Sudah lebih
dari separuh abad bangsa ini lepas dari kurungan penjajah yang membuat setiap
langkah dan tingkah diawasi dan terancam. Keadaan yang membuat manusia saat ini
(yang menikmati kemerdekaan) sering merasa kagum atas keberhasilan para orang
terdahulu melawan ancaman, kekhawatiran, dan akhirnya bisa merebut kemerdekaan
pabila membaca atau menonton kisahnya. Keadaan dimana setiap gerak-gerik dan
tingkah-polah selalu beriringan dengan kekhawatiran serta ketakutan. Bahkan saya
rasa lebih seram daripada 2 jam melewati tantangan dari acara aneh yang
menantang (setan) di salah satu televisi swasta di waktu malam tiba.
Dengan
status yang masih sebagai Negara berkembang, bangsa ini masih menganut
kebijakan anggaran defisit, yakni pengeluaran akan lebih besar dari penerimaan.
Hal ini dimaksudkan untuk melakukan ekspansi fiskal dan demi menjaga kesinambungan
fiskal. Dengan seperti itu, dana yang dibutuhkan/dipakai dalam satu tahun
anggaran akan lebih besar daripada yang didapatkan. Dari hal ini bisa kita
simpulkan bahwa kebutuhan sebagai Negara berkembang, untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi (yang biasanya sering melupakan pemerataan) menunjukan
bahwa secara ekonomi pun bangsa ini masih belum kuat tatanannya. Masih ada
potensi untuk goyah, sewaktu-waktu jatuh, karena pondasi yang dibangun masih
belum cukup kuat.
TETAPLAH KHAWATIR
Terpilihnya Joko
Widodo – Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden telah menimbulkan
keyakinan baru akan berhasilnya pemerintah dalam mengentaskan berbagai masalah
yang mendera bangsa. Dalam jajak pendapat Kompas
(5/1/2015) menunjukan harapan dan keyakinan tinggi terhadap pasangan ini.
Dibutuhkan kesungguhan dan strategi yang baik dari pemerintah agar bisa
mengejewantahkan modal tersebut agar bisa memenuhi harapan. Namun, sebagai
rakyat yang percaya pada mereka, kita juga tak boleh menaruh kepercayaan
berlebih sehingga “menabikan” keduanya lalu mematikan nalar kita sendiri.
Banyak contoh
dari bangsa yang mudah menaruh harapan ini lalu dikecewakan. Dari sepak bola
misalnya, masih hangat dalam ingatan bagaimana Timnas U-19 yang berpunggawa
Evan Dimas dan kawan-kawan (bukan film animasi Malaysia) membuat publik
terpukau dengan permainannya yang indah, cepat nan menawan. Dengan permainan
seperti itu mereka mampu menjadi kampiun AFF Cup 2013 yang diselenggarakan di
Sidoarjo, Jawa Timur. Lalu mampu mengandaskan perlawanan Korea Selatan (salah
satu kekuatan besar sepak bola Asia) di lapangan (becek) Gelora Bung Karno,
Senayan. Lalu setelah itu muncul harapan bahwa tim ini mampu menembus Piala
Dunia dengan cara mencapai minimal Semi Final di ajang Piala Asia setahun
setelahnya.
Namun apa yang
terjadi? Penanganan yang salah serta eksploitasi dari entah siapapun elemen
yang bertanggung jawab, membuat tim ini gagal total. Tim ini dibuat bak sirkus
berjalan yang mengelilingi nusantara dan terus menerus bermain melawan tim-tim
yang kualitasnya jauh berada dibawah level mereka. Sehingga hasilnya mudah
ditebak, permainan menurun dan mudah dibaca karena seringnya mereka ditayangkan
oleh televisi.
Dari hal
seperti ini harusnya kita belajar untuk tetap merawat kekhawatiran. Percaya dan
harapan yang berlebih akan membuat kita mudah kecewa nantinya pabila ternyata
yang kita harapkan gagal. Tentu kita tak berharap pemerintahan saat ini gagal.
Permasalahan bangsa sudah begitu kronis dan harus segera diselesaikan. Tapi, potensi
gagal akan selalu ada. Modal harapan dan kepercayaan bisa saja diselewengkan
karena merasa sudah dipercaya sehingga apa yang dilakukan akan selalu benar.
MANAGE HARAPAN
Saya bukanlah
pendukung Jokowi-JK pada Pilpres lalu. Mungkin rekan-rekan juga sudah tahu hal
itu. Segala kekhawatiran saya tumpahkan dalam tulisan yang terdokumentasi dalam
blog ini. Namun, setelah MK menyatakan menolak permohonan pihak Prabowo-Hatta,
saya terus berusaha mengikis kekhawatiran dan ketakutan saya menjadi sebuah
harapan. Tapi, semua itu tetap saya barengi dengan kekhawtiran yang saya
tugaskan untuk menjaga jiwa kritis agar selalu mendukung apabila kebijakannya
baik, dan mengkritisi pemerintah jika kebijakannya tidak pro-rakyat.
Me-manage harapan sangatlah penting karena
sudah banyak dan sering yang menyebut, bahwa harapan tinggi berpotensi
menghasilkan kekecewaan yang tinggi. Berharap itu perlu, karena manusia tanpa
harapan itu tidaklah hidup. Namun, jangan berlebihan karena akan mengakibatkan
nalar kita mati sehingga apa yang dilakukan oleh siapapun kita percaya dan
harapkan akan selalu benar. Manusia bukanlah Tuhan yang tidak pernah salah.
Sebaik-baiknya track record Jokowi-JK dalam mengurus organisasi pemerintahan, ia
juga berpotensi salah strategi manajemen dalam mengurus Negara.
Kawal terus
mereka, karena mereka dipilih oleh 52 persen lebih pemilih 9 Juli lalu. Kritisi
kebijakannya, jangan tidak peduli pada politik karena mau tidak mau anda akan
tersangkut paut dengan politik, sejauh apapun anda menghindarinya.