Breaking News

Rabu, 14 Januari 2015

MERAWAT KEKHAWATIRAN

Sudah lebih dari separuh abad bangsa ini lepas dari kurungan penjajah yang membuat setiap langkah dan tingkah diawasi dan terancam. Keadaan yang membuat manusia saat ini (yang menikmati kemerdekaan) sering merasa kagum atas keberhasilan para orang terdahulu melawan ancaman, kekhawatiran, dan akhirnya bisa merebut kemerdekaan pabila membaca atau menonton kisahnya. Keadaan dimana setiap gerak-gerik dan tingkah-polah selalu beriringan dengan kekhawatiran serta ketakutan. Bahkan saya rasa lebih seram daripada 2 jam melewati tantangan dari acara aneh yang menantang (setan) di salah satu televisi swasta di waktu malam tiba.
  Dengan status yang masih sebagai Negara berkembang, bangsa ini masih menganut kebijakan anggaran defisit, yakni pengeluaran akan lebih besar dari penerimaan. Hal ini dimaksudkan untuk melakukan ekspansi fiskal dan demi menjaga kesinambungan fiskal. Dengan seperti itu, dana yang dibutuhkan/dipakai dalam satu tahun anggaran akan lebih besar daripada yang didapatkan. Dari hal ini bisa kita simpulkan bahwa kebutuhan sebagai Negara berkembang, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi (yang biasanya sering melupakan pemerataan) menunjukan bahwa secara ekonomi pun bangsa ini masih belum kuat tatanannya. Masih ada potensi untuk goyah, sewaktu-waktu jatuh, karena pondasi yang dibangun masih belum cukup kuat.

TETAPLAH KHAWATIR

Terpilihnya Joko Widodo – Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden telah menimbulkan keyakinan baru akan berhasilnya pemerintah dalam mengentaskan berbagai masalah yang mendera bangsa. Dalam jajak pendapat Kompas (5/1/2015) menunjukan harapan dan keyakinan tinggi terhadap pasangan ini. Dibutuhkan kesungguhan dan strategi yang baik dari pemerintah agar bisa mengejewantahkan modal tersebut agar bisa memenuhi harapan. Namun, sebagai rakyat yang percaya pada mereka, kita juga tak boleh menaruh kepercayaan berlebih sehingga “menabikan” keduanya lalu mematikan nalar kita sendiri.  
Banyak contoh dari bangsa yang mudah menaruh harapan ini lalu dikecewakan. Dari sepak bola misalnya, masih hangat dalam ingatan bagaimana Timnas U-19 yang berpunggawa Evan Dimas dan kawan-kawan (bukan film animasi Malaysia) membuat publik terpukau dengan permainannya yang indah, cepat nan menawan. Dengan permainan seperti itu mereka mampu menjadi kampiun AFF Cup 2013 yang diselenggarakan di Sidoarjo, Jawa Timur. Lalu mampu mengandaskan perlawanan Korea Selatan (salah satu kekuatan besar sepak bola Asia) di lapangan (becek) Gelora Bung Karno, Senayan. Lalu setelah itu muncul harapan bahwa tim ini mampu menembus Piala Dunia dengan cara mencapai minimal Semi Final di ajang Piala Asia setahun setelahnya.
Namun apa yang terjadi? Penanganan yang salah serta eksploitasi dari entah siapapun elemen yang bertanggung jawab, membuat tim ini gagal total. Tim ini dibuat bak sirkus berjalan yang mengelilingi nusantara dan terus menerus bermain melawan tim-tim yang kualitasnya jauh berada dibawah level mereka. Sehingga hasilnya mudah ditebak, permainan menurun dan mudah dibaca karena seringnya mereka ditayangkan oleh televisi.
Dari hal seperti ini harusnya kita belajar untuk tetap merawat kekhawatiran. Percaya dan harapan yang berlebih akan membuat kita mudah kecewa nantinya pabila ternyata yang kita harapkan gagal. Tentu kita tak berharap pemerintahan saat ini gagal. Permasalahan bangsa sudah begitu kronis dan harus segera diselesaikan. Tapi, potensi gagal akan selalu ada. Modal harapan dan kepercayaan bisa saja diselewengkan karena merasa sudah dipercaya sehingga apa yang dilakukan akan selalu benar.

MANAGE HARAPAN

Saya bukanlah pendukung Jokowi-JK pada Pilpres lalu. Mungkin rekan-rekan juga sudah tahu hal itu. Segala kekhawatiran saya tumpahkan dalam tulisan yang terdokumentasi dalam blog ini. Namun, setelah MK menyatakan menolak permohonan pihak Prabowo-Hatta, saya terus berusaha mengikis kekhawatiran dan ketakutan saya menjadi sebuah harapan. Tapi, semua itu tetap saya barengi dengan kekhawtiran yang saya tugaskan untuk menjaga jiwa kritis agar selalu mendukung apabila kebijakannya baik, dan mengkritisi pemerintah jika kebijakannya tidak pro-rakyat.

Me-manage harapan sangatlah penting karena sudah banyak dan sering yang menyebut, bahwa harapan tinggi berpotensi menghasilkan kekecewaan yang tinggi. Berharap itu perlu, karena manusia tanpa harapan itu tidaklah hidup. Namun, jangan berlebihan karena akan mengakibatkan nalar kita mati sehingga apa yang dilakukan oleh siapapun kita percaya dan harapkan akan selalu benar. Manusia bukanlah Tuhan yang tidak pernah salah. Sebaik-baiknya track record Jokowi-JK dalam mengurus organisasi pemerintahan, ia juga berpotensi salah strategi manajemen dalam mengurus Negara. 
Kawal terus mereka, karena mereka dipilih oleh 52 persen lebih pemilih 9 Juli lalu. Kritisi kebijakannya, jangan tidak peduli pada politik karena mau tidak mau anda akan tersangkut paut dengan politik, sejauh apapun anda menghindarinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Dea Alfi Fauzan