Breaking News

Minggu, 22 Maret 2015

RASA SAKIT KETIKA KALAH, KEMBALILAH!

Sumber Gambar

“… As the reds go marching on on on” petikan lagu Glory – Glory Manchester United itu dahulu sering menggema dalam kamar. Update-an lawas di media sosial pun tak lepas dari pengaruh kejayaan Setan Merah. Saya sangat bangga, meski hanya sebagai fans biasa, yang menonton di Old Trafford pun belum bisa. Tapi itu dulu, ketika United masih berjaya.
Betapa tidak, United menjadi tim yang sangat sulit dikalahkan di daratan Britania, bahkan Eropa. Era Sir Alex Ferguson yang menjabat sebagai manajer tim selama 26 tahun berpengaruh pada saya dan juga (mungkin) fans – fans lainnya. 20 gelar Liga Inggris menjadi bukti bagaimana digdaya-nya United di tanah Ratu Elizabeth. 3 Gelar Liga Champions juga sudah lumayan memberikan bukti bahwa United juga salah satu tim hebat di Benua Biru.

Dua tahun yang lalu, setelah memberikan gelar ke-20 bagi Manchester United, Sir Alex akhirnya memutuskan untuk pensiun. Sudah 26 tahun dia mengabdi untuk United, dan mungkin memang sudah saatnya ia beristirahat di rumah serta menghabiskan waktu bersama keluarga. Alih – alih, saat ini Sir Alex ternyata masih saja sibuk dalam dunia sepakbola, padahal alasan ia pensiun dulu adalah ingin banyak waktu untuk keluarga, dan menonton United di TV rumah saja. Tapi ternyata ia masih menonton United di stadion, bahkan tertidur ketika permainan United membosankan. Hal ini pula yang (mungkin) mendasari beberapa suara dari fans untuk kembalinya Sir Alex, terutama setelah fans United lupa rasanya sakit ketika dikalahkan.

Sir Alex menunjuk David Moyes untuk menggantikannya dua tahun lalu. Moyes pun mendapatkan tim warisan yang baru saja meraih gelar juara. Senyum merekah terlihat jelas dari wajahnya di awal perjalanan, memperlihatkan bagaimana ia sangat percaya diri menjadi suksesor Opa Fergie. Namun senyum lebar nan ikhlas itu mulai berubah ketika ia sulit mendapatkan pemain. Skuad yang kurang seimbang membuat ia harus berburu pemain, terutama pemain belakang. Ia sangat sulit mendapatkan pemain buruannya, entah siapa yang salah. Padahal United adalah tim juara bertahan yang seharusnya mudah menggaet pemain berkualitas. Praktis hanya Marouane Fellaini yang berhasil ditarik, itu pun karena ia adalah mantan anak asuh Moyes. Senyum Moyes pun mulai dipaksakan.

Cahaya wajahnya semakin meredup, semangat berapi – apinya mulai tersiram air hujan. United bermain amburadul, semangat juang pemain hilang, salah oper kerap terjadi, dan tentu bermuara pada berbagai kekalahan yang mendera. Keyakinannya di awal tak terbukti pada medan perang sesungguhnya. Skuad United, yang biasanya ngotot, di era Moyes menjadi loyo, tak punya visi bermain, dan (seperti) tidak ingin menang. Moyes akhirnya di depak dari kursi kepelatihan sebelum musim berakhir, dan United secara menyedihkan berada di posisi 7 serta gagal melaju ke kompetisi Eropa.

Musim selanjutnya, United menunjuk Louis Van Gaal. Pelatih berpengalaman ini diharapkan mampu membangkitkan United dari keterpurukan. Dana besar digelontorkan, United yang tidak bermain di Liga Champions tentu harus mengeluarkan uang banyak agar bisa menggaet pemain berkualitas. Tak tanggung – tanggung, Angel Di Maria, Marcos Rojo, Ander Herrera, Daley Blind, Radamel Falcao mampir ke skuad United untuk mengisi kekurangan yang ada. Banyak pihak menilai kalau Van Gaal tidak jeli ketika gagal membeli pemain belakang tangguh setelah hengkangnya Vidic, Ferdinand, dan Evra. Daley Blind dan Marcos Rojo belum lah cukup.

Van Gaal yang mengemban misi di musim pertama untuk mengembalikan United ke Liga Champions pun mengalami ganjalan di laga pertama. Setan Merah dikalahkan Swansea City di kandang sendiri. Selanjutnya permainan United pun masih inkonsisten, kadang bagus, sering buruk. Walaupun sudah mulai membaik, kekurangan di lini belakang tetap menjadi sorotan. Andai tak punya David De Gea, yang bermain gemilang sepanjang musim, mungkin United masih terlempar dari Big Four. United kerap kali menang dengan beruntung karena tak kebobolan saat gawangnya terus digempur. Mungkin Van Gaal masih perlu waktu, tetapi kembalinya United bermain di Liga Champions harus tercapai musim ini. Kembalikan waktu begadang kami, Elpiji!


Praktis setelah era Sir Alex, saya menjadi lupa sakitnya menderita kekalahan. Saya memang bukan fans sejati, karena bagi saya United hanyalah sekedar klub bola dan hiburan semata. Bully yang diterima pun kadang tak saya pedulikan, apalagi setelah United kalah terus. Tetapi mungkin hikmahnya, saya menjadi lebih menghargai kemenangan, menghargai tim lawan, bagaimana pun kualitasnya, tetap membahayakan bagi Setan Merah. Semoga kami segera ingat sakitnya kalah ya, Van Gaal! Jangan jadi Van Gagal :)
Read more ...

Jumat, 20 Maret 2015

SEMOGA KEMBALI JUARA

Masih saja terngiang dalam ingatan ketika Kiper Persib, I Made Wirawan menggagalkan tendangan Nelson Alom pada tendangan ke empat, lalu berikutnya Jupe, sapaan akrab Ahmad Jufrianto berhasil menceploskan bola ke gawang yang di kawal Dede Sulaeman. Luar Biasa sekali rasanya, bisa merasakan langsung gelar juara yang (sebelumnya) hanya bisa di dengar dan di baca dari cerita orang yang telah merasakannya. Tak terasa getir haru membuat air mata mengalir bahagia. Iya, Persib (akhirnya) JUARA!

Terlepas dari apapun caranya–asalkan halal, tentunya-, saya sendiri sebetulnya tidak peduli dengan format kompetisi, juara karena adu penalty, atau apapun. Banyak supporter rival, yang mengatakan kalau Persib Juara karena keberuntungan semata, karena format kompetisinya yang setengah kompetisi, lalu ada pula yang mengatakan karena mafia. Saya hanya bisa tertawa saja mendengar ocehan mereka, toh saya pikir itu hanya ungkapan iri dengki saja. Bukankah seorang yang iri akan selalu mencari alasan ketika “musuh”-nya mendapat kejayaan? Yang penting sudah terbukti, bahwa tahun lalu merupakan tahun kejayaan Persib.

Persib Juara! Palembang, 07-11-2014
Tetapi, lupakan dulu euforia Juara kemarin. Terlalu lama terlena dalam euforia pun tentunya tidak baik dan bisa jadi bumerang. Musim kompetisi baru sudah di depan mata (bahkan AFC Cup sudah dimulai). Meski ISL tertunda karena tim – tim lain masih belum menyempurnakan dokumen pelengkap sebagai klub yang (katanya) professional, tetapi pematangan persiapan harus terus dilakukan. Saya tidak ingin tulisan ini terlampau jauh terlibat dalam perseteruan BOPI – PT. Liga, biarkan itu terus berjalan. Tulisan ini akan fokus di Persib saja.

Tidak Banyak Rombakan

Satu hal yang cukup menggembirakan dari persiapan tahun ini adalah tidak banyaknya pemain keluar ataupun masuk. Praktis hanya kepergian Ferdinand Sinaga yang kepergiannya disesali banyak pihak, termasuk tim pelatih. Coulibaly? Ah, dia tak banyak berkontribusi musim lalu. Terlepas dari 8 gol yang ia ciptakan selama satu musim kompetisi kemarin, Djibril lebih banyak mengisi hangatnya bangku cadangan. Ia memiliki cedera kambuhan, yang membuat ia seperti takut untuk berduel dengan pemain belakang lawan. Padahal dengan ciri khas permainan Persib yang seharusnya memiliki pemantul di lini depan, Coulibaly seharusnya berani untuk berduel dan menahan bola di depan, sembari menunggu lini kedua datang. Hal ini yang tidak ia lakukan musim lalu, membuat dia banyak kehilangan bola dan malah menjadi ‘pamaeh’. Dari alasan tersebut bisa disimpulkan bahwa kehilangan sosoknya tidak harus ditangisi.

Kembalinya pemain – pemain ‘putra daerah’ juga layak diapresiasi. Dedi Kusnandar dan Yandi Sofyan adalah dua orang pemain binaan Persib Junior. Mereka melanglang buana mencari jam terbang dan setelah merasa siap akhirnya mau kembali ke pangkuan ‘Ibu’-nya. Hal ini tidak terlepas dari dipertahankannya Djadjang Nurjaman sebagai pelatih Persib. Sebagai putra daerah, tentunya ia pun berkeinginan mengembalikan pemain – pemain yang dulunya dibina Persib. Ya, diawali dari dua pemain ini.

Seleksi Penyerang Asing, Sampai Kapan?

 Djanur, Pelatih Persib saat ini lebih dikenal sebagai tukang PHP. Bagi beberapa pemain yang menurut Bobotoh bagus, ia awalnya juga mengatakan demikian. Kim Shin Young yang pertama. Ia digadang – gadang akan bisa mengisi kekosongan penyerang asing. Lalu setelah pulang dari Hanoi, Djanur mengatakan kalau Kim ternyata tak sesuai Kriteria. Begitu pula yang dilakukannya kepada pemain lain, Appolon yang terbaru. Bahkan untuk Maycon, ia harus sampai seleksi lebih dari satu bulan mengikuti latihan tanpa kontrak yang pasti, dan akhirnya pun harus dicoret. Koh Traore? Haha, ia adalah yang ditunggu – tunggu oleh semua pihak, tak terkecuali Djanur. Tapi ternyata, hanya 20 menit bermain Djajang sudah bisa menyimpulkan, seperti yang lain, ia pun dicoret.

Tercatat sudah 14 pemain yang mengikuti seleksi, dan semuanya dipulangkan. Entah sampai kapan seleksi ini akan bermuara pada satu penyerang yang diidamkan oleh Tim Pelatih maupun Bobotoh. Terbaru adalah Appolon Lemondzhava, yang bahkan ia telah ikut berbaur dengan Bobotoh dalam merayakan Miangkala Persib ke-82 tahun. Tapi nasibnya sama seperti (beberapa) yang lain, di awal diberikan harapan untuk bergabung, tapi akhirnya diberi alasan untuk dipulangkan. Alasannya pun klasik, kalau tidak sesuai kriteria, ya tidak masuk kualifikasi yang telah ditetapkan Liga. Begitu terus siklusnya, ulang, dan ulang lagi. Kalau PanditFootball mengatakan ada tiga rahasia Tuhan, bolehlah saya menambahkan satu menjadi empat. Jodoh, Kematian, Final Inter Island Cup, dan Berakhirnya Seleksi Penyerang Persib.

Panditfootball.com telah memberikan rekomendasi dalam artikelnya mengenai beberapa pemain yang layak dan dirasa cocok untuk berbaju Maung Bandung. Dalam panditfootball.com/taktik/seperti-ini-penyerang-yang-layak-diburu-oleh-persib-bandung/ mereka merekomendasikan Edward Wilson untuk Persib. Entah Djanur sempat membaca atau tidak, analisis yang mendalam dari PanditFootball telah menjelaskan secara gamblang, dan saya pun setuju. Secara umum, untuk seluruh klub di Indonesia, mereka juga merekomendasikan 10 pemain yang semuanya mempunyai kualitas.

Sebagai klub yang profesional dan sehat secara finansial, sepatutnya tim sekelas Persib harus sudah mulai meninggalkan kebiasaan tim di Indonesia yang menunggu seorang pemain berstatus bebas transfer untuk merekrutnya. Beranilah ‘bermain’ dalam bursa untuk mendapatkan pemain yang dibutuhkan. Logika awam pun mengatakan kalau pemain yang tidak memiliki klub (bebas transfer) tentunya ‘dibuang’ oleh klub lamanya setidaknya karena dua hal, pertama karena sudah tidak cocok, kedua karena butut. Ya, begitulah.

Perbaiki Kekurangan

Dalam mengarungi kompetisi tahun ini, Pangeran Biru akan mengarungi tiga kompetisi (semoga yang dua jadi, ya). Yang pertama adalah yang sedang dijalani saat ini, AFC Cup, lalu ISL yang masih tarik ulur antara PSSI – BOPI – Klub, dan Piala Indonesia. Tentunya sebagai Bobotoh saya berharap Persib juara di ketiganya. Dan kalau pun tidak, semoga di salah satu atau dua. Mempertahankan gelar ISL adalah prioritas utama, karena jika itu terlaksana, maka Persib akan menjadi tim pertama yang mampu juara dua kali berturut – turut.

