Ada banyak cara untuk mengekspresikan kekesalan. Merajuk, mencak-mencak, dan sampai tahap yang paling jauh, menurut saya, adalah diam. Bisu, tidak mau cerita. Wajah memerah, tapi diam saja. Itulah tahap kemarahan paling tinggi bagi saya.
Saya biasa ekspresif, meluapkan emosi dengan terang, tanpa ada yang disembunyikan. Orang yang kenal baik dengan saya tentu tahu bagaimana karakter itu sering saya munculkan. Marah dengan mengekspresikan emosi tersebut bagi saya membuat lega, sekaligus cepat mereda. Saya, bukan tipe orang yang mau menyimpan kekesalan lama-lama.
Sampai suatu waktu, akhirnya saya diam.
Cerita ini tidak saya ceritakan pada siapa pun. Sedikit-sedikit, mungkin iya jika ada yang bertanya. Tapi tidak utuh. Saya rasa, ini adalah waktu yang tepat untuk menceritakannya, setidaknya pada blog saja. Tidak baik bila terus-menerus dipendam.
Pertama, momennya sama. Saat ini tengah berlangsung pemilihan ketua angkatan 2013.
Kedua, sebentar lagi Yudisium, tentu segera saya ditahbiskan sebagai alumni. Segera perjuangan, lelah tiada henti, akan segera terbayar 6 dan 19 Oktober nanti. Artinya, saya bukan lagi mahasiswa.
Pada saatnya tiba...
Saya tidak ingat tepat tanggalnya, yang jelas pada sore hari selepas kuliah, panitia pemilihan ketua angkatan dikumpulkan. Ada hal mendadak yang mesti dibicarakan. Genting sekali, katanya. Sampai ketika waktu rapat, akhirnya ketua panitia menjelaskan bahwa ada salah satu calon yang mengundurkan diri.
Sebelumnya, yang mesti diketahui, ada tiga orang calon yang mendaftar. Bohong besar apa yang dikatakan ketika apel, banyak calon yang mendaftar, katanya. Hanya tiga, dan tiga-tiganya lolos. Tepatnya diloloskan.
Karena panitia kadung menjanjikan akan menghadirkan tiga calon kepada khalayak, apa boleh bikin, harus ada satu orang calon lain yang muncul ke permukaan. Tidak mungkin membuka lagi pendaftaran, nanti busuknya panitia ketahuan. "Kenapa tidak mengambil peringkat empat saja?", begitu mungkin nanti yang akan ditanyakan. Bagaimana mau mengambil peringkat empat? Yang daftar saja cuma tiga.
Saya, yang ketika itu menjadi panitia, bimbang. Saya didorong maju oleh beberapa panitia lain. Saya diminta untuk melengkapi dua orang yang telah mantap menjadi calon. Saya, yang sedari awal tidak punya niat untuk maju, dipaksa maju. Demi nama baik panitia, katanya. Demi menjaga muka panitia.
Maka akhirnya saya maju, dengan niat yang baik, bukan untuk menjaga muka panitia, tapi betul-betul maju. Dalam semalam, saya menyiapkan segala hal yang mesti disampaikan esok harinya ketika apel. Visi-misi, rekam jejak, niat, segalanya. Dalam semalam.
Dua calon lain mungkin memiliki persiapan yang lebih baik. Mereka sudah melewati bermacam tahap. Tidak adil memang bagi mereka, saya yang tanpa mendaftar, tanpa melewati tahapan apa pun, dengan segera sejajar dengan mereka. Dalam satu hari saja. Dengan kata lain, saya adalah calon yang dijebloskan oleh panitia hanya untuk melengkapi formasi. Tidak lebih.
Dan, anda tahu? Ada panitia yang ikut 'membantu' saya. Mengatur apa yang saya harus jabarkan esok. Dan bodohnya, saya terima saja usulan dia, yang baru saya sadari ketika saya sudah terhempas, ternyata adalah bumerang untuk menusuk saya. Menjatuhkan saya.
Sampai pada akhirnya tibalah hari kampanye terbuka. Saya sampaikan apa yang sudah 'diatur' semalam. Di tengah-tengah bicara, saya menyadari mimik wajah teman-teman saya berubah. Seperti ingin berkata, "ih apa sih". Jauh berbeda dengan sambutan mereka di awal-awal.
