Bangun pagi,
lalu menanti loper koran mengantarkan harian Kompas yang terbit setiap hari, membacanya sampai waktu berangkat
kuliah (pagi) tiba. Begitulah rutinitas saya setiap pagi, sejak Desember tahun
lalu. Bahkan jika memang dirasa perlu, saya sering membawa surat kabar itu ke
kampus, untuk mengisi waktu kosong di kelas, atau sambil piket di Sekretariat
BEM. Setelah hampir 5 bulan berlangganan Harian Kompas, rasanya ada yang kurang pabila tidak membaca dulu koran
sebelum beraktivitas.
Pernah suatu ketika, loper koran terlambat
tiba. Dan saat itu saya harus bergegas untuk menuju kampus karena ada kegiatan
yang mesti dihadiri. Rasanya aneh, tanpa tahu apa informasi yang mestinya saya
baca pagi ini, tetapi saya harus segera pergi. Bahkan ketika acara LDK BEM dan
sekitar pukul 05.30 koran saya belum tiba, lalu saya harus segera berangkat,
saya sempat ingin kembali ke kos untuk mengambilnya. Gimana, ya, rasanya aneh
saja, jika tak tahu apa-apa sebelum pergi. Apalagi disini jarang nonton
televisi, terutama berita.
Kok Langganan Koran?
Era digital,
dengan berbagai gawai yang melengkapi, membuat kebanyakan orang menganggap
bahwa media cetak sudah ketinggalan zaman. Dengan informasi yang serba real-time, banyak yang beranggapan bahwa
media cetak, meskipun terbit harian, sudah tidak relevan lagi mengingat
informasi yang diberikan kebanyakan adalah berita tentang peristiwa hari
sebelumnya, atau hanya mengabarkan kejadian yang akan terjadi hari ini. Berbeda
dengan media daring yang terus mengabarkan setiap saat, dan berlomba-lomba
siapa yang paling cepat & akurat.
Setidaknya ada
beberapa alasan yang mendasari saya untuk berlangganan koran, dalam hal ini
Harian Kompas. Pertama, kehadiran
surat kabar setiap pagi akan memaksa saya untuk membaca terlebih dahulu sebelum
memulai aktivitas. Dengan membaca, maka kejadian yang terjadi di seantero dunia
yang dikabarkan dalam surat kabar dapat saya ketahui. Pengetahuan akan
bertambah, dan hal itu membuat apa yang saya tulis dan saya katakan dalam
pelbagai kesempatan menjadi lebih memiliki makna.
Kedua, membaca
surat kabar akan membuat saya fokus pada membaca surat kabar tersebut, tanpa
harus multi tasking dengan membuka
media sosial seperti yang sering saya lakukan ketika membaca media daring.
Fokus dalam membaca menentukan masuk atau tidaknya isi dari bacaan tersebut ke
dalam ingatan. Berbeda dengan ketika membaca di media daring, saya lebih
mengingat data-data yang disajikan dalam surat kabar. Hal itu memperkaya
khazanah pengetahuan saya.
Selanjutnya,
banyak tulisan di media cetak yang tidak dimuat pula dalam media daring, dan
tulisan-tulisan tersebut sangat berbobot. Saya yang memang tertarik dengan
dunia tulis-menulis serta jurnalistik akan sangat terbantu dengan membaca
tulisan-tulisan berbobot milik mereka yang juga sudah terlebih dahulu
berkecimpung dalam dunia kepenulisan. Atau tulisan para pengamat dalam rubrik
opini yang sayang pabila dilewatkan. Kebanyakan dari tulisan tersebut tidak
ikut dimuat dalam media daring milik mereka, karena memang fokus dari media
daring adalah mengabarkan dengan cepat (dan akurat) suatu peristiwa yang
terjadi secara real-time.
Keempat, tanpa
sorotan cahaya dari layar gawai membuat saya bisa bertahan lebih lama dalam
membaca. Dengan berbahan kertas, koran membuat saya membaca lebih lama karena
mata tidak cepat lelah. Bagi saya, membaca menggunakan gawai membuat mata cepat
lelah.
Terakhir, media
cetak yang mulai ditinggalkan banyak pihak. Dalam era digital, dengan jumlah
gawai yang sudah melebihi jumlah penduduk Indonesia, memang tidak bisa
dimungkiri bahwa era buku elektronik, media daring, sudah menguasai jagat. Hal
ini membuat beberapa media cetak kelimpungan untuk memenuhi kebutuhan
operasional sehingga memilih untuk gulung tikar dan beralih ke media daring.
Akan tetapi saya berpendapat, bahwa media cetak haruslah dipertahankan.
Mengapa? Ya, alasannya adalah empat alasan saya di atas tadi. Sehingga pabila
saya tidak mampu mengajak orang lain untuk ikut membantu, setidaknya saya sendiri
ikut membantu agar media cetak tetap bertahan.
Dari beberapa
alasan di atas, akhirnya saya memilih untuk tetap berlangganan surat kabar.
Dengan harga yang tidak terlampau mahal, karena ada promo harga mahasiswa, juga
menjadi salah satu pertimbangan saya dalam memilih berlangganan. Dan setelah
hanya berlangganan Harian Kompas,
saya menambah satu surat kabar lagi yakni Harian Bola. Hal ini dikarenakan saya yang ingin menambah pengetahuan
sepak bola, dan ketertarikan kepada dunia Jurnalistik, termasuk Jurnalisme
Olahraga dalam hal ini sepak bola. Rubrik olahraga dalam Harian Kompas saya rasa masih kurang sehingga
saya memilih untuk berlangganan harian Bola.
Saling Melengkapi
Seperti yang
telah disebutkan tadi, dalam era digital saat ini, kebutuhan informasi yang
bersifat real-time mutlak harus
didapatkan oleh setiap insan. Jika tidak, ya, akan ketinggalan informasi yang
seharusnya diketahui saat itu juga. Media cetak dan media daring adalah dua hal
yang tidak terlampau berbeda dan saling melengkapi satu sama lain.
Segala sesuatu
yang dilakukan haruslah dipaksakan, baik dari eksternal maupun internal.
Membaca adalah kebutuhan pokok saat ini, baik menyukai dunia kepenulisan atau pun
tidak. Tanpa membaca, kita tidak akan tahu apa-apa, apa yang kita katakan akan
kosong tanpa makna. Dengan adanya surat kabar setiap pagi, itu akan memaksa
kita untuk membacanya. Begitu pun dengan media daring, yang biasanya mampir di
lini masa media sosial kita. Keduanya saling melengkapi demi memenuhi kebutuhan
pokok kita, yakni membaca.
Ya, karena
membaca adalah kebutuhan primer. Sama seperti makan dan minum. Tanpa makan dan
minum, kita tidak akan bisa hidup. Begitu pula tanpa membaca, semua ungkapan yang
termaktub dalam ucapan atau tulisan akan kosong tanpa makna.