Untuk Piala AFC dan Piala Indonesia, juga harus dijalani dengan serius. Terlebih di AFC Cup, Persib membawa nama negara sebagai tim yang mewakili. Sudah tentu akan di dukung oleh seluruh rakyat Indonesia (kecuali oknum kali, ya). Melajulah sejauh – jauhnya, syukur – syukur bisa juara.

Dalam beberapa pertandingan, terlihat sekali kalau Persib sangat membutuhkan Striker yang haus gol. Banyak sekali peluang terbuang sia – sia, sehingga harusnya kemenangan bisa di dapat, malah gagal. Atau bisa menang dengan skor telak, tapi karena finishing touch yang buruk, menjadi menang dengan skor tipis saja. Kebutuhan akan Striker menjadi mutlak segera.

Lalu untuk masalah transisi dari menyerang ke bertahan, dalam pertandingan melawan Lao FC juga terlihat Persib sering kewalahan menghadapi serangan balik yang dilancarkan lawan. Beberapa kali lawan mengancam, untung saja mereka (juga) buruk penyelesaian akhirnya. Dan untuk pertandingan di Myanmar, menghadapi perwakilan Myanmar (tidak saya sebutkan nama klubnya karena susah) terlihat stamina Persib drop di babak kedua dan sering kecolongan karena transisi yang buruk. Masalah stamina dan adaptasi cuaca juga harus menjadi sorotan dan diselesaikan.


Semoga momen 07-11-2014 bisa terulang di 2015. Sudah lelah menunggu 19 tahun, sekarang biarkan kami terbiasa oleh yang namanya Juara. Semoga ya, Sib. :)  
Read more ...

Selasa, 17 Maret 2015

BERJUANGLAH, PARA PEJUANG!

Tahun ini, merupakan tahun pertama saya menginjakan kaki pada usia kepala dua. Kenyataan yang takkan bisa dipungkiri, dan harus dilalui terus demi mencapai apa yang telah diangankan sejak lama. Momentum dimana harus segera meninggalkan tingkah polah kekanak-kanakan yang masih sering saya lakukan dengan sengaja ataupun tidak. Dan tahun ini pula, adik-adik saya, Dadang, Majid, Nandang, Timun, Ela, Cicih, Dianty, Idah, Erna, Mimin, Dian, Aam, Nia, Dita, Aas dan rekan-rekan seluruh angkatannya (yang tentu tak bisa saya sebut satu per satu) akan berjuang menempuh hidup baru –tapi jangan dulu nikah ya- menuju masa depannya.

“Merantaulah, maka kau akan mendapat pengganti kawan” – Imam Syafi’i dalam cover book trilogi Negeri Lima Menara yang membuat saya mantap menatap tanah rantau yang saat ini sedang dijalani. Perlu dipahami bahwa ‘pengganti kawan’ yang dimaksud adalah bukan berarti kawan yang lama terlupa begitu saja, akan tetapi bahwa kalian tidak perlu takut akan kehilangan kawan karena bertambahnya teman adalah sebuah keniscayaan.

Menjalani masa-masa seperti yang kalian hadapi saat ini adalah fase paling menarik yang pernah saya hadapi sejauh ini. Saingan kalian sangatlah banyak, apalagi saya baca bahwa saat ini pendaftar SNMPTN mencapai 850ribu orang, bisa dibayangkan bahwa kalian bersaing melawan ratusan ribu orang tersebut. SNMPTN sendiri mungkin masih jadi primadona di Bojongmangu, karena ketika bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri tanpa tes itu adalah sesuatu yang sangat nikmat. Pengalaman – pengalaman terdahulu dari kakak kelas adalah visualisasi nyata tak terbantahkan.

Danboo aja berjuang, masa kalian nggak
Sumber gambar : my-sphire.blogspot.com
Akan tetapi, yang perlu kalian ingat adalah jangan pernah menggantungkan harapan terlalu tinggi pada jalur yang satu ini. Seperti harapan – harapan lainnya, pabila digantungkan terlalu tinggi akan menjadi hal yang sangat menyakitkan kalau tak dapat digapai. Anggap saja fase ini sebagai fase “nyabut” yang kalian harus memilih satu dari ratusan ribu kertas yang ada atau malah lempar dadu dengan ratusan ribu mata dadu dan hanya satu yang tertulis nama kalian, yang artinya apabila kalian berhasil mendapatkannya pun itu adalah suatu keberuntungan. Ya, tes ini hanya untung – untungan. Bukankah tidak pernah panitia mengatakan secara gamblang kriteria penilaiannya? Rapor, nilai UN, Sertifikat Prestasi, dan lain sebagainya bukankah hanya (setidaknya menurut saya) prediksi belaka padahal kenyataan di dalam penilaian tersebut tidak pernah dibuka secara transparan? Sekali lagi, anggaplah ini hanya undian. Tapi kalian harus tetap ikut, karena mana tahu keberuntungan ada di pihak kalian. Meskipun jalur ini bukan jalan saya :D

Tetapi jika kalian tidak beruntung, ada lagi jalur lain untuk menuju PTN, yakni SBMPTN. Di jalan yang lebih ‘pasti’ ini kalian harus mengerahkan kemampuan sendiri dalam sebuah tes tertulis. Di jalur ini kalian mesti mengerahkan kemampuan terbaik kalian untuk bisa lolos, dan kriteria penilaiannya pun lebih jelas ketimbang jalur SNMPTN. Akan tetapi, saingan kalian bukan hanya orang – orang seangkatan seperti SNMPTN, tetapi juga (kalau tidak berubah aturannya) adalah angkatan 2014 dan angkatan saya. Saingan kalian dari angkatan sebelumnya ini biasanya adalah yang tidak lolos pada tahun lalu ataupun yang lolos tetapi diterima di Prodi yang tidak cocok dengannya sehingga ia mencoba untuk tes lagi. Yang harus diwaspadai adalah pengalaman mereka dalam menjalani tes ini, karena tentunya selain pengetahuan terkait materi, pengalaman juga penting dibutuhkan. Banyak kok tulisan – tulisan di blog sebelah yang memuat tips dan trik dalam menjalani tes yang satu ini. Kreatiflah, banyak – banyak mencari informasi. Ini masa depanmu! Dan lewat jalan inilah sekitar 2 tahun yang lalu Alhamdulillah saya diterima di Ilmu Hubungan Internasional, UIN Jakarta.

Selain dua jalur populer di atas, masih ada jalur lain untuk memasuki PTN. Ada beberapa PTN yang menerima mahasiswa lewat jalur mandiri, ya tidak jauh berbeda dengan SBM akan tetapi yang menyelenggarakan hanya PTN yang bersangkutan. Lalu ada pula untuk Perguruan Tinggi Negeri Islam (kalau tidak salah singkatannya PTAIN), biasanya melakukan tes bersama juga. Kalau nggak salah kemarin saya lihat Majid mengunggah kartu tes di Akun Facebook-nya. Iya, itu. Kalau zaman saya dulu namanya SPMB-PTAIN, saya pun sempat mau daftar, akan tetapi urung dilakukan karena sudah diterima SBMPTN.

Naah, masih ada jalur lain untuk mengejar cita – cita (meski mungkin sebelumnya tak terpikirkan sama sekali, ya :D) yaitu tes di Perguruan Tinggi Kedinasan. Setahu saya sudah ada beberapa PTK yang sudah buka saat ini, yakni STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik) dan STSN (Sekolah Tinggi Sandi Negara). Kalau untuk kampus saya sendiri belum ada pengumuman, tapi kabarnya sih tahun ini akan buka karena Direktorat Jenderal Pajak sedang membutuhkan banyak pegawai untuk mencapai target penerimaan pajak yang tiap tahun terus meningkat. Kabar mengenai pengumuman akan langsung saya bagikan, ya itu pun kalau kalian berminat, sih. Hehehe :D

Masuk PTK sendiri bisa menjadi greget tersendiri menurut saya. Peminat PTK tidak pernah sepi, loh. Ini terjadi karena kebanyakan PTK gratis karena dibiayai Negara dan setelah lulus diarahkan untuk bekerja di Kementerian/Lembaga penyelenggara. Jelas menggiurkan, kan? Apalagi di STAN, yang diselenggarakan oleh Kementerian Keuangan. Pendaftar tak kurang dari 100ribu tiap kali USM, dan yang diterima tidak lebih dari 5000 saja. Kalau bisa masuk, ya ada kebanggaan tersendiri dong! :D


Selain dari itu, masih ada jalan lain yakni kuliah di swasta ataupun (seperti kebanyakan yang lain) langsung kerja di Pabrik – pabrik sekitaran Bojongmangu. Bagaimanapun jalannya, yakinlah itu adalah jalan terbaik. Dan apabila sudah diberi jalan, bersungguh – sungguhlah menapakinya. Boleh jadi banyak orang yang menginginkan jalan kalian tetapi tak bisa tercapai, dan kalian termasuk orang yang beruntung. Yakinlah, masa depan sudah disiapkan dengan indah. Hanya perlu perjuangan hebat untuk mencapainya. Karena masa depan tidak sesederhana candaan yang sering kalian tertawakan bersama. Bahkan untuk memancing ikan pun butuh usaha ekstra, bukan? 
Read more ...

Senin, 16 Maret 2015

Catatan Perjalanan: Jogja, Istimewa!

Gerimis rintik-rintik menyambut perjalanan saya menuju Stasiun Bekasi. Kemacetan ‘metropolitan pinggiran’ harus diterjang, karena kebetulan waktu keberangkatan saya bertepatan dengan jam pulang kerja. Bukan rahasia lagi, kalau Bekasi selalu disesaki kendaraan tiap jam pergi dan jam pulang kerja, bahkan jam-jam lain pun seringkali sama. Ya, tak berbeda jauh dengan Jakarta.

Tiba di Bekasi selepas maghrib, saya melanjutkan perjalanan ke Stasiun Pasar Senen dengan menggunakan KRL, lalu tiba sekitar pukul 8 malam. Tiba disana, teman-teman saya yang akan menemani perjalanan ke Jogja belum tiba, bahkan ada yang baru berangkat dari Bintaro. Ah, mungkin saya terlalu bersemangat hingga datang paling dini. Mereka akhirnya datang berbeda waktu, ada yang sekitar pukul setengah 10 malam, ada pula yang pukul 9 malam. 1 jam lebih saya sendiri duduk manis di ruang tunggu.

Akhirnya jam keberangkatan pun tiba. Pukul 22.30 tepat (tumben nggak Delay), kami berangkat menuju Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta. Setelah bercengkrama sesaat, matapun tak kuasa menahan kantuk, akhirnya kami pun terlelap. Saya merasakan bahwa tidur saya tidak nyenyak, bukan karena ingin segera tiba, atau malah kepikiran rumah, tapi karena faktor ‘tempat tidur’ yang tidak nyaman. Kereta ekonomi yang saya tumpangi tentunya tak memiliki tempat duduk senyaman eksekutif sehingga untuk tidur pun agak kurang nyaman. Tetapi tentunya hal ini merupakan hal yang wajar mengingat harga tiket yang saya bayarkan hanya lima puluh ribu rupiah.

Pukul 06.30 saya tiba di Stasiun Lempuyangan. Cuaca mendung syahdu menyambut, tetapi tak menyurutkan langkah kami untuk segera singgah di rumah salah satu rekan kami. Kami berjalan menuju salah satu halte TransJogja—mirip Busway- yang tidak jauh dari Stasiun. Lalu saya naik menuju halte dan membayar tiket. Dan kalian tahu harganya berapa? 3600 rupiah. Bukan angka terdepan yang saya masalahkan terlalu murah atau mungkin terlalu mahal, tapi angka kedua dari depan yang saat ini sudah sulit ditemui. Mungkin pengelola TJ ingin lebih menghargai uang receh. Akhirnya untuk 3 orang saya membayar 11ribu, dan sudah saya tebak bahwa kembaliannya tidak ada. Hingga akhirnya kami mengikhlaskannya. Strategi atau memang betul-betul menghargai uang kecil? Entahlah.

Kami pun tiba di halte depan Monumen Jogja Kembali, kata teman saya itu tidak jauh dari rumahnya. Dan katanya tidak ada angkutan umum yang bisa mengantarkan kami tiba di depan rumahnya. Akhirnya kami sepakat untuk berjalan kaki, dan ternyata tempatnya cukup jauh hingga kami bertiga ngos-ngosan dan sering berhenti, apalagi kami membawa barang-barang bawaan yang cukup berat. Akhirnya setelah hampir 45 menit berjalan, kami pun tiba di tempat tujuan.

Hari pertama di Jogja kami lewati dengan beristirahat sambil memanfaatkan PS2 yang terpasang baik di kamar teman saya. Praktis kami tidak kemana-mana, kecuali ketika sore sedikit berjalan ke arah utara melihat indahnya merapi lebih dekat. Pun ketika malam tiba, rencana kami untuk nongkrong di Nol Kilometer dan berjalan – jalan di Malioboro sirna karena hujan.

Esok harinya kami mengawali perjalanan ke Gunung Kidul, yang katanya memiliki eretan pantai Pasir Putih yang kebanyakan belum terjamah. Karena berangkat agak kesiangan gara – gara pinjaman motor yang terlambat, akhirnya kami tiba pun lebih sore dari yang direncanakan. Dan kami hanya singgah di satu pantai saja, Wediombo namanya. Walaupun kata teman saya asal Jogja pantai ini pantai lama yang sudah sering dikunjungi, akan tetapi saya tetap puas melihat masih beningnya air laut dan putihnya pasir. Pantai ini pun relatif bersih, walau ada beberapa onggokan sampah yang agak sedikit mengganggu. Berbeda dengan kebanyakan pantai yang berada di sekitaran Jakarta yang airnya sudah keruh. Lalu setelah puas berfoto ria, kami merencanakan ingin ke pantai lainnya, namun sayang, kami malah tersesat dan jalan yang kami ikuti membawa kami ke jalan besar sehingga malah menjauhi pantai.
Salah satu sudut pantai Wediombo

Pantai Siung-Wediombo

Kami pun akhirnya memutuskan untuk pulang saja dan di Bukit Bintang kami berhenti sejenak untuk menikmati Jagung Bakar sambil melihat indahnya lampu-lampu yang berkerlap – kerlip. Hanya sekitar 30 menit untuk mengambil foto dan makan jagung, lalu kami melanjutkan perjalanan pulang dan kami langsung beristirahat.
Bukit Bintang, Gunung Kidul


Esoknya kami juga masih terkendala dengan pinjaman motor, hingga akhirnya kami menyewa saja motor. Kami pun baru bisa berangkat menuju Prambanan setelah Shalat Jum’at di Masjid Kampus UGM. Setelah berhenti karena hujan yang sangat deras, kami pun tiba di kompleks Candi Prambanan. Dengan membayar tiket sebesar Rp30.000,- kami pun masuk ke kawasan Candi. Saya sendiri pernah kesini sekitar 10 tahun yang lalu dan sudah banyak perubahan. Kompleks candi menjadi lebih terawat, rapi, dan lebih menarik. Pasalnya, seingat saya pada pertama kali saya berkunjung kesini, kompleks ini masih “amburadul”, tempat tak terlalu menarik, dan lokasi foto pun tak terlalu bagus.
Candi Prambanan


Setelah puas bermain di pelataran candi, masuk ke dalam candi, melihat video tentang Candi, meskipun kehujanan dan sedikit basah – basahan, kami melanjutkan perjalanan pulang. Akan tetapi sebelum pulang, kami mampir dulu di tempat makan khas Jogja. Cuaca yang mendung kembali menghambat kami untuk nongkrong di tempat nongkrong khas Jogja, Nol Kilometer dan sekitaran Malioboro.

Esok harinya kami melanjutkan petualangan menuju Magelang, tepatnya ke Candi Borobudur. Kami berangkat lebih pagi sekarang, karena kebetulan pinjaman motor bisa sudah bisa diambil dari semalam. Kami pun tiba siang hari ketika matahari sudah tepat di atas kepala. Ya begitulah manusia, ketika hujan mengeluh, panas pun tak berbeda. Kami yang lupa membawa air minum agak merasa dehidrasi kala berada di atas Candi.
Candi Borobudur

Saya agak kecewa ketika melihat Borobudur sekarang lebih “tidak alami” dibanding ketika pertama saya kemari, sekitar 10 tahun yang lalu. Ada pegangan tangga di setiap tangga dilewati membuat saya agak kurang nyaman –terlepas dari pegangan itu membantu orang yang sudah renta-. Lalu ada hal yang membuat saya agak terkejut ketika masuk pelataran candi. Arsitektur pelataran setelah pemugaran, mulai dari jalan masuk, Ticket Box, Tiket masuk, toilet, Mushola, Museum, tempat duduk, dan lain – lain di tempat ini begitu mirip dengan yang ada di Prambanan. Mungkin memang satu pengelola.
Adanya pegangan tangga ini membuat Borobudur terlihat kurang alami

Setelah dari Borobudur, kami tiba di rumah sore hari dan berencana (kembali) nongkrong di tempat yang kemarin gagal kami temui. Akan tetapi malam tersebut pun kami gagal lagi, dan lagi – lagi karena hujan. Ah sial, mungkin waktu liburan kami tidak cocok dengan cuaca yang memang masih berada di musim hujan.

Hari minggu, dua hari terakhir kami berada di Jogja, kami pun melanjutkan perjalanan untuk berkeliling kota Jogja. Lalu melanjutkannya ke Museum Gunung Merapi. Museum ini memiliki arsitektur modern dan nyaman untuk dijadikan destinasi wisata ilmu. Banyak pengetahuan yang bisa diambil dari sini, dan tentunya semua museum pun sama. Akan tetapi museum ini adalah salah satu yang terbaik dari beberapa museum yang telah saya kunjungi di waktu sebelumnya. Kalian bisa melihat bagaimana dahsyatnya letusan merapi dari tahun ke tahun, cara warga bertahan dari hal buruk yang bisa menimpa, hingga perjuangan warga sekitar merapi dalam menghindari letusan Merapi.

Tampak depan, Museum Gunung Merapi

Arsitektur Modern Museum Gn. Merapi

Dan akhirnya, di malam terakhir kami di Jogja, kami bisa nongkrong di Nol Kilometer dan berjalan ke Alun Alun Selatan maupun Alun Alun Utara. Saya pun berkesempatan menikmati salah satu makanan khas Jogja, Oseng-Oseng Mercon. Akan tetapi, bagi kalian yang tidak terlalu suka pedas seperti saya, saya sarankan agar tidak mencobanya. Sumpah, saya pun nggak habis! :D

Hari terakhir, kami pun berangkat pagi sekali untuk menikmati Sunrise di Puncak Suroloyo. Pukul 4 pagi kami sudah berangkat, dan sialnya motor yang kami tumpangi kehabisan bensin sehingga di jalan kami harus menunggu hingga SPBU buka, sekitar pukul 5. Sambil shalat Subuh, motor (pinjaman) kami pun akhirnya menerima asupan yang ia butuhkan. Dan kami langsung memacu kendaraan agar bisa menikmati Sunrise. Tapi sayangnya, kami tiba di Suroloyo (dengan mengandalkan GPS) pada pukul 06.15 dan matahari sudah mulai meninggi. Walaupun gagal mendapatkan Sunrise, tapi tidak mengurangi keindahan pemandangan dari sini. Kalian yang datang kesini pasti tidak akan pernah menyesal walaupun harus berjuang melewati kelokan-kelokan ekstrim di jalan menuju Suroloyo. Saya bisa melihat banyak gunung dari sini. Sindoro, Sumbing, Prau, Slamet, dan tentunya Merapi serta Merbabu bisa dinikmati dari sini. Kumpalan awan serta kabut berada di bawah kita. Keren!

Salah satu gunung, dilihat dari Puncak Suroloyo

Puncak Merbabu (kiri) dan Merapi dilihat dari Puncak Suroloyo

Sekitar pukul 9 pagi kami pun pulang dan (kembali) mengandalkan GPS karena masih tidak hapal jalan. Akan tetapi GPS ternyata menuntun kami ke jalan yang salah, sehingga melewati jalan yang seharusnya tidak dilewati (jalan satu arah). Hingga di hari terakhir kami disini, kami pun harus berurusan dengan Polisi. Dua kali sudah saya ditilang dengan alasan yang sama, yang pertama ketika di Purwakarta.


Dan akhirnya kami pun harus meninggalkan kota indah, yang memiliki banyak julukan ini (Kota pelajar, pariwisata, budaya). Kalau boleh meninggalkan sedikit catatan, saya sangat mengagumi kota ini dengan segala keramahan dan keindahannya. Akan tetapi kurangnya transportasi umum semacam Angkot, sedikit menyulitkan kami untuk kemana-mana. Juga dengan beberapa tempat wisata yang hanya bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi terutama motor, itu juga agak sedikit mengganggu. Dan untuk tata letak reklame yang menurut saya sedikit acak-acakan, itu juga cukup mengganggu keindahan kota. Tapi secara umum, kota ini membuat saya ingin kembali kesini, nanti. Semoga Jogja tetap indah, tak tergerus mall – mall besar dan tata letak kotanya lebih baik lagi. JOGJA, ISTIMEWA! 
Read more ...
Designed By Dea Alfi Fauzan