Gerimis
rintik-rintik menyambut perjalanan saya menuju Stasiun Bekasi. Kemacetan ‘metropolitan
pinggiran’ harus diterjang, karena kebetulan waktu keberangkatan saya
bertepatan dengan jam pulang kerja. Bukan rahasia lagi, kalau Bekasi selalu
disesaki kendaraan tiap jam pergi dan jam pulang kerja, bahkan jam-jam lain pun
seringkali sama. Ya, tak berbeda jauh dengan Jakarta.
Tiba
di Bekasi selepas maghrib, saya melanjutkan perjalanan ke Stasiun Pasar Senen dengan
menggunakan KRL, lalu tiba sekitar pukul 8 malam. Tiba disana, teman-teman saya
yang akan menemani perjalanan ke Jogja belum tiba, bahkan ada yang baru
berangkat dari Bintaro. Ah, mungkin saya terlalu bersemangat hingga datang
paling dini. Mereka akhirnya datang berbeda waktu, ada yang sekitar pukul
setengah 10 malam, ada pula yang pukul 9 malam. 1 jam lebih saya sendiri duduk
manis di ruang tunggu.
Akhirnya
jam keberangkatan pun tiba. Pukul 22.30 tepat (tumben nggak Delay), kami
berangkat menuju Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta. Setelah bercengkrama sesaat,
matapun tak kuasa menahan kantuk, akhirnya kami pun terlelap. Saya merasakan
bahwa tidur saya tidak nyenyak, bukan karena ingin segera tiba, atau malah
kepikiran rumah, tapi karena faktor ‘tempat tidur’ yang tidak nyaman. Kereta
ekonomi yang saya tumpangi tentunya tak memiliki tempat duduk senyaman
eksekutif sehingga untuk tidur pun agak kurang nyaman. Tetapi tentunya hal ini
merupakan hal yang wajar mengingat harga tiket yang saya bayarkan hanya lima
puluh ribu rupiah.
Pukul
06.30 saya tiba di Stasiun Lempuyangan. Cuaca mendung syahdu menyambut, tetapi
tak menyurutkan langkah kami untuk segera singgah di rumah salah satu rekan
kami. Kami berjalan menuju salah satu halte TransJogja—mirip Busway- yang tidak
jauh dari Stasiun. Lalu saya naik menuju halte dan membayar tiket. Dan kalian
tahu harganya berapa? 3600 rupiah. Bukan angka terdepan yang saya masalahkan
terlalu murah atau mungkin terlalu mahal, tapi angka kedua dari depan yang saat
ini sudah sulit ditemui. Mungkin pengelola TJ ingin lebih menghargai uang
receh. Akhirnya untuk 3 orang saya membayar 11ribu, dan sudah saya tebak bahwa
kembaliannya tidak ada. Hingga akhirnya kami mengikhlaskannya. Strategi atau
memang betul-betul menghargai uang kecil? Entahlah.
Kami
pun tiba di halte depan Monumen Jogja Kembali, kata teman saya itu tidak jauh
dari rumahnya. Dan katanya tidak ada angkutan umum yang bisa mengantarkan kami
tiba di depan rumahnya. Akhirnya kami sepakat untuk berjalan kaki, dan ternyata
tempatnya cukup jauh hingga kami bertiga ngos-ngosan dan sering berhenti, apalagi
kami membawa barang-barang bawaan yang cukup berat. Akhirnya setelah hampir 45
menit berjalan, kami pun tiba di tempat tujuan.
Hari
pertama di Jogja kami lewati dengan beristirahat sambil memanfaatkan PS2 yang
terpasang baik di kamar teman saya. Praktis kami tidak kemana-mana, kecuali
ketika sore sedikit berjalan ke arah utara melihat indahnya merapi lebih dekat.
Pun ketika malam tiba, rencana kami untuk nongkrong di Nol Kilometer dan
berjalan – jalan di Malioboro sirna karena hujan.
Esok
harinya kami mengawali perjalanan ke Gunung Kidul, yang katanya memiliki eretan
pantai Pasir Putih yang kebanyakan belum terjamah. Karena berangkat agak
kesiangan gara – gara pinjaman motor yang terlambat, akhirnya kami tiba pun
lebih sore dari yang direncanakan. Dan kami hanya singgah di satu pantai saja,
Wediombo namanya. Walaupun kata teman saya asal Jogja pantai ini pantai lama
yang sudah sering dikunjungi, akan tetapi saya tetap puas melihat masih
beningnya air laut dan putihnya pasir. Pantai ini pun relatif bersih, walau ada
beberapa onggokan sampah yang agak sedikit mengganggu. Berbeda dengan
kebanyakan pantai yang berada di sekitaran Jakarta yang airnya sudah keruh.
Lalu setelah puas berfoto ria, kami merencanakan ingin ke pantai lainnya, namun
sayang, kami malah tersesat dan jalan yang kami ikuti membawa kami ke jalan
besar sehingga malah menjauhi pantai.
| Salah satu sudut pantai Wediombo |
| Pantai Siung-Wediombo |
Kami
pun akhirnya memutuskan untuk pulang saja dan di Bukit Bintang kami berhenti
sejenak untuk menikmati Jagung Bakar sambil melihat indahnya lampu-lampu yang
berkerlap – kerlip. Hanya sekitar 30 menit untuk mengambil foto dan makan
jagung, lalu kami melanjutkan perjalanan pulang dan kami langsung beristirahat.
| Bukit Bintang, Gunung Kidul |
Esoknya
kami juga masih terkendala dengan pinjaman motor, hingga akhirnya kami menyewa
saja motor. Kami pun baru bisa berangkat menuju Prambanan setelah Shalat Jum’at
di Masjid Kampus UGM. Setelah berhenti karena hujan yang sangat deras, kami pun
tiba di kompleks Candi Prambanan. Dengan membayar tiket sebesar Rp30.000,- kami
pun masuk ke kawasan Candi. Saya sendiri pernah kesini sekitar 10 tahun yang
lalu dan sudah banyak perubahan. Kompleks candi menjadi lebih terawat, rapi,
dan lebih menarik. Pasalnya, seingat saya pada pertama kali saya berkunjung
kesini, kompleks ini masih “amburadul”, tempat tak terlalu menarik, dan lokasi
foto pun tak terlalu bagus.
| Candi Prambanan |
Setelah
puas bermain di pelataran candi, masuk ke dalam candi, melihat video tentang
Candi, meskipun kehujanan dan sedikit basah – basahan, kami melanjutkan
perjalanan pulang. Akan tetapi sebelum pulang, kami mampir dulu di tempat makan
khas Jogja. Cuaca yang mendung kembali menghambat kami untuk nongkrong di tempat
nongkrong khas Jogja, Nol Kilometer dan sekitaran Malioboro.
Esok
harinya kami melanjutkan petualangan menuju Magelang, tepatnya ke Candi
Borobudur. Kami berangkat lebih pagi sekarang, karena kebetulan pinjaman motor
bisa sudah bisa diambil dari semalam. Kami pun tiba siang hari ketika matahari
sudah tepat di atas kepala. Ya begitulah manusia, ketika hujan mengeluh, panas
pun tak berbeda. Kami yang lupa membawa air minum agak merasa dehidrasi kala
berada di atas Candi.
| Candi Borobudur |
Saya
agak kecewa ketika melihat Borobudur sekarang lebih “tidak alami” dibanding
ketika pertama saya kemari, sekitar 10 tahun yang lalu. Ada pegangan tangga di
setiap tangga dilewati membuat saya agak kurang nyaman –terlepas dari pegangan
itu membantu orang yang sudah renta-. Lalu ada hal yang membuat saya agak
terkejut ketika masuk pelataran candi. Arsitektur pelataran setelah pemugaran,
mulai dari jalan masuk, Ticket Box, Tiket masuk, toilet, Mushola, Museum,
tempat duduk, dan lain – lain di tempat ini begitu mirip dengan yang ada di
Prambanan. Mungkin memang satu pengelola.
| Adanya pegangan tangga ini membuat Borobudur terlihat kurang alami |
Setelah
dari Borobudur, kami tiba di rumah sore hari dan berencana (kembali) nongkrong
di tempat yang kemarin gagal kami temui. Akan tetapi malam tersebut pun kami
gagal lagi, dan lagi – lagi karena hujan. Ah sial, mungkin waktu liburan kami
tidak cocok dengan cuaca yang memang masih berada di musim hujan.
Hari
minggu, dua hari terakhir kami berada di Jogja, kami pun melanjutkan perjalanan
untuk berkeliling kota Jogja. Lalu melanjutkannya ke Museum Gunung Merapi.
Museum ini memiliki arsitektur modern dan nyaman untuk dijadikan destinasi
wisata ilmu. Banyak pengetahuan yang bisa diambil dari sini, dan tentunya semua
museum pun sama. Akan tetapi museum ini adalah salah satu yang terbaik dari
beberapa museum yang telah saya kunjungi di waktu sebelumnya. Kalian bisa
melihat bagaimana dahsyatnya letusan merapi dari tahun ke tahun, cara warga
bertahan dari hal buruk yang bisa menimpa, hingga perjuangan warga sekitar
merapi dalam menghindari letusan Merapi.
| Tampak depan, Museum Gunung Merapi |
| Arsitektur Modern Museum Gn. Merapi |
Dan
akhirnya, di malam terakhir kami di Jogja, kami bisa nongkrong di Nol Kilometer
dan berjalan ke Alun Alun Selatan maupun Alun Alun Utara. Saya pun
berkesempatan menikmati salah satu makanan khas Jogja, Oseng-Oseng Mercon. Akan
tetapi, bagi kalian yang tidak terlalu suka pedas seperti saya, saya sarankan
agar tidak mencobanya. Sumpah, saya pun nggak habis! :D
Hari terakhir, kami pun berangkat pagi sekali untuk menikmati Sunrise di Puncak
Suroloyo. Pukul 4 pagi kami sudah berangkat, dan sialnya motor yang kami
tumpangi kehabisan bensin sehingga di jalan kami harus menunggu hingga SPBU
buka, sekitar pukul 5. Sambil shalat Subuh, motor (pinjaman) kami pun akhirnya
menerima asupan yang ia butuhkan. Dan kami langsung memacu kendaraan agar bisa
menikmati Sunrise. Tapi sayangnya, kami tiba di Suroloyo (dengan mengandalkan
GPS) pada pukul 06.15 dan matahari sudah mulai meninggi. Walaupun gagal
mendapatkan Sunrise, tapi tidak mengurangi keindahan pemandangan dari sini.
Kalian yang datang kesini pasti tidak akan pernah menyesal walaupun harus
berjuang melewati kelokan-kelokan ekstrim di jalan menuju Suroloyo. Saya bisa
melihat banyak gunung dari sini. Sindoro, Sumbing, Prau, Slamet, dan tentunya
Merapi serta Merbabu bisa dinikmati dari sini. Kumpalan awan serta kabut berada
di bawah kita. Keren!
| Salah satu gunung, dilihat dari Puncak Suroloyo |
| Puncak Merbabu (kiri) dan Merapi dilihat dari Puncak Suroloyo |
Sekitar
pukul 9 pagi kami pun pulang dan (kembali) mengandalkan GPS karena masih tidak
hapal jalan. Akan tetapi GPS ternyata menuntun kami ke jalan yang salah,
sehingga melewati jalan yang seharusnya tidak dilewati (jalan satu arah).
Hingga di hari terakhir kami disini, kami pun harus berurusan dengan Polisi.
Dua kali sudah saya ditilang dengan alasan yang sama, yang pertama ketika di
Purwakarta.
Dan
akhirnya kami pun harus meninggalkan kota indah, yang memiliki banyak julukan
ini (Kota pelajar, pariwisata, budaya). Kalau boleh meninggalkan sedikit
catatan, saya sangat mengagumi kota ini dengan segala keramahan dan
keindahannya. Akan tetapi kurangnya transportasi umum semacam Angkot, sedikit
menyulitkan kami untuk kemana-mana. Juga dengan beberapa tempat wisata yang
hanya bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi terutama motor, itu juga agak
sedikit mengganggu. Dan untuk tata letak reklame yang menurut saya sedikit
acak-acakan, itu juga cukup mengganggu keindahan kota. Tapi secara umum, kota
ini membuat saya ingin kembali kesini, nanti. Semoga Jogja tetap indah, tak
tergerus mall – mall besar dan tata letak kotanya lebih baik lagi. JOGJA,
ISTIMEWA!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar