Breaking News

Minggu, 12 Juli 2015

Gelisah

Gelisah,

Kata yang mungkin paling tepat menggambarkan perasaan saya saat ini. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Gelisah diartikan sebagai tidak tenteram, selalu merasa khawatir, tidak tenang, tidak sabar lagi dalam menanti, cemas. Tidak tenteram, karena geliat Ramadhan tak lagi (terlalu) terasa, menguap seperti embun yang hilang ketika siang menjelang. Khawatir karena semangat orang berpuasa seakan luntur bak mencuci pakaian warna disertai pemutih. Cemas karena takut hal ini lantas berlanjut dan bahkan semakin parah nantinya.

Saya tidak bermaksud sok suci. Tulisan ini juga tidak bertendensi untuk menghakimi, yang katanya hanya boleh dilakukan oleh Tuhan. Hanya Tuhan yang paling tahu, bagaimana sebenarnya hidup seseorang. Hanya Tuhan yang berhak menilai sesuatu itu baik atau buruk.

“Tapi, bukankah Tuhan memberikan kita akal untuk berpikir? Menurunkan kitab suci agar hendaknya kita pelajari? Maka bukankah jelas apabila sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan itu bisa dikatakan salah?”  

Namun tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membahas itu semua, membahas ke-berhak-an manusia menilai lalu menghakimi, tapi dari tulisan ini saya hanya ingin menyampaikan satu hal: kegelisahan.

Dulu, kala berjalan melintasi jalanan siang hari saat bulan puasa, hampir tak ada warung yang buka (kalaupun buka pasti ditutup rapat-rapat), tukang es krim yang berkeliling, abang-abang bakso yang mengetuk-ngetuk mangkuk tanda menawarkan dagangannya. Tapi kini, semua lazim. Seperti bulan-bulan biasa, tidak ada yang istimewa.

Dulu, hampir tidak pernah saya melihat siang bolong orang merokok, minum sirup, sambil tertawa-tawa di pinggir jalan. Namun kini, semua terjadi begitu mudah. Atau bahkan sambil berkendara lantas mengisap rokoknya dengan wajah tanpa tergurat malu.

“Mungkin saja mereka beragama lain, bukan? Jangan manja, deh. Tak usah mengemis penghormatan dari minoritas!”

Betul memang. Tapi sayangnya, beberapa (yang melakukannya) saya kenali. Dan tiap tahun mereka ikut berlebaran, ujian agama Islam waktu sekolah, dan meski tak pernah melihat tanda pengenalnya, saya meyakini kalau mereka masih (mengaku) Islam.

Apabila diperhatikan, makin tahun, semua ini makin menjadi. Yang tadinya hanya tukang es krim berseliweran, sekarang ditambah tukang siomay, bakso, dan cilok. Jika dulu warung-warung tutup siang hari, lalu menutup jendela dan pintu dengan kain, sekarang terang-terangan buka. Jika dulu orang masih ngumpet apabila dirinya tidak berpuasa, sekarang mereka dengan nyamannya menunjukkan batang hidung.

Saya tidak tahu kenapa saya gelisah. Ya, gelisah saja. Takut tahun depan tambah parah, tahun depannya lagi makin parah, hingga nantinya tidak ada satu pun yang menyadari kalau sedang kedatangan sesuatu istimewa bernama Ramadhan.

Tidak ada yang salah memang dengan pernyataan menteri Agama, yang mengutarakan kalau orang yang berpuasa harus menghormati yang tidak berpuasa. Tapi mungkin ada yang kurang, Pak. “Begitu pun sebaliknya, orang yang tidak berpuasa menghormati yang berpuasa. Saling menghormati dan menghargai,” Itu saja tambahannya. Cukup.

Sebab gelisah adalah rasa yang mesti diungkap. Tidak ada yang bisa membatasi, karena katanya negeri ini melindungi hak asasi. 

Sama seperti cinta.
Read more ...

Selasa, 07 Juli 2015

Negeri (Penonton) Sepak Bola


Masih segar dalam ingatan bagaimana diri terperangah menyaksikan tim yang membawa nama bangsa ditumpas habis oleh negara-negara yang dulu masih sering kita kalahkan. Timnas sama sekali tidak berdaya, bermain tanpa pola, dan acapkali melakukan kesalahan-kesalahan yang sebetulnya tidak perlu dilakukan. Tim ini seperti kalah kelas dibanding lawan-lawannya di fase akhir tersebut. Permainan yang ‘ganteng maksimal’ gagal diperlihatkan penggawa Garuda Muda di babak Semifinal dan perebutan medali perunggu.
Berbagai alibi disampaikan oleh orang yang mengatakan dirinya paling bertanggung jawab atas kegagalan Timnas, sang arsitek tim Aji Santoso. Hilangnya fokus pemain buah kisruh yang tak kunjung usai, rasa lelah yang menghinggapi pemain, merupakan beberapa alasan yang ditengarai sebagai musabab kekalahan telak Timnas atas Thailand dan Vietnam. 
 
