam (kalau tidak salah singkatannya PTAIN), biasanya melakukan tes bersama juga. Kalau nggak salah kemarin saya lihat Majid mengunggah kartu tes di Akun Facebook-nya. Iya, itu. Kalau zaman saya dulu namanya SPMB-PTAIN, saya pun sempat mau daftar, akan tetapi urung dilakukan karena sudah diterima SBMPTN.

Naah, masih ada jalur lain untuk mengejar cita – cita (meski mungkin sebelumnya tak terpikirkan sama sekali, ya :D) yaitu tes di Perguruan Tinggi Kedinasan. Setahu saya sudah ada beberapa PTK yang sudah buka saat ini, yakni STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik) dan STSN (Sekolah Tinggi Sandi Negara). Kalau untuk kampus saya sendiri belum ada pengumuman, tapi kabarnya sih tahun ini akan buka karena Direktorat Jenderal Pajak sedang membutuhkan banyak pegawai untuk mencapai target penerimaan pajak yang tiap tahun terus meningkat. Kabar mengenai pengumuman akan langsung saya bagikan, ya itu pun kalau kalian berminat, sih. Hehehe :D

Masuk PTK sendiri bisa menjadi greget tersendiri menurut saya. Peminat PTK tidak pernah sepi, loh. Ini terjadi karena kebanyakan PTK gratis karena dibiayai Negara dan setelah lulus diarahkan untuk bekerja di Kementerian/Lembaga penyelenggara. Jelas menggiurkan, kan? Apalagi di STAN, yang diselenggarakan oleh Kementerian Keuangan. Pendaftar tak kurang dari 100ribu tiap kali USM, dan yang diterima tidak lebih dari 5000 saja. Kalau bisa masuk, ya ada kebanggaan tersendiri dong! :D


Selain dari itu, masih ada jalan lain yakni kuliah di swasta ataupun (seperti kebanyakan yang lain) langsung kerja di Pabrik – pabrik sekitaran Bojongmangu. Bagaimanapun jalannya, yakinlah itu adalah jalan terbaik. Dan apabila sudah diberi jalan, bersungguh – sungguhlah menapakinya. Boleh jadi banyak orang yang menginginkan jalan kalian tetapi tak bisa tercapai, dan kalian termasuk orang yang beruntung. Yakinlah, masa depan sudah disiapkan dengan indah. Hanya perlu perjuangan hebat untuk mencapainya. Karena masa depan tidak sesederhana candaan yang sering kalian tertawakan bersama. Bahkan untuk memancing ikan pun butuh usaha ekstra, bukan? 

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Sama-sama, Jid. Terus cari di semua jalan ya. Syukur-syukur kalau di percobaan pertama sudah temukan jalan :)

      Hapus

Designed By Dea Alfi Fauzan