Breaking News

Jumat, 27 Mei 2016

MERINDUKAN BAHASA INDONESIA

Persoalan di negeri ini seperti tidak ada habisnya dan bahkan tiap hari selalu bertambah. Surat-surat kabar dalam tajuk utamanya tidak pernah sekali pun menuliskan “Masalah di Negeri Ini Telah Usai, Tidak Ada Berita Hari Ini”. Selesai satu, tumbuh lagi masalah yang lain. Tulisan ini sama sekali tidak memiliki tendensi untuk menambah pelik masalah bangsa, tapi hanya ingin menyuarakan keresahan tentang sesuatu yang sejatinya sederhana tapi makin hari malah kian disepelekan (dan dilupakan), yakni identitas bangsa berupa bahasa.
Bahasa, ditinjau dari tujuannya merupakan alat komunikasi. Seseorang mustahil bisa berkomunikasi tanpa bahasa. Sering sekali kita dengar celotehan-celotehan humor mengenai perbedaan bahasa yang membuat komunikasi menjadi terputus. Saya teringat cerita seorang tentara ketika tengah menjalani kegiatan pendidikan karakter di Sekolah Calon Perwira (Secapa) TNI-AD, Bandung, sekitar satu tahun lalu.
Buku Bahasa Indonesia
Diceritakan olehnya, rombongan orang Sunda datang ke rumah orang Jawa untuk melaksanakan lamaran. Seperti biasa, tuan rumah akan menjamu tamu dengan baik sebagai bagian dari kebiasaan timur yang kita miliki. Jamuan berupa makanan tersebut terus datang hingga beberapa dari rombongan Sunda tersebut merasa bahwa hal itu berlebihan, sebab tidak menguasai Bahasa Indonesia, mereka dengan santun mengatakan, “Atos...atos”. Orang Jawa yang juga tidak mengerti ada beda arti antara ‘atos’ di Jawa dan di Sunda itu pun merasa tersinggung. Dalam bahasa Sunda, ‘atos’ berarti sudah, sedangkan dalam Bahasa Jawa artinya keras. Merasa dihina makanan jamuan yang diberikannya dikatakan keras, mereka pun mengusir orang-orang sunda tersebut dan lamaran tidak jadi dilaksanakan. Dari cerita yang entah nyata atau fiktif ini dapat diambil simpulan bahwa perbedaan bahasa yang sederhana bisa menjadi sesuatu yang besar dan mengakibatkan kesalahpahaman.
Bahasa Indonesia lahir atas dasar keinginan untuk bersatu, salah satunya adalah karena bahasa antar daerah yang berbeda-beda sehingga menimbulkan kesulitan untuk berkomunikasi, alih-alih bersatu. Sebagai bahasa persatuan, Bahasa Indonesia adalah identitas dari bangsa ini. Bahasa hasil kolaborasi berbagai bahasa lain yang begitu indah ketika kita sudah menemukan cara untuk mencintainya.
Sejujurnya, bahasa ini adalah bahasa yang begitu indah. Pilihan kata yang tersedia untuk mengungkap suatu maksud begitu melimpah. Bila bosan dengan satu kata, bisa menggunakan kata yang lain sebagai pengganti. Jujur saja, pabila membaca Novel karya penulis favorit dengan diksi-diksi yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, dilengkapi jalan cerita menarik nan tak bisa ditebak, dengan sendirinya akan merasa terpukau, bukan?
Namun nyatanya, bahasa ini kian ditinggalkan. Promosi acara, pengenalan produk, pemberitahuan promo, orang-orang lebih memilih menggunakan bahasa asing. Tempo hari, ketika Hari Buku Nasional, Gramedia memberikan promo rabat 20 persen untuk umum dan 30 persen untuk pengguna kartu BNI. Diskon berlaku untuk buku lokal saja. Tapi sayangnya, promosi dilakukan menggunakan bahasa Inggris. Dalam rangka hari Buku Nasional, lho ini, bukan hari buku internasional. Miris, bukan?
Akhir-akhir ini, jarang sekali promosi acara -di kampus saya, terutama- menggunakan bahasa Indonesia. Padahal ketika dulu saya masih menjadi Menkominfo BEM, saya berupaya untuk terus membumikan bahasa Indonesia di tanah sendiri dengan belajar promosi menarik lewat bahasa Indonesia. Namun kini, jarkom-jarkom tentang promosi acara lebih banyak dihiasi frasa, “Are you excited already for today?” daripada “Siapkah dirimu untuk acara hari ini?”. Variasi, katanya, tapi variasi kok semuanya?
Menggunakan bahasa asing dalam berkomunikasi formal seperti itu dipandang keren oleh banyak kalangan. Tapi, menurut saya, stereotip tersebut tidaklah relevan dengan kondisi terkini. Bahasa asing, terutama bahasa Inggris, dewasa ini harusnya dipandang bukan lagi sebagai sesuatu yang meningkatkan gengsi, tapi sudah jadi kebutuhan pokok. Masing-masing dari kita ada yang sedang, sudah, dan akan berkiprah di luar negeri yang tentunya membutuhkan kemampuan berbahasa asing. Jadi, sebetulnya ‘menunjukkan diri’ bisa berbahasa asing itu tidak lagi keren, tapi sudah menjadi kewajiban.

Sekian banyak budaya yang terenggut, hutan-hutan yang kian gundul, wilayah-wilayah yang dicaplok negara lain, bahasa Indonesia pun kian hari kian asing di negeri sendiri. Sebagai suatu bangsa, masihkah kita punya identitas dan wibawa di mata bangsa lain? Dan sebagai pemuda, masihkah ingat janji akan menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia? 
Karena saya merindu, pada bahasa Indonesia yang dipelajari di negara lain, tapi mulai asing di negeri sendiri...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Dea Alfi Fauzan