Breaking News

Jumat, 20 Maret 2015

SEMOGA KEMBALI JUARA

Masih saja terngiang dalam ingatan ketika Kiper Persib, I Made Wirawan menggagalkan tendangan Nelson Alom pada tendangan ke empat, lalu berikutnya Jupe, sapaan akrab Ahmad Jufrianto berhasil menceploskan bola ke gawang yang di kawal Dede Sulaeman. Luar Biasa sekali rasanya, bisa merasakan langsung gelar juara yang (sebelumnya) hanya bisa di dengar dan di baca dari cerita orang yang telah merasakannya. Tak terasa getir haru membuat air mata mengalir bahagia. Iya, Persib (akhirnya) JUARA!

Terlepas dari apapun caranya–asalkan halal, tentunya-, saya sendiri sebetulnya tidak peduli dengan format kompetisi, juara karena adu penalty, atau apapun. Banyak supporter rival, yang mengatakan kalau Persib Juara karena keberuntungan semata, karena format kompetisinya yang setengah kompetisi, lalu ada pula yang mengatakan karena mafia. Saya hanya bisa tertawa saja mendengar ocehan mereka, toh saya pikir itu hanya ungkapan iri dengki saja. Bukankah seorang yang iri akan selalu mencari alasan ketika “musuh”-nya mendapat kejayaan? Yang penting sudah terbukti, bahwa tahun lalu merupakan tahun kejayaan Persib.

Persib Juara! Palembang, 07-11-2014
Tetapi, lupakan dulu euforia Juara kemarin. Terlalu lama terlena dalam euforia pun tentunya tidak baik dan bisa jadi bumerang. Musim kompetisi baru sudah di depan mata (bahkan AFC Cup sudah dimulai). Meski ISL tertunda karena tim – tim lain masih belum menyempurnakan dokumen pelengkap sebagai klub yang (katanya) professional, tetapi pematangan persiapan harus terus dilakukan. Saya tidak ingin tulisan ini terlampau jauh terlibat dalam perseteruan BOPI – PT. Liga, biarkan itu terus berjalan. Tulisan ini akan fokus di Persib saja.

Tidak Banyak Rombakan

Satu hal yang cukup menggembirakan dari persiapan tahun ini adalah tidak banyaknya pemain keluar ataupun masuk. Praktis hanya kepergian Ferdinand Sinaga yang kepergiannya disesali banyak pihak, termasuk tim pelatih. Coulibaly? Ah, dia tak banyak berkontribusi musim lalu. Terlepas dari 8 gol yang ia ciptakan selama satu musim kompetisi kemarin, Djibril lebih banyak mengisi hangatnya bangku cadangan. Ia memiliki cedera kambuhan, yang membuat ia seperti takut untuk berduel dengan pemain belakang lawan. Padahal dengan ciri khas permainan Persib yang seharusnya memiliki pemantul di lini depan, Coulibaly seharusnya berani untuk berduel dan menahan bola di depan, sembari menunggu lini kedua datang. Hal ini yang tidak ia lakukan musim lalu, membuat dia banyak kehilangan bola dan malah menjadi ‘pamaeh’. Dari alasan tersebut bisa disimpulkan bahwa kehilangan sosoknya tidak harus ditangisi.

Kembalinya pemain – pemain ‘putra daerah’ juga layak diapresiasi. Dedi Kusnandar dan Yandi Sofyan adalah dua orang pemain binaan Persib Junior. Mereka melanglang buana mencari jam terbang dan setelah merasa siap akhirnya mau kembali ke pangkuan ‘Ibu’-nya. Hal ini tidak terlepas dari dipertahankannya Djadjang Nurjaman sebagai pelatih Persib. Sebagai putra daerah, tentunya ia pun berkeinginan mengembalikan pemain – pemain yang dulunya dibina Persib. Ya, diawali dari dua pemain ini.

Seleksi Penyerang Asing, Sampai Kapan?

 Djanur, Pelatih Persib saat ini lebih dikenal sebagai tukang PHP. Bagi beberapa pemain yang menurut Bobotoh bagus, ia awalnya juga mengatakan demikian. Kim Shin Young yang pertama. Ia digadang – gadang akan bisa mengisi kekosongan penyerang asing. Lalu setelah pulang dari Hanoi, Djanur mengatakan kalau Kim ternyata tak sesuai Kriteria. Begitu pula yang dilakukannya kepada pemain lain, Appolon yang terbaru. Bahkan untuk Maycon, ia harus sampai seleksi lebih dari satu bulan mengikuti latihan tanpa kontrak yang pasti, dan akhirnya pun harus dicoret. Koh Traore? Haha, ia adalah yang ditunggu – tunggu oleh semua pihak, tak terkecuali Djanur. Tapi ternyata, hanya 20 menit bermain Djajang sudah bisa menyimpulkan, seperti yang lain, ia pun dicoret.

Tercatat sudah 14 pemain yang mengikuti seleksi, dan semuanya dipulangkan. Entah sampai kapan seleksi ini akan bermuara pada satu penyerang yang diidamkan oleh Tim Pelatih maupun Bobotoh. Terbaru adalah Appolon Lemondzhava, yang bahkan ia telah ikut berbaur dengan Bobotoh dalam merayakan Miangkala Persib ke-82 tahun. Tapi nasibnya sama seperti (beberapa) yang lain, di awal diberikan harapan untuk bergabung, tapi akhirnya diberi alasan untuk dipulangkan. Alasannya pun klasik, kalau tidak sesuai kriteria, ya tidak masuk kualifikasi yang telah ditetapkan Liga. Begitu terus siklusnya, ulang, dan ulang lagi. Kalau PanditFootball mengatakan ada tiga rahasia Tuhan, bolehlah saya menambahkan satu menjadi empat. Jodoh, Kematian, Final Inter Island Cup, dan Berakhirnya Seleksi Penyerang Persib.

Panditfootball.com telah memberikan rekomendasi dalam artikelnya mengenai beberapa pemain yang layak dan dirasa cocok untuk berbaju Maung Bandung. Dalam panditfootball.com/taktik/seperti-ini-penyerang-yang-layak-diburu-oleh-persib-bandung/ mereka merekomendasikan Edward Wilson untuk Persib. Entah Djanur sempat membaca atau tidak, analisis yang mendalam dari PanditFootball telah menjelaskan secara gamblang, dan saya pun setuju. Secara umum, untuk seluruh klub di Indonesia, mereka juga merekomendasikan 10 pemain yang semuanya mempunyai kualitas.

Sebagai klub yang profesional dan sehat secara finansial, sepatutnya tim sekelas Persib harus sudah mulai meninggalkan kebiasaan tim di Indonesia yang menunggu seorang pemain berstatus bebas transfer untuk merekrutnya. Beranilah ‘bermain’ dalam bursa untuk mendapatkan pemain yang dibutuhkan. Logika awam pun mengatakan kalau pemain yang tidak memiliki klub (bebas transfer) tentunya ‘dibuang’ oleh klub lamanya setidaknya karena dua hal, pertama karena sudah tidak cocok, kedua karena butut. Ya, begitulah.

Perbaiki Kekurangan

Dalam mengarungi kompetisi tahun ini, Pangeran Biru akan mengarungi tiga kompetisi (semoga yang dua jadi, ya). Yang pertama adalah yang sedang dijalani saat ini, AFC Cup, lalu ISL yang masih tarik ulur antara PSSI – BOPI – Klub, dan Piala Indonesia. Tentunya sebagai Bobotoh saya berharap Persib juara di ketiganya. Dan kalau pun tidak, semoga di salah satu atau dua. Mempertahankan gelar ISL adalah prioritas utama, karena jika itu terlaksana, maka Persib akan menjadi tim pertama yang mampu juara dua kali berturut – turut.

Untuk Piala AFC dan Piala Indonesia, juga harus dijalani dengan serius. Terlebih di AFC Cup, Persib membawa nama negara sebagai tim yang mewakili. Sudah tentu akan di dukung oleh seluruh rakyat Indonesia (kecuali oknum kali, ya). Melajulah sejauh – jauhnya, syukur – syukur bisa juara.

Dalam beberapa pertandingan, terlihat sekali kalau Persib sangat membutuhkan Striker yang haus gol. Banyak sekali peluang terbuang sia – sia, sehingga harusnya kemenangan bisa di dapat, malah gagal. Atau bisa menang dengan skor telak, tapi karena finishing touch yang buruk, menjadi menang dengan skor tipis saja. Kebutuhan akan Striker menjadi mutlak segera.

Lalu untuk masalah transisi dari menyerang ke bertahan, dalam pertandingan melawan Lao FC juga terlihat Persib sering kewalahan menghadapi serangan balik yang dilancarkan lawan. Beberapa kali lawan mengancam, untung saja mereka (juga) buruk penyelesaian akhirnya. Dan untuk pertandingan di Myanmar, menghadapi perwakilan Myanmar (tidak saya sebutkan nama klubnya karena susah) terlihat stamina Persib drop di babak kedua dan sering kecolongan karena transisi yang buruk. Masalah stamina dan adaptasi cuaca juga harus menjadi sorotan dan diselesaikan.


Semoga momen 07-11-2014 bisa terulang di 2015. Sudah lelah menunggu 19 tahun, sekarang biarkan kami terbiasa oleh yang namanya Juara. Semoga ya, Sib. :)  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Dea Alfi Fauzan