Timnas yang tertunduk lesu usai dikalahkan Thailand, 0-5 (Liputan6.com)
 Jika ditarik mundur, rasa-rasanya prestasi Garuda Muda terakhir yang cukup membanggakan adalah ketika berhasil menjuarai Piala AFF U-19 2013. Kala itu, timnas bermain dengan semangat yang berapi-api, bermain cantik, dan penuh determinasi. Sayangnya, prestasi tersebut tidak berlanjut di gelaran Piala Asia U-19. Lagi-lagi timnas gagal total. Tercatat tiga kekalahan mewarnai tiga pertandingan di fase grup dan memaksa Evan Dimas cs. angkat koper lebih awal, masing-masing oleh Uzbekistan (1-3), Australia (0-1), dan di laga penutup dihancurkan Uni Emirat Arab (1-4). Mimpi melaju ke Piala Dunia U-20 pun sirna. Malah Myanmar yang berhasil mencapai semifinal dan akhirnya mencapai Piala Dunia U-20 yang baru-baru ini dilaksanakan di Selandia Baru.
Timnas Senior? Ah, butuh waktu yang lebih lama untuk mengatakan timnas senior mencatat prestasi membanggakan. Bagi saya, Piala Asia 2007 adalah pencapaian terbaik Timnas dalam 10 tahun terakhir. Meski gagal melaju ke fase gugur, bergabung di grup berat bersama duo raja sepak bola Asia saat itu (Arab Saudi & Korea Selatan) dan berada di peringkat ketiga adalah sebuah prestasi yang membanggakan. Terlebih, timnas berhasil menjungkalkan Bahrain di laga pertama, 2-1. Piala AFF? Memang Irfan Bachdim dkk. bisa mencapai final, akan tetapi setelah bermain apik di pertandingan-pertandingan sebelumnya, timnas gagal memperlihatkannya pada partai puncak dan akhirnya gagal merengkuh gelar.

Hanya Penonton

Jangan sesekali meragukan atmosfir sepak bola Indonesia. Seni lapangan hijau ini adalah primadona di tanah air. Tua, muda, laki-laki, maupun perempuan menggandrungi olahraga semiliar umat ini. Manakala klub lokal maupun tim nasional bertanding, stadion akan segera penuh sesak. Bahkan berjam-jam sebelum pertandingan berlangsung!
Negeri ini adalah salah satu pasar terbesar di dunia sepak bola. Klub-klub elit Eropa silih berganti hadir untuk merasakan atmosfir sepak bola Indonesia. Pemain elit Eropa seolah berlomba untuk mengatakan bahwa atmosfir stadion sepak bola di Indonesia sangatlah luar biasa. Terbaru, meski tengah di sanksi FIFA, AS Roma masih diupayakan untuk bisa bermain di Gelora Bung Karno. Suporter yang tengah haus pertandingan, tentu sangat senang jika hal ini bisa direalisasikan. Terlebih fans AS Roma di tanah air.
Namun, kepandaian rakyat Indonesia dalam menonton sepak bola sepertinya tidak bisa (kembali) dijewantahkan dalam bermain. Tim sepak bola kita tak kunjung digdaya, apalagi bermimpi untuk kembali jadi Macan Asia. Bahkan, dengan Myanmar yang dulu sering kita bantai pun, sekarang sudah tertinggal. Orang-orang yang mengurusi sepak bola tanah air seperti kedap kritik, masuk telinga kiri dan keluar di telinga kanan. Kita hanya bisa mengingat sejarah bahwa kita pernah berjaya, tapi sulit untuk mengulanginya. 

Revolusi Total!

Saat ini Indonesia tengah di sanksi oleh induk sepak bola dunia, FIFA. Persyaratan pencabutan yang salah satunya mengharuskan Menpora untuk segera mencabut SK Pembekuan PSSI sepertinya masih jauh panggang daripada api. Sang menteri bergeming, seolah enggan memberikan kesempatan kedua kepada PSSI yang dinilai telah gagal total dalam mengelola sepak bola nasional.
Pengucilan Indonesia dari dunia Internasional di bidang sepak bola tentu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Betapa pun, sudah saatnya tim nasional dan klub lokal berbicara lebih jauh di kancah Internasional. Keadaan sepak bola nasional yang sedang mati suri mesti dihidupkan kembali. Ada jutaan orang yang menggantungkan hidupnya pada cabang olahraga yang satu ini.
Sanksi sudah tiba, kini saatnya untuk menagih janji Menpora Imam Nachrawi. Pembenahan menyeluruh yang dijanjikan mesti segera dimulai. PSSI baru yang di gadang-gadang segera hadir, harus segera direalisasikan. Pasalnya, sudah banyak pihak yang menanti penyelesaian kisruh berkepanjangan ini. Pemain sudah kehabisan tabungan untuk menafkahi anak istri. Penonton sudah merindukan hiburan yang menjadi teman kala gundah menghadang. Semua sudah rindu, sepak bola Indonesia kembali digdaya seperti dulu. Jangan sampai angan menjadi negeri sepak bola hanya sampai pada fase negeri penonton bola.
Read more ...
Designed By Dea Alfi Fauzan