Breaking News

Selasa, 04 Oktober 2016

Diam

Ada banyak cara untuk mengekspresikan kekesalan. Merajuk, mencak-mencak, dan sampai tahap yang paling jauh, menurut saya, adalah diam. Bisu, tidak mau cerita. Wajah memerah, tapi diam saja. Itulah tahap kemarahan paling tinggi bagi saya.

Saya biasa ekspresif, meluapkan emosi dengan terang, tanpa ada yang disembunyikan. Orang yang kenal baik dengan saya tentu tahu bagaimana karakter itu sering saya munculkan. Marah dengan mengekspresikan emosi tersebut bagi saya membuat lega, sekaligus cepat mereda. Saya, bukan tipe orang yang mau menyimpan kekesalan lama-lama.

Sampai suatu waktu, akhirnya saya diam.

Cerita ini tidak saya ceritakan pada siapa pun. Sedikit-sedikit, mungkin iya jika ada yang bertanya. Tapi tidak utuh. Saya rasa, ini adalah waktu yang tepat untuk menceritakannya, setidaknya pada blog saja. Tidak baik bila terus-menerus dipendam.

Pertama, momennya sama. Saat ini tengah berlangsung pemilihan ketua angkatan 2013.
Kedua, sebentar lagi Yudisium, tentu segera saya ditahbiskan sebagai alumni. Segera perjuangan, lelah tiada henti, akan segera terbayar 6 dan 19 Oktober nanti. Artinya, saya bukan lagi mahasiswa.

Pada saatnya tiba...

Saya tidak ingat tepat tanggalnya, yang jelas pada sore hari selepas kuliah, panitia pemilihan ketua angkatan dikumpulkan. Ada hal mendadak yang mesti dibicarakan. Genting sekali, katanya. Sampai ketika waktu rapat, akhirnya ketua panitia menjelaskan bahwa ada salah satu calon yang mengundurkan diri.

Sebelumnya, yang mesti diketahui, ada tiga orang calon yang mendaftar. Bohong besar apa yang dikatakan ketika apel, banyak calon yang mendaftar, katanya. Hanya tiga, dan tiga-tiganya lolos. Tepatnya diloloskan.

Karena panitia kadung menjanjikan akan menghadirkan tiga calon kepada khalayak, apa boleh bikin, harus ada satu orang calon lain yang muncul ke permukaan. Tidak mungkin membuka lagi pendaftaran, nanti busuknya panitia ketahuan. "Kenapa tidak mengambil peringkat empat saja?", begitu mungkin nanti yang akan ditanyakan. Bagaimana mau mengambil peringkat empat? Yang daftar saja cuma tiga.

Saya, yang ketika itu menjadi panitia, bimbang. Saya didorong maju oleh beberapa panitia lain. Saya diminta untuk melengkapi dua orang yang telah mantap menjadi calon. Saya, yang sedari awal tidak punya niat untuk maju, dipaksa maju. Demi nama baik panitia, katanya. Demi menjaga muka panitia.

Maka akhirnya saya maju, dengan niat yang baik, bukan untuk menjaga muka panitia, tapi betul-betul maju. Dalam semalam, saya menyiapkan segala hal yang mesti disampaikan esok harinya ketika apel. Visi-misi, rekam jejak, niat, segalanya. Dalam semalam.

Dua calon lain mungkin memiliki persiapan yang lebih baik. Mereka sudah melewati bermacam tahap. Tidak adil memang bagi mereka, saya yang tanpa mendaftar, tanpa melewati tahapan apa pun, dengan segera sejajar dengan mereka. Dalam satu hari saja. Dengan kata lain, saya adalah calon yang dijebloskan oleh panitia hanya untuk melengkapi formasi. Tidak lebih.

Dan, anda tahu? Ada panitia yang ikut 'membantu' saya. Mengatur apa yang saya harus jabarkan esok. Dan bodohnya, saya terima saja usulan dia, yang baru saya sadari ketika saya sudah terhempas, ternyata adalah bumerang untuk menusuk saya. Menjatuhkan saya.

Sampai pada akhirnya tibalah hari kampanye terbuka. Saya sampaikan apa yang sudah 'diatur' semalam. Di tengah-tengah bicara, saya menyadari mimik wajah teman-teman saya berubah. Seperti ingin berkata, "ih apa sih". Jauh berbeda dengan sambutan mereka di awal-awal.

Saya menjual pengalaman. Beberapa memang benar adanya. Tapi sebagian yang lain, terutama bagian Karang Taruna, adalah bohong besar. Saya tidak pernah aktif di Karang Taruna Desa. Bagian yang saya ulang-ulang tersebut adalah skenario yang telah diatur 'pembantu' saya. Entah karena apa, saya tidak menyadari kalau bagian itu akan membuat imej saya jelek, seolah saya terlampau bangga dengan pencapaian yang 'ecek-ecek' itu. Saya tidak menyadarinya semalam.

Selanjutnya, saya dalam pandangan khalayak adalah orang yang sombong. Saya memang mulai menyadari ketika melihat mimik wajah berubah, dan tambah sadar ketika ada seorang yang mengirim saya pesan di Facebook. Dia bercerita kalau teman-temannya menganggap saya sombong.

Setelahnya, saya makin yakin bahwa saya hanyalah robot yang diatur untuk membuat alasan agar dibuka lagi pendaftaran. Agar teman-teman saya kritis pada calon pemimpinnya, katanya. Saya diminta maju hanya untuk melengkapi formasi. Saya hanya diangkat untuk dijatuhkan kembali.

Dan saya benar-benar yakin setelah hari penghakiman itu tiba

Di hari penghakiman itu, semua orang berebut pengeras suara, berebut waktu untuk berkata hal yang sama, bahwa kami bertiga, atau saya tepatnya, tidak pantas untuk memimpin angkatan ini. Saya yang kurus kerontang, tidak gagah, tidak punya gagasan, sombong, tidak berwibawa, adalah orang yang tidak layak untuk berada di depan mereka.

Bila ada yang memerhatikan, ketika itu wajah saya memerah, dan saya hanya diam saja. Tanpa pledoi, tanpa kata apa pun. Mematung. Sebuah tingkat kemarahan tertinggi bagi saya.

Saya marah. Saya tidak terima. Saya sakit hati. 

Saya dihakimi di depan orang banyak bukan atas apa yang saya lakukan, tapi atas apa yang diminta untuk saya lakukan. Saat itu, saya sadar bahwa saya hanyalah wayang yang ditampilkan untuk berperan sebagai antagonis, untuk menutupi karakter asli si dalang. Saya hanyalah topeng yang dibuat buruk sedemikian rupa, untuk menutupi kebusukan wajah 'pemilik' saya.

Saya sempat bicara, yang oleh seseorang, dikatakan sebagai tamparan. Di gedung G kalau tidak salah, beberapa hari setelah hari penghakiman itu. Setelah calon baru datang, yang salah satunya ternyata menang. Saya tidak ingin menampar, saya ingin menghajar. Keluar dari kebusukan orang-orang yang ada di balik skenario yang tak adil ini.

Saya ternyata tidak diam untuk saat itu saja. Saya diam untuk tiga tahun. Sebelumnya, saya sering menjadi koordinator suporter. Saya sering datang ke acara yang melibatkan nama angkatan. Saya tidak pernah absen untuk mendukung angkatan. Saya begitu mencintai angkatan ini.

Tapi setelah hari penghakiman itu, saya diam. Saya tidak pernah lagi datang. Saya tidak pernah lagi betul-betul niat hadir. Apel pun malas rasanya. Berkali-kali saya tidak hadir apel, yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan walau sejak dalam pikiran.

Saya benci orang-orang itu. Tidak pernah betul-betul bisa memaafkan, karena memang mereka tidak ada satu pun yang meminta maaf. Tidak merasa bersalah, mungkin. Yang jelas, saya merasa dihancurkan seketika, dalam beberapa hari saja. Saya hanya bisa berdamai dengan keadaan, tanpa memberikan maaf yang tak pernah mereka minta.

Kini, saya memang tidak lagi marah. Saya sadar ada peran kebodohan saya yang membiarkan semua hal tersebut terjadi. Saya tidak lagi marah, saya hanya sakit hati. Entah sampai kapan.

P.S;
Tidak ada nama yang saya sebut di tulisan ini disengaja, saya tidak ingin menyinggung pihak-pihak yang tidak merasa bersalah atau pun terlibat;
Cerita ini semua adalah kisah nyata, tidak ada rekayasa walau sehasta, bila ada yang tidak percaya, ya itu hak anda;
Bila ada yang tidak terima atas cerita ini, boleh menghubungi saya untuk bicara lebih lanjut.
Read more ...

Kamis, 22 September 2016

Dua Tahun yang Begitu Cepat Berlalu

Ada banyak hal yang aku syukuri dalam hidup ini, dan yang paling besar, salah satunya, adalah pertemuan denganmu. Kamu, seorang luar biasa yang ku temui, lantas mantap ku teguhkan hati untuk membersamaimu. Kamu mampu mengampu banyak peran dengan baik. Peran sahabat, kawan, saudara, pacar, dan tentunya kekasih dalam cacahan waktu yang tak diduga-duga. Aku tidak akan pernah ragu menyebut kalau kamu adalah wanita terhebat yang pernah ku temui, setelah mama tentunya.

Dua tahun ini berjalan begitu cepat. Kita memang jarang bersua, terlebih ketika tiap kita sama-sama sibuk dengan kehidupan masing-masing, yang (ku harap) akan menjadi kepingan-kepingan yang nantinya bertemu di masa depan, berakhir di sebuah bahtera yang ku nahkodai. Mengarungi lautan perjalanan dengan berbagai rintangan, bersama-sama. Percayalah, kendati jarang bertemu, kasih dan sayangku tak pernah memudar walau semili.

Guna mengobati rindu, setiap malam aku selalu berupaya menghadirkanmu dalam mimpi, memikirkan sosok yang kucintai ini lamat-lamat, sesaat sebelum terlelap --ya, kamu tahu, ini tidak berlaku ketika aku tertidur tanpa sengaja--. Meski tidak selalu berhasil, setidaknya hal tersebut membuatku tetap percaya, bahwa esok akan selalu ada, esok lusa kita akan berjumpa, esok lusa kita bisa melepas rindu setelah lama tidak bertemu.

Dua tahun ke belakang, ada banyak kisah yang telah kita buat. Tenunan asa yang telah kita rancang, hari ke hari, bersama kisah-kisah itu, kini semakin dekat dengan kata mulai. Mulai menenun bersama. Mulai mencari alat tenun terhebat sepanjang masa, agar asa tersebut semakin cepat untuk digapai.

Kamu tahu? Setiap kisah yang kita buat hanya pergi dalam perspektif waktu matematis, yang dicacah dengan satuan detik-menit-jam, tapi akan selalu ada dalam perspektif waktu murni, waktu yang ada dalam buaian pikiran kita sendiri. Membersamaimu, beriringan denganmu, bila meminjam istilah Zen RS, adalah kisah-tak-terpermanai dalam hidupku.

Aku datang tidak dengan maksud mengubah hidupmu, tapi mencoba melengkapi kepingan puzzle yang masih kamu cari.

Selamat mengulang hari jadi yang kedua, Sayang! Happy 2nd Anniversary :)

Bojongmangu, 22 September 2016
Read more ...

Jumat, 27 Mei 2016

MERINDUKAN BAHASA INDONESIA

Persoalan di negeri ini seperti tidak ada habisnya dan bahkan tiap hari selalu bertambah. Surat-surat kabar dalam tajuk utamanya tidak pernah sekali pun menuliskan “Masalah di Negeri Ini Telah Usai, Tidak Ada Berita Hari Ini”. Selesai satu, tumbuh lagi masalah yang lain. Tulisan ini sama sekali tidak memiliki tendensi untuk menambah pelik masalah bangsa, tapi hanya ingin menyuarakan keresahan tentang sesuatu yang sejatinya sederhana tapi makin hari malah kian disepelekan (dan dilupakan), yakni identitas bangsa berupa bahasa.
Bahasa, ditinjau dari tujuannya merupakan alat komunikasi. Seseorang mustahil bisa berkomunikasi tanpa bahasa. Sering sekali kita dengar celotehan-celotehan humor mengenai perbedaan bahasa yang membuat komunikasi menjadi terputus. Saya teringat cerita seorang tentara ketika tengah menjalani kegiatan pendidikan karakter di Sekolah Calon Perwira (Secapa) TNI-AD, Bandung, sekitar satu tahun lalu.
Buku Bahasa Indonesia
Diceritakan olehnya, rombongan orang Sunda datang ke rumah orang Jawa untuk melaksanakan lamaran. Seperti biasa, tuan rumah akan menjamu tamu dengan baik sebagai bagian dari kebiasaan timur yang kita miliki. Jamuan berupa makanan tersebut terus datang hingga beberapa dari rombongan Sunda tersebut merasa bahwa hal itu berlebihan, sebab tidak menguasai Bahasa Indonesia, mereka dengan santun mengatakan, “Atos...atos”. Orang Jawa yang juga tidak mengerti ada beda arti antara ‘atos’ di Jawa dan di Sunda itu pun merasa tersinggung. Dalam bahasa Sunda, ‘atos’ berarti sudah, sedangkan dalam Bahasa Jawa artinya keras. Merasa dihina makanan jamuan yang diberikannya dikatakan keras, mereka pun mengusir orang-orang sunda tersebut dan lamaran tidak jadi dilaksanakan. Dari cerita yang entah nyata atau fiktif ini dapat diambil simpulan bahwa perbedaan bahasa yang sederhana bisa menjadi sesuatu yang besar dan mengakibatkan kesalahpahaman.
Bahasa Indonesia lahir atas dasar keinginan untuk bersatu, salah satunya adalah karena bahasa antar daerah yang berbeda-beda sehingga menimbulkan kesulitan untuk berkomunikasi, alih-alih bersatu. Sebagai bahasa persatuan, Bahasa Indonesia adalah identitas dari bangsa ini. Bahasa hasil kolaborasi berbagai bahasa lain yang begitu indah ketika kita sudah menemukan cara untuk mencintainya.
Sejujurnya, bahasa ini adalah bahasa yang begitu indah. Pilihan kata yang tersedia untuk mengungkap suatu maksud begitu melimpah. Bila bosan dengan satu kata, bisa menggunakan kata yang lain sebagai pengganti. Jujur saja, pabila membaca Novel karya penulis favorit dengan diksi-diksi yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, dilengkapi jalan cerita menarik nan tak bisa ditebak, dengan sendirinya akan merasa terpukau, bukan?
Namun nyatanya, bahasa ini kian ditinggalkan. Promosi acara, pengenalan produk, pemberitahuan promo, orang-orang lebih memilih menggunakan bahasa asing. Tempo hari, ketika Hari Buku Nasional, Gramedia memberikan promo rabat 20 persen untuk umum dan 30 persen untuk pengguna kartu BNI. Diskon berlaku untuk buku lokal saja. Tapi sayangnya, promosi dilakukan menggunakan bahasa Inggris. Dalam rangka hari Buku Nasional, lho ini, bukan hari buku internasional. Miris, bukan?
Akhir-akhir ini, jarang sekali promosi acara -di kampus saya, terutama- menggunakan bahasa Indonesia. Padahal ketika dulu saya masih menjadi Menkominfo BEM, saya berupaya untuk terus membumikan bahasa Indonesia di tanah sendiri dengan belajar promosi menarik lewat bahasa Indonesia. Namun kini, jarkom-jarkom tentang promosi acara lebih banyak dihiasi frasa, “Are you excited already for today?” daripada “Siapkah dirimu untuk acara hari ini?”. Variasi, katanya, tapi variasi kok semuanya?
Menggunakan bahasa asing dalam berkomunikasi formal seperti itu dipandang keren oleh banyak kalangan. Tapi, menurut saya, stereotip tersebut tidaklah relevan dengan kondisi terkini. Bahasa asing, terutama bahasa Inggris, dewasa ini harusnya dipandang bukan lagi sebagai sesuatu yang meningkatkan gengsi, tapi sudah jadi kebutuhan pokok. Masing-masing dari kita ada yang sedang, sudah, dan akan berkiprah di luar negeri yang tentunya membutuhkan kemampuan berbahasa asing. Jadi, sebetulnya ‘menunjukkan diri’ bisa berbahasa asing itu tidak lagi keren, tapi sudah menjadi kewajiban.

Sekian banyak budaya yang terenggut, hutan-hutan yang kian gundul, wilayah-wilayah yang dicaplok negara lain, bahasa Indonesia pun kian hari kian asing di negeri sendiri. Sebagai suatu bangsa, masihkah kita punya identitas dan wibawa di mata bangsa lain? Dan sebagai pemuda, masihkah ingat janji akan menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia? 
Karena saya merindu, pada bahasa Indonesia yang dipelajari di negara lain, tapi mulai asing di negeri sendiri...
Read more ...

