Masih saja
terngiang dalam ingatan ketika Kiper Persib, I Made Wirawan menggagalkan
tendangan Nelson Alom pada tendangan ke empat, lalu berikutnya Jupe, sapaan
akrab Ahmad Jufrianto berhasil menceploskan bola ke gawang yang di kawal Dede
Sulaeman. Luar Biasa sekali rasanya, bisa merasakan langsung gelar juara yang
(sebelumnya) hanya bisa di dengar dan di baca dari cerita orang yang telah
merasakannya. Tak terasa getir haru membuat air mata mengalir bahagia. Iya,
Persib (akhirnya) JUARA!
Terlepas dari
apapun caranya–asalkan halal, tentunya-, saya sendiri sebetulnya tidak peduli
dengan format kompetisi, juara karena adu penalty, atau apapun. Banyak supporter
rival, yang mengatakan kalau Persib Juara karena keberuntungan semata, karena
format kompetisinya yang setengah kompetisi, lalu ada pula yang mengatakan
karena mafia. Saya hanya bisa tertawa saja mendengar ocehan mereka, toh saya pikir
itu hanya ungkapan iri dengki saja. Bukankah seorang yang iri akan selalu
mencari alasan ketika “musuh”-nya mendapat kejayaan? Yang penting sudah
terbukti, bahwa tahun lalu merupakan tahun kejayaan Persib.
![]() |
| Persib Juara! Palembang, 07-11-2014 |
Tetapi, lupakan
dulu euforia Juara kemarin. Terlalu lama terlena dalam euforia pun tentunya
tidak baik dan bisa jadi bumerang. Musim kompetisi baru sudah di depan mata
(bahkan AFC Cup sudah dimulai). Meski ISL tertunda karena tim – tim lain masih
belum menyempurnakan dokumen pelengkap sebagai klub yang (katanya) professional,
tetapi pematangan persiapan harus terus dilakukan. Saya tidak ingin tulisan ini
terlampau jauh terlibat dalam perseteruan BOPI – PT. Liga, biarkan itu terus
berjalan. Tulisan ini akan fokus di Persib saja.
Tidak Banyak Rombakan
Satu hal yang
cukup menggembirakan dari persiapan tahun ini adalah tidak banyaknya pemain
keluar ataupun masuk. Praktis hanya kepergian Ferdinand Sinaga yang
kepergiannya disesali banyak pihak, termasuk tim pelatih. Coulibaly? Ah, dia
tak banyak berkontribusi musim lalu. Terlepas dari 8 gol yang ia ciptakan
selama satu musim kompetisi kemarin, Djibril lebih banyak mengisi hangatnya
bangku cadangan. Ia memiliki cedera kambuhan, yang membuat ia seperti takut
untuk berduel dengan pemain belakang lawan. Padahal dengan ciri khas permainan
Persib yang seharusnya memiliki pemantul di lini depan, Coulibaly seharusnya
berani untuk berduel dan menahan bola di depan, sembari menunggu lini kedua
datang. Hal ini yang tidak ia lakukan musim lalu, membuat dia banyak kehilangan
bola dan malah menjadi ‘pamaeh’. Dari alasan tersebut bisa disimpulkan bahwa
kehilangan sosoknya tidak harus ditangisi.
Kembalinya
pemain – pemain ‘putra daerah’ juga layak diapresiasi. Dedi Kusnandar dan Yandi
Sofyan adalah dua orang pemain binaan Persib Junior. Mereka melanglang buana mencari
jam terbang dan setelah merasa siap akhirnya mau kembali ke pangkuan ‘Ibu’-nya.
Hal ini tidak terlepas dari dipertahankannya Djadjang Nurjaman sebagai pelatih
Persib. Sebagai putra daerah, tentunya ia pun berkeinginan mengembalikan pemain
– pemain yang dulunya dibina Persib. Ya, diawali dari dua pemain ini.
Seleksi Penyerang Asing, Sampai Kapan?
Djanur, Pelatih Persib saat ini lebih dikenal
sebagai tukang PHP. Bagi beberapa pemain yang menurut Bobotoh bagus, ia awalnya
juga mengatakan demikian. Kim Shin Young yang pertama. Ia digadang – gadang akan
bisa mengisi kekosongan penyerang asing. Lalu setelah pulang dari Hanoi, Djanur
mengatakan kalau Kim ternyata tak sesuai Kriteria. Begitu pula yang
dilakukannya kepada pemain lain, Appolon yang terbaru. Bahkan untuk Maycon, ia
harus sampai seleksi lebih dari satu bulan mengikuti latihan tanpa kontrak yang
pasti, dan akhirnya pun harus dicoret. Koh Traore? Haha, ia adalah yang
ditunggu – tunggu oleh semua pihak, tak terkecuali Djanur. Tapi ternyata, hanya
20 menit bermain Djajang sudah bisa menyimpulkan, seperti yang lain, ia pun
dicoret.
