Breaking News

Minggu, 22 Maret 2015

RASA SAKIT KETIKA KALAH, KEMBALILAH!

Sumber Gambar

“… As the reds go marching on on on” petikan lagu Glory – Glory Manchester United itu dahulu sering menggema dalam kamar. Update-an lawas di media sosial pun tak lepas dari pengaruh kejayaan Setan Merah. Saya sangat bangga, meski hanya sebagai fans biasa, yang menonton di Old Trafford pun belum bisa. Tapi itu dulu, ketika United masih berjaya.
Betapa tidak, United menjadi tim yang sangat sulit dikalahkan di daratan Britania, bahkan Eropa. Era Sir Alex Ferguson yang menjabat sebagai manajer tim selama 26 tahun berpengaruh pada saya dan juga (mungkin) fans – fans lainnya. 20 gelar Liga Inggris menjadi bukti bagaimana digdaya-nya United di tanah Ratu Elizabeth. 3 Gelar Liga Champions juga sudah lumayan memberikan bukti bahwa United juga salah satu tim hebat di Benua Biru.

Dua tahun yang lalu, setelah memberikan gelar ke-20 bagi Manchester United, Sir Alex akhirnya memutuskan untuk pensiun. Sudah 26 tahun dia mengabdi untuk United, dan mungkin memang sudah saatnya ia beristirahat di rumah serta menghabiskan waktu bersama keluarga. Alih – alih, saat ini Sir Alex ternyata masih saja sibuk dalam dunia sepakbola, padahal alasan ia pensiun dulu adalah ingin banyak waktu untuk keluarga, dan menonton United di TV rumah saja. Tapi ternyata ia masih menonton United di stadion, bahkan tertidur ketika permainan United membosankan. Hal ini pula yang (mungkin) mendasari beberapa suara dari fans untuk kembalinya Sir Alex, terutama setelah fans United lupa rasanya sakit ketika dikalahkan.

Sir Alex menunjuk David Moyes untuk menggantikannya dua tahun lalu. Moyes pun mendapatkan tim warisan yang baru saja meraih gelar juara. Senyum merekah terlihat jelas dari wajahnya di awal perjalanan, memperlihatkan bagaimana ia sangat percaya diri menjadi suksesor Opa Fergie. Namun senyum lebar nan ikhlas itu mulai berubah ketika ia sulit mendapatkan pemain. Skuad yang kurang seimbang membuat ia harus berburu pemain, terutama pemain belakang. Ia sangat sulit mendapatkan pemain buruannya, entah siapa yang salah. Padahal United adalah tim juara bertahan yang seharusnya mudah menggaet pemain berkualitas. Praktis hanya Marouane Fellaini yang berhasil ditarik, itu pun karena ia adalah mantan anak asuh Moyes. Senyum Moyes pun mulai dipaksakan.

Cahaya wajahnya semakin meredup, semangat berapi – apinya mulai tersiram air hujan. United bermain amburadul, semangat juang pemain hilang, salah oper kerap terjadi, dan tentu bermuara pada berbagai kekalahan yang mendera. Keyakinannya di awal tak terbukti pada medan perang sesungguhnya. Skuad United, yang biasanya ngotot, di era Moyes menjadi loyo, tak punya visi bermain, dan (seperti) tidak ingin menang. Moyes akhirnya di depak dari kursi kepelatihan sebelum musim berakhir, dan United secara menyedihkan berada di posisi 7 serta gagal melaju ke kompetisi Eropa.

Musim selanjutnya, United menunjuk Louis Van Gaal. Pelatih berpengalaman ini diharapkan mampu membangkitkan United dari keterpurukan. Dana besar digelontorkan, United yang tidak bermain di Liga Champions tentu harus mengeluarkan uang banyak agar bisa menggaet pemain berkualitas. Tak tanggung – tanggung, Angel Di Maria, Marcos Rojo, Ander Herrera, Daley Blind, Radamel Falcao mampir ke skuad United untuk mengisi kekurangan yang ada. Banyak pihak menilai kalau Van Gaal tidak jeli ketika gagal membeli pemain belakang tangguh setelah hengkangnya Vidic, Ferdinand, dan Evra. Daley Blind dan Marcos Rojo belum lah cukup.

Van Gaal yang mengemban misi di musim pertama untuk mengembalikan United ke Liga Champions pun mengalami ganjalan di laga pertama. Setan Merah dikalahkan Swansea City di kandang sendiri. Selanjutnya permainan United pun masih inkonsisten, kadang bagus, sering buruk. Walaupun sudah mulai membaik, kekurangan di lini belakang tetap menjadi sorotan. Andai tak punya David De Gea, yang bermain gemilang sepanjang musim, mungkin United masih terlempar dari Big Four. United kerap kali menang dengan beruntung karena tak kebobolan saat gawangnya terus digempur. Mungkin Van Gaal masih perlu waktu, tetapi kembalinya United bermain di Liga Champions harus tercapai musim ini. Kembalikan waktu begadang kami, Elpiji!


Praktis setelah era Sir Alex, saya menjadi lupa sakitnya menderita kekalahan. Saya memang bukan fans sejati, karena bagi saya United hanyalah sekedar klub bola dan hiburan semata. Bully yang diterima pun kadang tak saya pedulikan, apalagi setelah United kalah terus. Tetapi mungkin hikmahnya, saya menjadi lebih menghargai kemenangan, menghargai tim lawan, bagaimana pun kualitasnya, tetap membahayakan bagi Setan Merah. Semoga kami segera ingat sakitnya kalah ya, Van Gaal! Jangan jadi Van Gagal :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Dea Alfi Fauzan