Senin, 16 Mei 2016

TANAH SURGA | Puisi Persembahan Untuk Nusa Tenggara



Selamat Datang di Tanah Surga
Tempat kami bernaung dari kerasnya hidup
Anginnya yang syahdu, rindangnya dedaunan, landainya pantai-pantai
Selalu bisa bangkitkan semangat yang redup

Tanah ini, tanah kami, tempat orang yang berbeda latar saling berdampingan
Ada hitam, ada putih, ada keriting, ada pula yang tak berambut
Juga tentu berbeda-beda Agama yang kami anut
Tapi itu bukan alasan untuk kami saling sikut,
berperang hanya untuk berebut pepesan kosong

Kami memang dekil, juga tak punya gawai seperti yang sering kalian mainkan
Tak pula kami berdasi hanya untuk berebut kuasa seperti mereka di Ibukota
Yang setiap saat berganti kawan dan lawan
Kami adalah orang-orang setia, nestapa kami jadikan bahagia
Tidak seperti lagu, “Indonesia tanah air kita / Bahagia menjadi nestapa / Indonesia kini tiba-tiba / Selalu di hina-hina bangsa / Di sana banyak orang lupa / Dibuai hawa nafsu semata / Tempat bertarung merebut kuasa / Sampai entah kapan akhirnya /

Tanah kami adalah tempat terindah bagi flora dan fauna tinggal
Tengoklah, kami punya Komodo yang sejak lama kami jaga
Kalian ingat, gunung mana yang letusannya paling dahsyat?
Ah, rasanya kalian akan menyebut Krakatau yang lebih dekat
Nyatanya, dua gunung kamilah yang terdahsyat, Tambora dan Samalas
Yang meluluhlantakkan dunia, tapi tetap kami jaga, hingga kini
Yang menghancurkan rumah-rumah kami, namun kami tak punya dendam pada mereka

Jangan lupa, bila kalian sudi, datanglah ke sini
Jika kalian tak percaya pada yang aku katakan, jumpai sendiri
Pulau Komodo, Danau Kelimutu, Gunung Rinjani, Pantai Senggigi, Gili Trawangan
Ah, Itu baru yang terkenal saja,
masih banyak surga tersembunyi yang akan ku katakan setelah kalian di sini

Tanah Surga ini kami namai Nusa Tenggara
Read more ...

Selasa, 12 April 2016

KOMPETISI, KEMBALILAH!


Liga-liga Eropa segera berakhir. Seperti biasa, Liga Inggris menjadi liga yang paling seru untuk ditonton. Bukan hanya karena ada Manchester United di sana, yang sampai sejauh ini masih berkutat dengan permainan membosankan, namun hadirnya anomali dengan Leicester City yang hingga saat ini masih berada di pucuk klasemen dan berpeluang besar menjadi juara, adalah keseruan yang mungkin tidak bisa disaksikan di tahun-tahun berikutnya. Panditfootball bahkan mengatakan bahwa fenomena ini adalah gerhana sepak bola, yang jarang sekali bisa kita tonton kehebatannya.
Namun keseruan-keseruan di Eropa sana berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di negeri tercinta. Dengan awetnya sanksi FIFA yang sudah hampir setahun ini bertahan, praktis kompetisi jangka panjang yang diidam-idamkan masih sulit terealisasi. Indonesia Soccer Competition (ISC) yang direncanakan akan digelar pertengahan April ini pun mesti mundur dari jadwal. Perizinan lagi-lagi menjadi alasan klise penyelenggara.
Sebagian besar stadion Indonesia saat ini hanya jadi ruang kosong yang detak jantungnya terhenti. Meski ada banyak turnamen yang diharapkan menjadi api kecil pemantik membaranya kembali geliat sepak bola nasional, ternyata geliat hanya dirasakan di beberapa daerah dan tidak bertahan lama. Semua cepat padam dan tak bersisa.
Kemenangan PSSI dalam gugatannya ke PTUN dan MA nampaknya bukan menjadi akhir dari saga perseteruan PSSI dengan Kemenpora. Upaya peninjauan kembali dari Kemenpora membuat lika-liku perseteruan ini semakin panjang dan rumit. Namun atas kemenangan tersebut, sepertinya PSSI kembali percaya diri dan memberikan janji surga kepada klub, pemain, dan semua yang terkait dengan sepak bola, yakni kompetisi.