Tercatat sudah 14
pemain yang mengikuti seleksi, dan semuanya dipulangkan. Entah sampai kapan
seleksi ini akan bermuara pada satu penyerang yang diidamkan oleh Tim Pelatih
maupun Bobotoh. Terbaru adalah Appolon Lemondzhava, yang bahkan ia telah ikut
berbaur dengan Bobotoh dalam merayakan Miangkala Persib ke-82 tahun. Tapi
nasibnya sama seperti (beberapa) yang lain, di awal diberikan harapan untuk
bergabung, tapi akhirnya diberi alasan untuk dipulangkan. Alasannya pun klasik,
kalau tidak sesuai kriteria, ya tidak masuk kualifikasi yang telah ditetapkan
Liga. Begitu terus siklusnya, ulang, dan ulang lagi. Kalau PanditFootball
mengatakan ada tiga rahasia Tuhan, bolehlah saya menambahkan satu menjadi
empat. Jodoh, Kematian, Final Inter Island Cup, dan Berakhirnya Seleksi
Penyerang Persib.
Panditfootball.com
telah memberikan rekomendasi dalam artikelnya mengenai beberapa pemain yang
layak dan dirasa cocok untuk berbaju Maung Bandung. Dalam panditfootball.com/taktik/seperti-ini-penyerang-yang-layak-diburu-oleh-persib-bandung/ mereka merekomendasikan Edward Wilson untuk Persib. Entah Djanur sempat membaca
atau tidak, analisis yang mendalam dari PanditFootball telah menjelaskan secara
gamblang, dan saya pun setuju. Secara umum, untuk seluruh klub di Indonesia,
mereka juga merekomendasikan 10 pemain yang semuanya mempunyai kualitas.
Sebagai klub
yang profesional dan sehat secara finansial, sepatutnya tim sekelas Persib
harus sudah mulai meninggalkan kebiasaan tim di Indonesia yang menunggu seorang
pemain berstatus bebas transfer untuk merekrutnya. Beranilah ‘bermain’ dalam bursa
untuk mendapatkan pemain yang dibutuhkan. Logika awam pun mengatakan kalau pemain
yang tidak memiliki klub (bebas transfer) tentunya ‘dibuang’ oleh klub lamanya
setidaknya karena dua hal, pertama karena sudah tidak cocok, kedua karena butut. Ya, begitulah.
Perbaiki Kekurangan
Dalam
mengarungi kompetisi tahun ini, Pangeran Biru akan mengarungi tiga kompetisi
(semoga yang dua jadi, ya). Yang pertama adalah yang sedang dijalani saat ini,
AFC Cup, lalu ISL yang masih tarik ulur antara PSSI – BOPI – Klub, dan Piala
Indonesia. Tentunya sebagai Bobotoh saya berharap Persib juara di ketiganya.
Dan kalau pun tidak, semoga di salah satu atau dua. Mempertahankan gelar ISL
adalah prioritas utama, karena jika itu terlaksana, maka Persib akan menjadi
tim pertama yang mampu juara dua kali berturut – turut.
Untuk Piala AFC
dan Piala Indonesia, juga harus dijalani dengan serius. Terlebih di AFC Cup,
Persib membawa nama negara sebagai tim yang mewakili. Sudah tentu akan di
dukung oleh seluruh rakyat Indonesia (kecuali oknum kali, ya). Melajulah sejauh
– jauhnya, syukur – syukur bisa juara.
Dalam beberapa
pertandingan, terlihat sekali kalau Persib sangat membutuhkan Striker yang haus
gol. Banyak sekali peluang terbuang sia – sia, sehingga harusnya kemenangan
bisa di dapat, malah gagal. Atau bisa menang dengan skor telak, tapi karena finishing touch yang buruk, menjadi
menang dengan skor tipis saja. Kebutuhan akan Striker menjadi mutlak segera.
Lalu untuk
masalah transisi dari menyerang ke bertahan, dalam pertandingan melawan Lao FC
juga terlihat Persib sering kewalahan menghadapi serangan balik yang
dilancarkan lawan. Beberapa kali lawan mengancam, untung saja mereka (juga)
buruk penyelesaian akhirnya. Dan untuk pertandingan di Myanmar, menghadapi
perwakilan Myanmar (tidak saya sebutkan nama klubnya karena susah) terlihat
stamina Persib drop di babak kedua dan sering kecolongan karena transisi yang
buruk. Masalah stamina dan adaptasi cuaca juga harus menjadi sorotan dan
diselesaikan.
Semoga momen
07-11-2014 bisa terulang di 2015. Sudah lelah menunggu 19 tahun, sekarang
biarkan kami terbiasa oleh yang namanya Juara. Semoga ya, Sib. :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar