Breaking News

Senin, 16 Maret 2015

Catatan Perjalanan: Jogja, Istimewa!

Gerimis rintik-rintik menyambut perjalanan saya menuju Stasiun Bekasi. Kemacetan ‘metropolitan pinggiran’ harus diterjang, karena kebetulan waktu keberangkatan saya bertepatan dengan jam pulang kerja. Bukan rahasia lagi, kalau Bekasi selalu disesaki kendaraan tiap jam pergi dan jam pulang kerja, bahkan jam-jam lain pun seringkali sama. Ya, tak berbeda jauh dengan Jakarta.

Tiba di Bekasi selepas maghrib, saya melanjutkan perjalanan ke Stasiun Pasar Senen dengan menggunakan KRL, lalu tiba sekitar pukul 8 malam. Tiba disana, teman-teman saya yang akan menemani perjalanan ke Jogja belum tiba, bahkan ada yang baru berangkat dari Bintaro. Ah, mungkin saya terlalu bersemangat hingga datang paling dini. Mereka akhirnya datang berbeda waktu, ada yang sekitar pukul setengah 10 malam, ada pula yang pukul 9 malam. 1 jam lebih saya sendiri duduk manis di ruang tunggu.

Akhirnya jam keberangkatan pun tiba. Pukul 22.30 tepat (tumben nggak Delay), kami berangkat menuju Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta. Setelah bercengkrama sesaat, matapun tak kuasa menahan kantuk, akhirnya kami pun terlelap. Saya merasakan bahwa tidur saya tidak nyenyak, bukan karena ingin segera tiba, atau malah kepikiran rumah, tapi karena faktor ‘tempat tidur’ yang tidak nyaman. Kereta ekonomi yang saya tumpangi tentunya tak memiliki tempat duduk senyaman eksekutif sehingga untuk tidur pun agak kurang nyaman. Tetapi tentunya hal ini merupakan hal yang wajar mengingat harga tiket yang saya bayarkan hanya lima puluh ribu rupiah.

Pukul 06.30 saya tiba di Stasiun Lempuyangan. Cuaca mendung syahdu menyambut, tetapi tak menyurutkan langkah kami untuk segera singgah di rumah salah satu rekan kami. Kami berjalan menuju salah satu halte TransJogja—mirip Busway- yang tidak jauh dari Stasiun. Lalu saya naik menuju halte dan membayar tiket. Dan kalian tahu harganya berapa? 3600 rupiah. Bukan angka terdepan yang saya masalahkan terlalu murah atau mungkin terlalu mahal, tapi angka kedua dari depan yang saat ini sudah sulit ditemui. Mungkin pengelola TJ ingin lebih menghargai uang receh. Akhirnya untuk 3 orang saya membayar 11ribu, dan sudah saya tebak bahwa kembaliannya tidak ada. Hingga akhirnya kami mengikhlaskannya. Strategi atau memang betul-betul menghargai uang kecil? Entahlah.

Kami pun tiba di halte depan Monumen Jogja Kembali, kata teman saya itu tidak jauh dari rumahnya. Dan katanya tidak ada angkutan umum yang bisa mengantarkan kami tiba di depan rumahnya. Akhirnya kami sepakat untuk berjalan kaki, dan ternyata tempatnya cukup jauh hingga kami bertiga ngos-ngosan dan sering berhenti, apalagi kami membawa barang-barang bawaan yang cukup berat. Akhirnya setelah hampir 45 menit berjalan, kami pun tiba di tempat tujuan.

Hari pertama di Jogja kami lewati dengan beristirahat sambil memanfaatkan PS2 yang terpasang baik di kamar teman saya. Praktis kami tidak kemana-mana, kecuali ketika sore sedikit berjalan ke arah utara melihat indahnya merapi lebih dekat. Pun ketika malam tiba, rencana kami untuk nongkrong di Nol Kilometer dan berjalan – jalan di Malioboro sirna karena hujan.