Saya menjual pengalaman. Beberapa memang benar adanya. Tapi sebagian yang lain, terutama bagian Karang Taruna, adalah bohong besar. Saya tidak pernah aktif di Karang Taruna Desa. Bagian yang saya ulang-ulang tersebut adalah skenario yang telah diatur 'pembantu' saya. Entah karena apa, saya tidak menyadari kalau bagian itu akan membuat imej saya jelek, seolah saya terlampau bangga dengan pencapaian yang 'ecek-ecek' itu. Saya tidak menyadarinya semalam.
Selanjutnya, saya dalam pandangan khalayak adalah orang yang sombong. Saya memang mulai menyadari ketika melihat mimik wajah berubah, dan tambah sadar ketika ada seorang yang mengirim saya pesan di Facebook. Dia bercerita kalau teman-temannya menganggap saya sombong.
Setelahnya, saya makin yakin bahwa saya hanyalah robot yang diatur untuk membuat alasan agar dibuka lagi pendaftaran. Agar teman-teman saya kritis pada calon pemimpinnya, katanya. Saya diminta maju hanya untuk melengkapi formasi. Saya hanya diangkat untuk dijatuhkan kembali.
Dan saya benar-benar yakin setelah hari penghakiman itu tiba
Di hari penghakiman itu, semua orang berebut pengeras suara, berebut waktu untuk berkata hal yang sama, bahwa kami bertiga, atau saya tepatnya, tidak pantas untuk memimpin angkatan ini. Saya yang kurus kerontang, tidak gagah, tidak punya gagasan, sombong, tidak berwibawa, adalah orang yang tidak layak untuk berada di depan mereka.
Bila ada yang memerhatikan, ketika itu wajah saya memerah, dan saya hanya diam saja. Tanpa pledoi, tanpa kata apa pun. Mematung. Sebuah tingkat kemarahan tertinggi bagi saya.
Saya marah. Saya tidak terima. Saya sakit hati.
Saya dihakimi di depan orang banyak bukan atas apa yang saya lakukan, tapi atas apa yang diminta untuk saya lakukan. Saat itu, saya sadar bahwa saya hanyalah wayang yang ditampilkan untuk berperan sebagai antagonis, untuk menutupi karakter asli si dalang. Saya hanyalah topeng yang dibuat buruk sedemikian rupa, untuk menutupi kebusukan wajah 'pemilik' saya.
Saya sempat bicara, yang oleh seseorang, dikatakan sebagai tamparan. Di gedung G kalau tidak salah, beberapa hari setelah hari penghakiman itu. Setelah calon baru datang, yang salah satunya ternyata menang. Saya tidak ingin menampar, saya ingin menghajar. Keluar dari kebusukan orang-orang yang ada di balik skenario yang tak adil ini.
Saya ternyata tidak diam untuk saat itu saja. Saya diam untuk tiga tahun. Sebelumnya, saya sering menjadi koordinator suporter. Saya sering datang ke acara yang melibatkan nama angkatan. Saya tidak pernah absen untuk mendukung angkatan. Saya begitu mencintai angkatan ini.
Tapi setelah hari penghakiman itu, saya diam. Saya tidak pernah lagi datang. Saya tidak pernah lagi betul-betul niat hadir. Apel pun malas rasanya. Berkali-kali saya tidak hadir apel, yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan walau sejak dalam pikiran.
Saya benci orang-orang itu. Tidak pernah betul-betul bisa memaafkan, karena memang mereka tidak ada satu pun yang meminta maaf. Tidak merasa bersalah, mungkin. Yang jelas, saya merasa dihancurkan seketika, dalam beberapa hari saja. Saya hanya bisa berdamai dengan keadaan, tanpa memberikan maaf yang tak pernah mereka minta.
Kini, saya memang tidak lagi marah. Saya sadar ada peran kebodohan saya yang membiarkan semua hal tersebut terjadi. Saya tidak lagi marah, saya hanya sakit hati. Entah sampai kapan.
P.S;
Tidak ada nama yang saya sebut di tulisan ini disengaja, saya tidak ingin menyinggung pihak-pihak yang tidak merasa bersalah atau pun terlibat;
Cerita ini semua adalah kisah nyata, tidak ada rekayasa walau sehasta, bila ada yang tidak percaya, ya itu hak anda;
Bila ada yang tidak terima atas cerita ini, boleh menghubungi saya untuk bicara lebih lanjut.
Read more ...
Saya biasa ekspresif, meluapkan emosi dengan terang, tanpa ada yang disembunyikan. Orang yang kenal baik dengan saya tentu tahu bagaimana karakter itu sering saya munculkan. Marah dengan mengekspresikan emosi tersebut bagi saya membuat lega, sekaligus cepat mereda. Saya, bukan tipe orang yang mau menyimpan kekesalan lama-lama.
Sampai suatu waktu, akhirnya saya diam.
Cerita ini tidak saya ceritakan pada siapa pun. Sedikit-sedikit, mungkin iya jika ada yang bertanya. Tapi tidak utuh. Saya rasa, ini adalah waktu yang tepat untuk menceritakannya, setidaknya pada blog saja. Tidak baik bila terus-menerus dipendam.
Pertama, momennya sama. Saat ini tengah berlangsung pemilihan ketua angkatan 2013.
Kedua, sebentar lagi Yudisium, tentu segera saya ditahbiskan sebagai alumni. Segera perjuangan, lelah tiada henti, akan segera terbayar 6 dan 19 Oktober nanti. Artinya, saya bukan lagi mahasiswa.
Pada saatnya tiba...
Saya tidak ingat tepat tanggalnya, yang jelas pada sore hari selepas kuliah, panitia pemilihan ketua angkatan dikumpulkan. Ada hal mendadak yang mesti dibicarakan. Genting sekali, katanya. Sampai ketika waktu rapat, akhirnya ketua panitia menjelaskan bahwa ada salah satu calon yang mengundurkan diri.
Sebelumnya, yang mesti diketahui, ada tiga orang calon yang mendaftar. Bohong besar apa yang dikatakan ketika apel, banyak calon yang mendaftar, katanya. Hanya tiga, dan tiga-tiganya lolos. Tepatnya diloloskan.
Karena panitia kadung menjanjikan akan menghadirkan tiga calon kepada khalayak, apa boleh bikin, harus ada satu orang calon lain yang muncul ke permukaan. Tidak mungkin membuka lagi pendaftaran, nanti busuknya panitia ketahuan. "Kenapa tidak mengambil peringkat empat saja?", begitu mungkin nanti yang akan ditanyakan. Bagaimana mau mengambil peringkat empat? Yang daftar saja cuma tiga.
Saya, yang ketika itu menjadi panitia, bimbang. Saya didorong maju oleh beberapa panitia lain. Saya diminta untuk melengkapi dua orang yang telah mantap menjadi calon. Saya, yang sedari awal tidak punya niat untuk maju, dipaksa maju. Demi nama baik panitia, katanya. Demi menjaga muka panitia.
Maka akhirnya saya maju, dengan niat yang baik, bukan untuk menjaga muka panitia, tapi betul-betul maju. Dalam semalam, saya menyiapkan segala hal yang mesti disampaikan esok harinya ketika apel. Visi-misi, rekam jejak, niat, segalanya. Dalam semalam.
Dua calon lain mungkin memiliki persiapan yang lebih baik. Mereka sudah melewati bermacam tahap. Tidak adil memang bagi mereka, saya yang tanpa mendaftar, tanpa melewati tahapan apa pun, dengan segera sejajar dengan mereka. Dalam satu hari saja. Dengan kata lain, saya adalah calon yang dijebloskan oleh panitia hanya untuk melengkapi formasi. Tidak lebih.
Dan, anda tahu? Ada panitia yang ikut 'membantu' saya. Mengatur apa yang saya harus jabarkan esok. Dan bodohnya, saya terima saja usulan dia, yang baru saya sadari ketika saya sudah terhempas, ternyata adalah bumerang untuk menusuk saya. Menjatuhkan saya.
Saya menjual pengalaman. Beberapa memang benar adanya. Tapi sebagian yang lain, terutama bagian Karang Taruna, adalah bohong besar. Saya tidak pernah aktif di Karang Taruna Desa. Bagian yang saya ulang-ulang tersebut adalah skenario yang telah diatur 'pembantu' saya. Entah karena apa, saya tidak menyadari kalau bagian itu akan membuat imej saya jelek, seolah saya terlampau bangga dengan pencapaian yang 'ecek-ecek' itu. Saya tidak menyadarinya semalam.
Selanjutnya, saya dalam pandangan khalayak adalah orang yang sombong. Saya memang mulai menyadari ketika melihat mimik wajah berubah, dan tambah sadar ketika ada seorang yang mengirim saya pesan di Facebook. Dia bercerita kalau teman-temannya menganggap saya sombong.
Setelahnya, saya makin yakin bahwa saya hanyalah robot yang diatur untuk membuat alasan agar dibuka lagi pendaftaran. Agar teman-teman saya kritis pada calon pemimpinnya, katanya. Saya diminta maju hanya untuk melengkapi formasi. Saya hanya diangkat untuk dijatuhkan kembali.
Dan saya benar-benar yakin setelah hari penghakiman itu tiba
Di hari penghakiman itu, semua orang berebut pengeras suara, berebut waktu untuk berkata hal yang sama, bahwa kami bertiga, atau saya tepatnya, tidak pantas untuk memimpin angkatan ini. Saya yang kurus kerontang, tidak gagah, tidak punya gagasan, sombong, tidak berwibawa, adalah orang yang tidak layak untuk berada di depan mereka.
Bila ada yang memerhatikan, ketika itu wajah saya memerah, dan saya hanya diam saja. Tanpa pledoi, tanpa kata apa pun. Mematung. Sebuah tingkat kemarahan tertinggi bagi saya.
Saya marah. Saya tidak terima. Saya sakit hati.
Saya dihakimi di depan orang banyak bukan atas apa yang saya lakukan, tapi atas apa yang diminta untuk saya lakukan. Saat itu, saya sadar bahwa saya hanyalah wayang yang ditampilkan untuk berperan sebagai antagonis, untuk menutupi karakter asli si dalang. Saya hanyalah topeng yang dibuat buruk sedemikian rupa, untuk menutupi kebusukan wajah 'pemilik' saya.
Saya sempat bicara, yang oleh seseorang, dikatakan sebagai tamparan. Di gedung G kalau tidak salah, beberapa hari setelah hari penghakiman itu. Setelah calon baru datang, yang salah satunya ternyata menang. Saya tidak ingin menampar, saya ingin menghajar. Keluar dari kebusukan orang-orang yang ada di balik skenario yang tak adil ini.
Saya ternyata tidak diam untuk saat itu saja. Saya diam untuk tiga tahun. Sebelumnya, saya sering menjadi koordinator suporter. Saya sering datang ke acara yang melibatkan nama angkatan. Saya tidak pernah absen untuk mendukung angkatan. Saya begitu mencintai angkatan ini.
Tapi setelah hari penghakiman itu, saya diam. Saya tidak pernah lagi datang. Saya tidak pernah lagi betul-betul niat hadir. Apel pun malas rasanya. Berkali-kali saya tidak hadir apel, yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan walau sejak dalam pikiran.
Saya benci orang-orang itu. Tidak pernah betul-betul bisa memaafkan, karena memang mereka tidak ada satu pun yang meminta maaf. Tidak merasa bersalah, mungkin. Yang jelas, saya merasa dihancurkan seketika, dalam beberapa hari saja. Saya hanya bisa berdamai dengan keadaan, tanpa memberikan maaf yang tak pernah mereka minta.
Kini, saya memang tidak lagi marah. Saya sadar ada peran kebodohan saya yang membiarkan semua hal tersebut terjadi. Saya tidak lagi marah, saya hanya sakit hati. Entah sampai kapan.
P.S;
Tidak ada nama yang saya sebut di tulisan ini disengaja, saya tidak ingin menyinggung pihak-pihak yang tidak merasa bersalah atau pun terlibat;
Cerita ini semua adalah kisah nyata, tidak ada rekayasa walau sehasta, bila ada yang tidak percaya, ya itu hak anda;
Bila ada yang tidak terima atas cerita ini, boleh menghubungi saya untuk bicara lebih lanjut.