Kembalikan Pentas Itu

Mari ingat kembali saat-saat ketika sepak bola nasional belum mati suri. Ketika kumandang yel-yel penikmat sepak bola tanah air telah gaduh berjam-jam sebelum pertandingan berlangsung, para pedagang yang telah menggelar dagangannya sejak sehari sebelum laga dilangsungkan, gurat kebanggaan kala pemain bernyanyi lagu kebangsaan, perayaan gol bersama penonton, dan semua laku insan sepak bola nasional yang mengundang perhatian banyak orang.
Sepak bola adalah hiburan rakyat. Aksi-aksi memukau para seniman lapangan hijau tersebut sangat menyedot perhatian masyarakat. Sekarut-marut apa pun sepak bola nasional, olah raga ini adalah yang paling diminati saat ini. Seluruh pecinta sepak bola Indonesia sedang merindu pada sepak bola.
Tentu kita tidak boleh menafikan bahwa mesti ada perubahan total di tingkat pengurus dan juga sistem pembinaan. Sepak bola nasional tidak boleh terus-terusan berlari di tempat, atau bahkan berjalan mundur. Tak patut pula federasi dikuasai oleh koruptor dan segelintir orang yang hanya mementingkan kepentingan kelompoknya. Semuanya mesti di revolusi, tapi, bukan dengan menghentikan kompetisi.
Tidak bisa ditampik kalau pembekuan terhadap PSSI tentu akan membuat semua embel-embel yang berkaitan dengan PSSI ikut membeku, termasuk kompetisi. Tim transisi yang dijanjikan akan mengatur segala urusan PSSI selama dibekukan nyatanya belum berbuat apa-apa. “Tata kelola sepak bola yang lebih baik” hanya menjadi retorika di tengah rindunya masyarakat akan sepak bola.
Pentas hiburan itu mesti segera dikembalikan. Kembali dalam artian bukan hanya sebagai hiburan sejenak berupa turnamen yang waktu penyelenggaraannya hanya sebentar, tetapi kembali untuk benar-benar kembali. Para pemain sudah kehilangan banyak aset untuk menghidupi keluarganya, para pedagang turun omzetnya, dan penonton sudah rindu untuk bernyanyi di tribun. Semua rindu pada pertandingan, dan berharap janji kompetisi bisa direalisasikan.

Pentingkan Pemain

Tidak bisa dimungkiri bahwa kedua pihak yang berseteru saat ini memiliki ego yang begitu besar. Keduanya sama-sama merasa paling benar, dan paling berhak dibela. Namun sepertinya kedua kubu tidak menyadari kalau bukan mereka yang terkena imbas terbesar dalam perseteruan yang tak jelas kapan akan berakhirnya ini.
Perseteruan yang sepertinya makin runyam dan masih panjang penyelesaiannya ini sangat berimbas pada pemain. Banyak pemain yang belum siap untuk berhenti bermain sepak bola, hingga harus kehabisan tabungan dan menjual berbagai aset yang dimiliki.
Sejatinya pemain menyadari kalau pun ada kompetisi itu tidak menjamin lancarnya pendapatan yang mereka terima. Tentu masih lekat dalam ingatan bagaimana pemain PSMS Medan yang mogok bermain lalu melakukan unjuk rasa di depan kantor PSSI karena gajinya ditunggak. Belum lagi klub-klub lain yang masih kesulitan dana selepas pelarangan klub menerima dana APBD.
Namun, setidaknya jika ada kompetisi, mereka masih bisa berharap. Harapan membuat orang bisa bertahan hidup. Yang penting kompetisi jalan dulu, mereka bermain dulu. Sejatinya saat ini kompetisi sepak bola nasional sedang dalam tahap berkembang, klub-klub sudah banyak mendapat sponsor dan bisa menutupi seluruh biaya yang dikeluarkan selama semusim.
Sudahlah para elitis, luruhkan ego, duduk bersama, berjalan beriringan demi perbaikan sepak bola nasional. Kami sudah merindu, dan seluruh insan sepak bola punya harapan: kompetisi akan segera berjalan.
Read more ...

Rabu, 16 Maret 2016

HIRUP | Sajak Sunda



Hujan moal datang salawasna
Langit moal Paul salilana
Bakal aya hiji waktu nu ngauningakeun
Yen hirup teh teu cicing wae, kikiping bakal muter saterasna
Aya di hadap, aya di luhur, aya oge di gigir
Panon poe aya surupna
Hujan oge aya raatna
Da puguh hirup teh lain saukur senang wae, atawa sangsara unggal-unggal
Moal jempe napsu manusa,
Ku sagala rupa nu aya di dunya
Di bere ieu, moal lila bakal miharep nu sejen
Kitu jeung kitu
Tapi dunya moal abadi

Read more ...
Designed By Dea Alfi Fauzan