![]() |
| Sumber Gambar
“… As the reds
go marching on on on” petikan lagu Glory – Glory Manchester United itu dahulu
sering menggema dalam kamar. Update-an lawas di media sosial pun tak lepas dari
pengaruh kejayaan Setan Merah. Saya sangat bangga, meski hanya sebagai fans
biasa, yang menonton di Old Trafford pun belum bisa. Tapi itu dulu, ketika
United masih berjaya.
|
Betapa tidak,
United menjadi tim yang sangat sulit dikalahkan di daratan Britania, bahkan
Eropa. Era Sir Alex Ferguson yang menjabat sebagai manajer tim selama 26 tahun
berpengaruh pada saya dan juga (mungkin) fans – fans lainnya. 20 gelar Liga
Inggris menjadi bukti bagaimana digdaya-nya United di tanah Ratu Elizabeth. 3
Gelar Liga Champions juga sudah lumayan memberikan bukti bahwa United juga
salah satu tim hebat di Benua Biru.
Dua tahun yang
lalu, setelah memberikan gelar ke-20 bagi Manchester United, Sir Alex akhirnya
memutuskan untuk pensiun. Sudah 26 tahun dia mengabdi untuk United, dan mungkin
memang sudah saatnya ia beristirahat di rumah serta menghabiskan waktu bersama
keluarga. Alih – alih, saat ini Sir Alex ternyata masih saja sibuk dalam dunia
sepakbola, padahal alasan ia pensiun dulu adalah ingin banyak waktu untuk
keluarga, dan menonton United di TV rumah saja. Tapi ternyata ia masih menonton
United di stadion, bahkan tertidur ketika permainan United membosankan. Hal ini
pula yang (mungkin) mendasari beberapa suara dari fans untuk kembalinya Sir
Alex, terutama setelah fans United lupa rasanya sakit ketika dikalahkan.
Sir Alex
menunjuk David Moyes untuk menggantikannya dua tahun lalu. Moyes pun
mendapatkan tim warisan yang baru saja meraih gelar juara. Senyum merekah terlihat
jelas dari wajahnya di awal perjalanan, memperlihatkan bagaimana ia sangat
percaya diri menjadi suksesor Opa Fergie. Namun senyum lebar nan ikhlas itu
mulai berubah ketika ia sulit mendapatkan pemain. Skuad yang kurang seimbang
membuat ia harus berburu pemain, terutama pemain belakang. Ia sangat sulit
mendapatkan pemain buruannya, entah siapa yang salah. Padahal United adalah tim
juara bertahan yang seharusnya mudah menggaet pemain berkualitas. Praktis hanya
Marouane Fellaini yang berhasil ditarik, itu pun karena ia adalah mantan anak
asuh Moyes. Senyum Moyes pun mulai dipaksakan.
Cahaya wajahnya
semakin meredup, semangat berapi – apinya mulai tersiram air hujan. United
bermain amburadul, semangat juang pemain hilang, salah oper kerap terjadi, dan
tentu bermuara pada berbagai kekalahan yang mendera. Keyakinannya di awal tak
terbukti pada medan perang sesungguhnya. Skuad United, yang biasanya ngotot, di
era Moyes menjadi loyo, tak punya visi bermain, dan (seperti) tidak ingin
menang. Moyes akhirnya di depak dari kursi kepelatihan sebelum musim berakhir,
dan United secara menyedihkan berada di posisi 7 serta gagal melaju ke
kompetisi Eropa.
Musim
selanjutnya, United menunjuk Louis Van Gaal. Pelatih berpengalaman ini
diharapkan mampu membangkitkan United dari keterpurukan. Dana besar
digelontorkan, United yang tidak bermain di Liga Champions tentu harus
mengeluarkan uang banyak agar bisa menggaet pemain berkualitas. Tak tanggung –
tanggung, Angel Di Maria, Marcos Rojo, Ander Herrera, Daley Blind, Radamel
Falcao mampir ke skuad United untuk mengisi kekurangan yang ada. Banyak pihak
menilai kalau Van Gaal tidak jeli ketika gagal membeli pemain belakang tangguh
setelah hengkangnya Vidic, Ferdinand, dan Evra. Daley Blind dan Marcos Rojo
belum lah cukup.
Van Gaal yang
mengemban misi di musim pertama untuk mengembalikan United ke Liga Champions
pun mengalami ganjalan di laga pertama. Setan Merah dikalahkan Swansea City di
kandang sendiri. Selanjutnya permainan United pun masih inkonsisten, kadang
bagus, sering buruk. Walaupun sudah mulai membaik, kekurangan di lini belakang
tetap menjadi sorotan. Andai tak punya David De Gea, yang bermain gemilang
sepanjang musim, mungkin United masih terlempar dari Big Four. United kerap
kali menang dengan beruntung karena tak kebobolan saat gawangnya terus
digempur. Mungkin Van Gaal masih perlu waktu, tetapi kembalinya United bermain
di Liga Champions harus tercapai musim ini. Kembalikan waktu begadang kami,
Elpiji!
Praktis setelah
era Sir Alex, saya menjadi lupa sakitnya menderita kekalahan. Saya memang bukan
fans sejati, karena bagi saya United hanyalah sekedar klub bola dan hiburan
semata. Bully yang diterima pun kadang tak saya pedulikan, apalagi setelah
United kalah terus. Tetapi mungkin hikmahnya, saya menjadi lebih menghargai
kemenangan, menghargai tim lawan, bagaimana pun kualitasnya, tetap membahayakan
bagi Setan Merah. Semoga kami segera ingat sakitnya kalah ya, Van Gaal! Jangan
jadi Van Gagal :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar