Breaking News

Rabu, 22 April 2015

Karena Membaca itu Seperti Makan dan Minum

Bangun pagi, lalu menanti loper koran mengantarkan harian Kompas yang terbit setiap hari, membacanya sampai waktu berangkat kuliah (pagi) tiba. Begitulah rutinitas saya setiap pagi, sejak Desember tahun lalu. Bahkan jika memang dirasa perlu, saya sering membawa surat kabar itu ke kampus, untuk mengisi waktu kosong di kelas, atau sambil piket di Sekretariat BEM. Setelah hampir 5 bulan berlangganan Harian Kompas, rasanya ada yang kurang pabila tidak membaca dulu koran sebelum beraktivitas.
Tumpukan Koran
 Pernah suatu ketika, loper koran terlambat tiba. Dan saat itu saya harus bergegas untuk menuju kampus karena ada kegiatan yang mesti dihadiri. Rasanya aneh, tanpa tahu apa informasi yang mestinya saya baca pagi ini, tetapi saya harus segera pergi. Bahkan ketika acara LDK BEM dan sekitar pukul 05.30 koran saya belum tiba, lalu saya harus segera berangkat, saya sempat ingin kembali ke kos untuk mengambilnya. Gimana, ya, rasanya aneh saja, jika tak tahu apa-apa sebelum pergi. Apalagi disini jarang nonton televisi, terutama berita.

Kok Langganan Koran?

Era digital, dengan berbagai gawai yang melengkapi, membuat kebanyakan orang menganggap bahwa media cetak sudah ketinggalan zaman. Dengan informasi yang serba real-time, banyak yang beranggapan bahwa media cetak, meskipun terbit harian, sudah tidak relevan lagi mengingat informasi yang diberikan kebanyakan adalah berita tentang peristiwa hari sebelumnya, atau hanya mengabarkan kejadian yang akan terjadi hari ini. Berbeda dengan media daring yang terus mengabarkan setiap saat, dan berlomba-lomba siapa yang paling cepat & akurat.
Setidaknya ada beberapa alasan yang mendasari saya untuk berlangganan koran, dalam hal ini Harian Kompas. Pertama, kehadiran surat kabar setiap pagi akan memaksa saya untuk membaca terlebih dahulu sebelum memulai aktivitas. Dengan membaca, maka kejadian yang terjadi di seantero dunia yang dikabarkan dalam surat kabar dapat saya ketahui. Pengetahuan akan bertambah, dan hal itu membuat apa yang saya tulis dan saya katakan dalam pelbagai kesempatan menjadi lebih memiliki makna.
Kedua, membaca surat kabar akan membuat saya fokus pada membaca surat kabar tersebut, tanpa harus multi tasking dengan membuka media sosial seperti yang sering saya lakukan ketika membaca media daring. Fokus dalam membaca menentukan masuk atau tidaknya isi dari bacaan tersebut ke dalam ingatan. Berbeda dengan ketika membaca di media daring, saya lebih mengingat data-data yang disajikan dalam surat kabar. Hal itu memperkaya khazanah pengetahuan saya.
Selanjutnya, banyak tulisan di media cetak yang tidak dimuat pula dalam media daring, dan tulisan-tulisan tersebut sangat berbobot. Saya yang memang tertarik dengan dunia tulis-menulis serta jurnalistik akan sangat terbantu dengan membaca tulisan-tulisan berbobot milik mereka yang juga sudah terlebih dahulu berkecimpung dalam dunia kepenulisan. Atau tulisan para pengamat dalam rubrik opini yang sayang pabila dilewatkan. Kebanyakan dari tulisan tersebut tidak ikut dimuat dalam media daring milik mereka, karena memang fokus dari media daring adalah mengabarkan dengan cepat (dan akurat) suatu peristiwa yang terjadi secara real-time.
Keempat, tanpa sorotan cahaya dari layar gawai membuat saya bisa bertahan lebih lama dalam membaca. Dengan berbahan kertas, koran membuat saya membaca lebih lama karena mata tidak cepat lelah. Bagi saya, membaca menggunakan gawai membuat mata cepat lelah.
Terakhir, media cetak yang mulai ditinggalkan banyak pihak. Dalam era digital, dengan jumlah gawai yang sudah melebihi jumlah penduduk Indonesia, memang tidak bisa dimungkiri bahwa era buku elektronik, media daring, sudah menguasai jagat. Hal ini membuat beberapa media cetak kelimpungan untuk memenuhi kebutuhan operasional sehingga memilih untuk gulung tikar dan beralih ke media daring. Akan tetapi saya berpendapat, bahwa media cetak haruslah dipertahankan. Mengapa? Ya, alasannya adalah empat alasan saya di atas tadi. Sehingga pabila saya tidak mampu mengajak orang lain untuk ikut membantu, setidaknya saya sendiri ikut membantu agar media cetak tetap bertahan.
Dari beberapa alasan di atas, akhirnya saya memilih untuk tetap berlangganan surat kabar. Dengan harga yang tidak terlampau mahal, karena ada promo harga mahasiswa, juga menjadi salah satu pertimbangan saya dalam memilih berlangganan. Dan setelah hanya berlangganan Harian Kompas, saya menambah satu surat kabar lagi yakni Harian Bola. Hal ini dikarenakan saya yang ingin menambah pengetahuan sepak bola, dan ketertarikan kepada dunia Jurnalistik, termasuk Jurnalisme Olahraga dalam hal ini sepak bola. Rubrik olahraga dalam Harian Kompas saya rasa masih kurang sehingga saya memilih untuk berlangganan harian Bola.

Saling Melengkapi

Seperti yang telah disebutkan tadi, dalam era digital saat ini, kebutuhan informasi yang bersifat real-time mutlak harus didapatkan oleh setiap insan. Jika tidak, ya, akan ketinggalan informasi yang seharusnya diketahui saat itu juga. Media cetak dan media daring adalah dua hal yang tidak terlampau berbeda dan saling melengkapi satu sama lain.
Segala sesuatu yang dilakukan haruslah dipaksakan, baik dari eksternal maupun internal. Membaca adalah kebutuhan pokok saat ini, baik menyukai dunia kepenulisan atau pun tidak. Tanpa membaca, kita tidak akan tahu apa-apa, apa yang kita katakan akan kosong tanpa makna. Dengan adanya surat kabar setiap pagi, itu akan memaksa kita untuk membacanya. Begitu pun dengan media daring, yang biasanya mampir di lini masa media sosial kita. Keduanya saling melengkapi demi memenuhi kebutuhan pokok kita, yakni membaca.

Ya, karena membaca adalah kebutuhan primer. Sama seperti makan dan minum. Tanpa makan dan minum, kita tidak akan bisa hidup. Begitu pula tanpa membaca, semua ungkapan yang termaktub dalam ucapan atau tulisan akan kosong tanpa makna.
 


Read more ...

Kamis, 16 April 2015

KARENA CORAT-CORET SERAGAM ITU “KEREN”!

Ujian Nasional SMA telah usai dilewati oleh adik-adik kelas XII. Berbagai mata pelajaran telah dilahap dan diselesaikan, dan tinggal menunggu hasil. Akan tetapi, seperti yang telah dilakukan oleh angkatan sebelum-sebelumnya, setelah UN usai, prosesi selanjutnya yang (seakan) wajib dilakukan adalah konvoi lalu bermain-main dengan Pilox dan spidol. Oh ya, tak lupa berselfie ria dengan seragam putih abu yang telah bertransformasi menjadi warna-warni.  

Read more ...
Designed By Dea Alfi Fauzan