Esok harinya kami mengawali perjalanan ke Gunung Kidul, yang katanya memiliki eretan pantai Pasir Putih yang kebanyakan belum terjamah. Karena berangkat agak kesiangan gara – gara pinjaman motor yang terlambat, akhirnya kami tiba pun lebih sore dari yang direncanakan. Dan kami hanya singgah di satu pantai saja, Wediombo namanya. Walaupun kata teman saya asal Jogja pantai ini pantai lama yang sudah sering dikunjungi, akan tetapi saya tetap puas melihat masih beningnya air laut dan putihnya pasir. Pantai ini pun relatif bersih, walau ada beberapa onggokan sampah yang agak sedikit mengganggu. Berbeda dengan kebanyakan pantai yang berada di sekitaran Jakarta yang airnya sudah keruh. Lalu setelah puas berfoto ria, kami merencanakan ingin ke pantai lainnya, namun sayang, kami malah tersesat dan jalan yang kami ikuti membawa kami ke jalan besar sehingga malah menjauhi pantai.
Salah satu sudut pantai Wediombo

Pantai Siung-Wediombo

Kami pun akhirnya memutuskan untuk pulang saja dan di Bukit Bintang kami berhenti sejenak untuk menikmati Jagung Bakar sambil melihat indahnya lampu-lampu yang berkerlap – kerlip. Hanya sekitar 30 menit untuk mengambil foto dan makan jagung, lalu kami melanjutkan perjalanan pulang dan kami langsung beristirahat.
Bukit Bintang, Gunung Kidul


Esoknya kami juga masih terkendala dengan pinjaman motor, hingga akhirnya kami menyewa saja motor. Kami pun baru bisa berangkat menuju Prambanan setelah Shalat Jum’at di Masjid Kampus UGM. Setelah berhenti karena hujan yang sangat deras, kami pun tiba di kompleks Candi Prambanan. Dengan membayar tiket sebesar Rp30.000,- kami pun masuk ke kawasan Candi. Saya sendiri pernah kesini sekitar 10 tahun yang lalu dan sudah banyak perubahan. Kompleks candi menjadi lebih terawat, rapi, dan lebih menarik. Pasalnya, seingat saya pada pertama kali saya berkunjung kesini, kompleks ini masih “amburadul”, tempat tak terlalu menarik, dan lokasi foto pun tak terlalu bagus.
Candi Prambanan


Setelah puas bermain di pelataran candi, masuk ke dalam candi, melihat video tentang Candi, meskipun kehujanan dan sedikit basah – basahan, kami melanjutkan perjalanan pulang. Akan tetapi sebelum pulang, kami mampir dulu di tempat makan khas Jogja. Cuaca yang mendung kembali menghambat kami untuk nongkrong di tempat nongkrong khas Jogja, Nol Kilometer dan sekitaran Malioboro.

Esok harinya kami melanjutkan petualangan menuju Magelang, tepatnya ke Candi Borobudur. Kami berangkat lebih pagi sekarang, karena kebetulan pinjaman motor bisa sudah bisa diambil dari semalam. Kami pun tiba siang hari ketika matahari sudah tepat di atas kepala. Ya begitulah manusia, ketika hujan mengeluh, panas pun tak berbeda. Kami yang lupa membawa air minum agak merasa dehidrasi kala berada di atas Candi.
Candi Borobudur

Saya agak kecewa ketika melihat Borobudur sekarang lebih “tidak alami” dibanding ketika pertama saya kemari, sekitar 10 tahun yang lalu. Ada pegangan tangga di setiap tangga dilewati membuat saya agak kurang nyaman –terlepas dari pegangan itu membantu orang yang sudah renta-. Lalu ada hal yang membuat saya agak terkejut ketika masuk pelataran candi. Arsitektur pelataran setelah pemugaran, mulai dari jalan masuk, Ticket Box, Tiket masuk, toilet, Mushola, Museum, tempat duduk, dan lain – lain di tempat ini begitu mirip dengan yang ada di Prambanan. Mungkin memang satu pengelola.
Adanya pegangan tangga ini membuat Borobudur terlihat kurang alami

Setelah dari Borobudur, kami tiba di rumah sore hari dan berencana (kembali) nongkrong di tempat yang kemarin gagal kami temui. Akan tetapi malam tersebut pun kami gagal lagi, dan lagi – lagi karena hujan. Ah sial, mungkin waktu liburan kami tidak cocok dengan cuaca yang memang masih berada di musim hujan.

Hari minggu, dua hari terakhir kami berada di Jogja, kami pun melanjutkan perjalanan untuk berkeliling kota Jogja. Lalu melanjutkannya ke Museum Gunung Merapi. Museum ini memiliki arsitektur modern dan nyaman untuk dijadikan destinasi wisata ilmu. Banyak pengetahuan yang bisa diambil dari sini, dan tentunya semua museum pun sama. Akan tetapi museum ini adalah salah satu yang terbaik dari beberapa museum yang telah saya kunjungi di waktu sebelumnya. Kalian bisa melihat bagaimana dahsyatnya letusan merapi dari tahun ke tahun, cara warga bertahan dari hal buruk yang bisa menimpa, hingga perjuangan warga sekitar merapi dalam menghindari letusan Merapi.

Tampak depan, Museum Gunung Merapi

Arsitektur Modern Museum Gn. Merapi

Dan akhirnya, di malam terakhir kami di Jogja, kami bisa nongkrong di Nol Kilometer dan berjalan ke Alun Alun Selatan maupun Alun Alun Utara. Saya pun berkesempatan menikmati salah satu makanan khas Jogja, Oseng-Oseng Mercon. Akan tetapi, bagi kalian yang tidak terlalu suka pedas seperti saya, saya sarankan agar tidak mencobanya. Sumpah, saya pun nggak habis! :D

Hari terakhir, kami pun berangkat pagi sekali untuk menikmati Sunrise di Puncak Suroloyo. Pukul 4 pagi kami sudah berangkat, dan sialnya motor yang kami tumpangi kehabisan bensin sehingga di jalan kami harus menunggu hingga SPBU buka, sekitar pukul 5. Sambil shalat Subuh, motor (pinjaman) kami pun akhirnya menerima asupan yang ia butuhkan. Dan kami langsung memacu kendaraan agar bisa menikmati Sunrise. Tapi sayangnya, kami tiba di Suroloyo (dengan mengandalkan GPS) pada pukul 06.15 dan matahari sudah mulai meninggi. Walaupun gagal mendapatkan Sunrise, tapi tidak mengurangi keindahan pemandangan dari sini. Kalian yang datang kesini pasti tidak akan pernah menyesal walaupun harus berjuang melewati kelokan-kelokan ekstrim di jalan menuju Suroloyo. Saya bisa melihat banyak gunung dari sini. Sindoro, Sumbing, Prau, Slamet, dan tentunya Merapi serta Merbabu bisa dinikmati dari sini. Kumpalan awan serta kabut berada di bawah kita. Keren!

Salah satu gunung, dilihat dari Puncak Suroloyo

Puncak Merbabu (kiri) dan Merapi dilihat dari Puncak Suroloyo

Sekitar pukul 9 pagi kami pun pulang dan (kembali) mengandalkan GPS karena masih tidak hapal jalan. Akan tetapi GPS ternyata menuntun kami ke jalan yang salah, sehingga melewati jalan yang seharusnya tidak dilewati (jalan satu arah). Hingga di hari terakhir kami disini, kami pun harus berurusan dengan Polisi. Dua kali sudah saya ditilang dengan alasan yang sama, yang pertama ketika di Purwakarta.


Dan akhirnya kami pun harus meninggalkan kota indah, yang memiliki banyak julukan ini (Kota pelajar, pariwisata, budaya). Kalau boleh meninggalkan sedikit catatan, saya sangat mengagumi kota ini dengan segala keramahan dan keindahannya. Akan tetapi kurangnya transportasi umum semacam Angkot, sedikit menyulitkan kami untuk kemana-mana. Juga dengan beberapa tempat wisata yang hanya bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi terutama motor, itu juga agak sedikit mengganggu. Dan untuk tata letak reklame yang menurut saya sedikit acak-acakan, itu juga cukup mengganggu keindahan kota. Tapi secara umum, kota ini membuat saya ingin kembali kesini, nanti. Semoga Jogja tetap indah, tak tergerus mall – mall besar dan tata letak kotanya lebih baik lagi. JOGJA, ISTIMEWA! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Dea Alfi Fauzan