Breaking News

Selasa, 22 September 2015

Satu Tahun, ya?



Kepada Cakrawalaku,

Hari ini tepat setahun kamu jadi cakrawalaku, tempatku (merasa) menjadi bintang yang bercokol nyaman pada dirimu dan bisa berkelap-kelip indah. Jika katanya, cakrawala adalah tempat bintang-bintang bernaung, ku harap kamu hanya jadi cakrawalaku, tempatku bernaung sendiri tanpa harus berbagi tempat dengan bintang yang lain. 

Tahun pertama ini telah sama-sama kita lewati. Kita sering tertawa bersama, melepas rindu, juga pernah saling marah meski biasanya kamu yang lama marahnya. Satu, pertama, adalah pijakan untuk sekian langkah ke depan. Tahap awal kita saling tahu satu sama lain, juga saling mempelajari bagaimana cara memperlakukan dan bersikap hingga hendaknya kita sama-sama bahagia atas perlakuan satu sama lain. Dan setahun itu telah kita lewati, tepat hari ini.

Tahun-tahun ke depan adalah waktu yang mesti kita manfaatkan untuk mematangkan hubungan ini. Harapku dan juga semoga harapmu, kita bisa kembali memperingati angka 1 dan kata pertama ini, ketika telah satu rumah dan sedang berada dalam perahu suci bernama rumah tangga. 

Jadi, sudah setahun, kapan mau main ke rumah dan ketemu calon mertua? Masa sih belum siap juga? :D 

Selamat... eh, bahasa Indonesianya apa, ya? Selamat Satu Tahunan! Happy First Anniversary, sayang :)

Bojongmangu, 22 September 2015
Read more ...

Minggu, 12 Juli 2015

Gelisah

Gelisah,

Kata yang mungkin paling tepat menggambarkan perasaan saya saat ini. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Gelisah diartikan sebagai tidak tenteram, selalu merasa khawatir, tidak tenang, tidak sabar lagi dalam menanti, cemas. Tidak tenteram, karena geliat Ramadhan tak lagi (terlalu) terasa, menguap seperti embun yang hilang ketika siang menjelang. Khawatir karena semangat orang berpuasa seakan luntur bak mencuci pakaian warna disertai pemutih. Cemas karena takut hal ini lantas berlanjut dan bahkan semakin parah nantinya.

Saya tidak bermaksud sok suci. Tulisan ini juga tidak bertendensi untuk menghakimi, yang katanya hanya boleh dilakukan oleh Tuhan. Hanya Tuhan yang paling tahu, bagaimana sebenarnya hidup seseorang. Hanya Tuhan yang berhak menilai sesuatu itu baik atau buruk.

“Tapi, bukankah Tuhan memberikan kita akal untuk berpikir? Menurunkan kitab suci agar hendaknya kita pelajari? Maka bukankah jelas apabila sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan itu bisa dikatakan salah?”  

Namun tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membahas itu semua, membahas ke-berhak-an manusia menilai lalu menghakimi, tapi dari tulisan ini saya hanya ingin menyampaikan satu hal: kegelisahan.

Dulu, kala berjalan melintasi jalanan siang hari saat bulan puasa, hampir tak ada warung yang buka (kalaupun buka pasti ditutup rapat-rapat), tukang es krim yang berkeliling, abang-abang bakso yang mengetuk-ngetuk mangkuk tanda menawarkan dagangannya. Tapi kini, semua lazim. Seperti bulan-bulan biasa, tidak ada yang istimewa.

Dulu, hampir tidak pernah saya melihat siang bolong orang merokok, minum sirup, sambil tertawa-tawa di pinggir jalan. Namun kini, semua terjadi begitu mudah. Atau bahkan sambil berkendara lantas mengisap rokoknya dengan wajah tanpa tergurat malu.

“Mungkin saja mereka beragama lain, bukan? Jangan manja, deh. Tak usah mengemis penghormatan dari minoritas!”

Betul memang. Tapi sayangnya, beberapa (yang melakukannya) saya kenali. Dan tiap tahun mereka ikut berlebaran, ujian agama Islam waktu sekolah, dan meski tak pernah melihat tanda pengenalnya, saya meyakini kalau mereka masih (mengaku) Islam.

Apabila diperhatikan, makin tahun, semua ini makin menjadi. Yang tadinya hanya tukang es krim berseliweran, sekarang ditambah tukang siomay, bakso, dan cilok. Jika dulu warung-warung tutup siang hari, lalu menutup jendela dan pintu dengan kain, sekarang terang-terangan buka. Jika dulu orang masih ngumpet apabila dirinya tidak berpuasa, sekarang mereka dengan nyamannya menunjukkan batang hidung.

Saya tidak tahu kenapa saya gelisah. Ya, gelisah saja. Takut tahun depan tambah parah, tahun depannya lagi makin parah, hingga nantinya tidak ada satu pun yang menyadari kalau sedang kedatangan sesuatu istimewa bernama Ramadhan.

Tidak ada yang salah memang dengan pernyataan menteri Agama, yang mengutarakan kalau orang yang berpuasa harus menghormati yang tidak berpuasa. Tapi mungkin ada yang kurang, Pak. “Begitu pun sebaliknya, orang yang tidak berpuasa menghormati yang berpuasa. Saling menghormati dan menghargai,” Itu saja tambahannya. Cukup.

Sebab gelisah adalah rasa yang mesti diungkap. Tidak ada yang bisa membatasi, karena katanya negeri ini melindungi hak asasi. 

Sama seperti cinta.
Read more ...

Selasa, 07 Juli 2015

Negeri (Penonton) Sepak Bola


Masih segar dalam ingatan bagaimana diri terperangah menyaksikan tim yang membawa nama bangsa ditumpas habis oleh negara-negara yang dulu masih sering kita kalahkan. Timnas sama sekali tidak berdaya, bermain tanpa pola, dan acapkali melakukan kesalahan-kesalahan yang sebetulnya tidak perlu dilakukan. Tim ini seperti kalah kelas dibanding lawan-lawannya di fase akhir tersebut. Permainan yang ‘ganteng maksimal’ gagal diperlihatkan penggawa Garuda Muda di babak Semifinal dan perebutan medali perunggu.
Berbagai alibi disampaikan oleh orang yang mengatakan dirinya paling bertanggung jawab atas kegagalan Timnas, sang arsitek tim Aji Santoso. Hilangnya fokus pemain buah kisruh yang tak kunjung usai, rasa lelah yang menghinggapi pemain, merupakan beberapa alasan yang ditengarai sebagai musabab kekalahan telak Timnas atas Thailand dan Vietnam. 
 
Timnas yang tertunduk lesu usai dikalahkan Thailand, 0-5 (Liputan6.com)
 Jika ditarik mundur, rasa-rasanya prestasi Garuda Muda terakhir yang cukup membanggakan adalah ketika berhasil menjuarai Piala AFF U-19 2013. Kala itu, timnas bermain dengan semangat yang berapi-api, bermain cantik, dan penuh determinasi. Sayangnya, prestasi tersebut tidak berlanjut di gelaran Piala Asia U-19. Lagi-lagi timnas gagal total. Tercatat tiga kekalahan mewarnai tiga pertandingan di fase grup dan memaksa Evan Dimas cs. angkat koper lebih awal, masing-masing oleh Uzbekistan (1-3), Australia (0-1), dan di laga penutup dihancurkan Uni Emirat Arab (1-4). Mimpi melaju ke Piala Dunia U-20 pun sirna. Malah Myanmar yang berhasil mencapai semifinal dan akhirnya mencapai Piala Dunia U-20 yang baru-baru ini dilaksanakan di Selandia Baru.
Timnas Senior? Ah, butuh waktu yang lebih lama untuk mengatakan timnas senior mencatat prestasi membanggakan. Bagi saya, Piala Asia 2007 adalah pencapaian terbaik Timnas dalam 10 tahun terakhir. Meski gagal melaju ke fase gugur, bergabung di grup berat bersama duo raja sepak bola Asia saat itu (Arab Saudi & Korea Selatan) dan berada di peringkat ketiga adalah sebuah prestasi yang membanggakan. Terlebih, timnas berhasil menjungkalkan Bahrain di laga pertama, 2-1. Piala AFF? Memang Irfan Bachdim dkk. bisa mencapai final, akan tetapi setelah bermain apik di pertandingan-pertandingan sebelumnya, timnas gagal memperlihatkannya pada partai puncak dan akhirnya gagal merengkuh gelar.

Hanya Penonton

Jangan sesekali meragukan atmosfir sepak bola Indonesia. Seni lapangan hijau ini adalah primadona di tanah air. Tua, muda, laki-laki, maupun perempuan menggandrungi olahraga semiliar umat ini. Manakala klub lokal maupun tim nasional bertanding, stadion akan segera penuh sesak. Bahkan berjam-jam sebelum pertandingan berlangsung!
Negeri ini adalah salah satu pasar terbesar di dunia sepak bola. Klub-klub elit Eropa silih berganti hadir untuk merasakan atmosfir sepak bola Indonesia. Pemain elit Eropa seolah berlomba untuk mengatakan bahwa atmosfir stadion sepak bola di Indonesia sangatlah luar biasa. Terbaru, meski tengah di sanksi FIFA, AS Roma masih diupayakan untuk bisa bermain di Gelora Bung Karno. Suporter yang tengah haus pertandingan, tentu sangat senang jika hal ini bisa direalisasikan. Terlebih fans AS Roma di tanah air.
Namun, kepandaian rakyat Indonesia dalam menonton sepak bola sepertinya tidak bisa (kembali) dijewantahkan dalam bermain. Tim sepak bola kita tak kunjung digdaya, apalagi bermimpi untuk kembali jadi Macan Asia. Bahkan, dengan Myanmar yang dulu sering kita bantai pun, sekarang sudah tertinggal. Orang-orang yang mengurusi sepak bola tanah air seperti kedap kritik, masuk telinga kiri dan keluar di telinga kanan. Kita hanya bisa mengingat sejarah bahwa kita pernah berjaya, tapi sulit untuk mengulanginya. 

Revolusi Total!

Saat ini Indonesia tengah di sanksi oleh induk sepak bola dunia, FIFA. Persyaratan pencabutan yang salah satunya mengharuskan Menpora untuk segera mencabut SK Pembekuan PSSI sepertinya masih jauh panggang daripada api. Sang menteri bergeming, seolah enggan memberikan kesempatan kedua kepada PSSI yang dinilai telah gagal total dalam mengelola sepak bola nasional.
Pengucilan Indonesia dari dunia Internasional di bidang sepak bola tentu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Betapa pun, sudah saatnya tim nasional dan klub lokal berbicara lebih jauh di kancah Internasional. Keadaan sepak bola nasional yang sedang mati suri mesti dihidupkan kembali. Ada jutaan orang yang menggantungkan hidupnya pada cabang olahraga yang satu ini.
Sanksi sudah tiba, kini saatnya untuk menagih janji Menpora Imam Nachrawi. Pembenahan menyeluruh yang dijanjikan mesti segera dimulai. PSSI baru yang di gadang-gadang segera hadir, harus segera direalisasikan. Pasalnya, sudah banyak pihak yang menanti penyelesaian kisruh berkepanjangan ini. Pemain sudah kehabisan tabungan untuk menafkahi anak istri. Penonton sudah merindukan hiburan yang menjadi teman kala gundah menghadang. Semua sudah rindu, sepak bola Indonesia kembali digdaya seperti dulu. Jangan sampai angan menjadi negeri sepak bola hanya sampai pada fase negeri penonton bola.
Read more ...

Selasa, 02 Juni 2015

DUA PULUH TAHUN

Hari ini, usiamu memasuki kepala dua. Meski angka belakang masih berbentuk telur, ingatlah bahwa angka depan sudah berbentuk angsa. Sebelas hari yang lalu, aku memasuki usia yang sama. Ketika aku mengira kamu lupa, hingga curhat tak jelas di sosial media. Apa pun, ini harimu. Berbahagialah, Sayang :)
Aku mungkin bukanlah lelaki romantis seperti di film korea, yang sering membawa bunga setiap kali bersua. Juga bukan pria yang pandai berkata-kata atau nyaman dijadikan tempat bercerita. Oh ya, aku juga tak bisa membuat Pop Up Card seperti yang kamu beri saban hari. Jangankan itu, menggambar pun aku tak bisa. Tapi, aku akan berusaha untuk selalu membuatmu bahagia, setiap saat sepanjang waktuku masih ada.
Ingat pertama kali kita berjumpa? Saat aku pergi jam dua dan tiba jam lima. Kala itu bulan puasa, bahkan aku tak sempat untuk izin ke papa mamamu untuk mengajakmu buka puasa berdua. Bojongmangu-Tambun yang saat ini ku tempuh dalam waktu hanya sekitar satu jam, kala itu sampai tiga jam gara-gara aku tersesat tak tentu arah.
Dua Juni ini, kamu layak berbahagia. Meskipun UTS-mu belum selesai, hingga kita tak bisa berjumpa. Walau kamu masih harus berkutat dengan buku, pada hari bahagiamu. Setidaknya, kamu memiliki banyak alasan untuk bahagia. Kamu masih punya Papa, Mama, Bagas, Mbak Astri, Janeet, Saudara-saudaramu yang lain, teman-temanmu, dan tentunya Aku. Orang-orang yang menyayangimu dan akan selalu ada untukmu. Selalu.
Tersenyumlah. Senyum manismu selalu berarti banyak buatku. Ketika teman-teman kelasku menyebalkan, selalu ada alasan untukku tertawa ketika kita bercengkrama. Waktu teman-teman kosku membuat kesal, kamu selalu bisa menahbiskan diri sebagai alasan untukku menahan diri. Teruslah seperti ini, jangan berubah, jangan berbeda.
Usiamu sudah dua dasawarsa. Ayo berdoa, ada aamiin-ku di setiap doamu. Ada namamu di setiap doaku. Harapku, semoga yang kamu harapkan bukan lagi harapan. Semoga rezekimu (juga rezekiku) lancar dan berlipat ganda. Dan kalau marah, jangan lama-lama, ya :)
Selamat Ulang Tahun, Indri Yunia Sara! <3

Bintaro, 2 Juni 2015
Read more ...

Jumat, 29 Mei 2015

Hei, Buka Gerbangnya!

Beberapa hari lagi kalian akan bersua dengan tes masuk perguruan tinggi negeri yang dinamai SBMPTN. Saya mengalaminya dua tahun lalu, seperti yang telah diceritakan sebelumnya. Tes ini yang membuat saya berubah. Entah mengapa saya merasa bertahun-tahun sekolah di SMA, awal saya tahu tentang cara-cara masuk universitas, otak terkontaminasi oleh pikiran-pikiran yang menyatakan bahwa jalur masuk tanpa tes adalah primadona. Tapi nyatanya itu salah besar.
Saya tidak mengatakan kalau yang berhasil lulus SNMPTN hanya beruntung belaka. Tidak, sama sekali tidak. Jalur ini juga memiliki metode penilaian tersendiri, yang sayangnya tidak pernah dibuka secara transparan, setidaknya hingga saat ini. Dan yang lebih disayangkan, kebijakan penerimaan mahasiswa baru di hampir seluruh universitas negeri menggunakan jalur ini sebagai pintu terbesar. Akan tetapi, yakinlah bahwa jika kalian tidak lulus di jalur ini, masih banyak jalur lain yang menanti untuk dimasuki.
Saban hari Dianty meminta saya untuk menuliskan tips-tips bisa lolos SBMPTN. Tetapi waktu itu masih dalam pekan UTS, sehingga saya menunda waktu penulisannya, dan barulah sempat hari ini. Sebetulnya tidak ada tips khusus saya dulu bisa lolos ke jurusan Hubungan Internasional UIN Jakarta. Karena kalian telah memilih jurusan mana yang diminati, saya pun tidak akan membahasnya. Hanya, jangan khawatir. Dalam tes ini tidak ada Universitas yang tidak mau di nomor duakan. Semuanya terserah kalian, yang jelas nanti dilihat nilai tertinggi. Jika di prioritas satu kalian berhasil lolos, maka prioritas dua dan tiga tidak akan dilihat lagi. Jika yang pertama tidak lolos, dilihat prioritas kedua. Begitu seterusnya. Tidak ada universitas favorit yang tidak mau di nomor duakan disini. 

Belajar Lebih Keras

Tidak ada yang bisa memungkiri hal ini. Kalian akan berhadapan dengan ratusan ribu orang yang menginginkan kursi di universitas. Ini sangat berbeda dengan ujian-ujian lain yang telah kalian hadapi, UN sekalipun. Ini tentang persaingan, saling sikut, pertarungan orang dengan orang. Semakin favorit jurusan yang kalian minati, maka (harusnya) makin keras kalian dalam belajar.
Raih nilai setinggi-tingginya. Namun, kalian harus punya strategi. Isi yang kalian betul-betul yakin saja, karena salah berarti minus. Meski harus kalian pelajari semua, tetapi belajarlah untuk fokus. Fokus di beberapa materi dulu sehingga kalian betul-betul bisa mengerjakannya dengan cepat. Saat ini banyak bertebaran tips-tips mengisi cepat dan tepat. Tetapi intinya, belajar lebih keras dari biasanya. Jika kalian biasa menghabiskan waktu sejam untuk belajar dalam sehari, tambah lagi hari demi hari. Ingat selalu, bahwa ini masa depan kalian. Kalian sendiri yang menentukan.

Percaya Diri

Saat tes nanti, kalian akan bertemu dengan orang-orang dengan wajah yang meyakinkan. Mereka terlihat santai dalam menyikapi tes ini, yakin akan lolos. Kalian pun harus seperti itu, datanglah dengan wajah meyakinkan. Jangan buka lagi materi sesaat sebelum tes. Selesaikan itu di rumah. Ketika telah mencapai tempat tes, jangan belajar lagi. Itu malah akan memperlihatkan ketidaksiapan kalian, dan malah akan membuat jantung berdebar lebih kencang. Sebelum berangkat, pastikan kalau kalian sudah siap dengan materi yang akan diujikan. Melangkah lah dengan percaya diri. Tetapi, yang berlebihan itu tidak baik, bukan? Percaya diri sewajarnya.
Jangan lupa untuk survei tempat tes kalian sehari sebelumnya. Peserta perang haruslah tau medan perang yang akan dihadapi. Bersiap-siaplah jika mendapat medan yang tidak biasa. Ada yang di aula, biasanya tidak mendapat meja, jadi kalian harus membawa papan jalan. Ada pula yang di tribun, sama seperti aula, tribun tidak mendapatkan meja. Dan yang paling nyaman adalah di ruang kelas. Saya telah mengalami ketiganya. :D

Soal SBMPTN Tidak Susah, Kok

Ketika melihat contoh-contoh soal tahun lalu, mungkin memang akan terlihat lebih rumit dari soal yang sering kalian hadapi saat sekolah. Namun, jenis soal yang mirip tiap tahun, akan membantu kalian dalam mengerjakannya. Kalian bisa belajar dari pembahasan. Tetapi percayalah, itu tidak lebih sulit dari UN jika kalian betul-betul memahami. Hanya saja, kalian merasa asing karena baru bertemu tipe soal seperti itu. Bedanya dengan UN, kalian telah menghadapi jenis soal seperti itu tiga tahun. Intensif belajar selama 6 bulan. Tentu berbeda dengan tipikal soal SBMPTN yang baru saban hari kalian temui.
Jangan pernah merasa bahwa soal SBMPTN itu susah. Yakinlah bahwa nanti soal yang kalian hadapi akan bisa kalian kerjakan. Teruslah latihan soal, karena nanti kalian akan terbiasa sendiri dengan tipe soal seperti itu. Kalau kalian merasa SBMPTN susah, silakan cari soal SIMAK-UI. Saya pernah mengikuti tes mandiri UI ini. Bahkan saya hanya termenung menyaksikan soalnya selama puluhan menit.

Hadapi!

Tinggal beberapa langkah lagi kalian akan tiba di depan pintu gerbang. Pilihan ada di kalian, mau berusaha keras untuk membuka gembok gerbang itu, atau menyerah lalu balik kanan, dan membiarkan orang lain mengambil tempat kalian. Kalian mungkin akan bercucuran keringat dalam percobaan membukanya, bahkan akan banyak luka yang akan kalian derita.
Jangan jemu, apalagi mudah menyerah. Tempat yang indah memang terbatas, dan hanya yang layak yang bisa menempatinya. Langkahmu sudah sejauh ini, kalau harus kembali dengan tangan hampa, buat apa?
Read more ...

Rabu, 22 April 2015

Karena Membaca itu Seperti Makan dan Minum

Bangun pagi, lalu menanti loper koran mengantarkan harian Kompas yang terbit setiap hari, membacanya sampai waktu berangkat kuliah (pagi) tiba. Begitulah rutinitas saya setiap pagi, sejak Desember tahun lalu. Bahkan jika memang dirasa perlu, saya sering membawa surat kabar itu ke kampus, untuk mengisi waktu kosong di kelas, atau sambil piket di Sekretariat BEM. Setelah hampir 5 bulan berlangganan Harian Kompas, rasanya ada yang kurang pabila tidak membaca dulu koran sebelum beraktivitas.
Tumpukan Koran
 Pernah suatu ketika, loper koran terlambat tiba. Dan saat itu saya harus bergegas untuk menuju kampus karena ada kegiatan yang mesti dihadiri. Rasanya aneh, tanpa tahu apa informasi yang mestinya saya baca pagi ini, tetapi saya harus segera pergi. Bahkan ketika acara LDK BEM dan sekitar pukul 05.30 koran saya belum tiba, lalu saya harus segera berangkat, saya sempat ingin kembali ke kos untuk mengambilnya. Gimana, ya, rasanya aneh saja, jika tak tahu apa-apa sebelum pergi. Apalagi disini jarang nonton televisi, terutama berita.

Kok Langganan Koran?

Era digital, dengan berbagai gawai yang melengkapi, membuat kebanyakan orang menganggap bahwa media cetak sudah ketinggalan zaman. Dengan informasi yang serba real-time, banyak yang beranggapan bahwa media cetak, meskipun terbit harian, sudah tidak relevan lagi mengingat informasi yang diberikan kebanyakan adalah berita tentang peristiwa hari sebelumnya, atau hanya mengabarkan kejadian yang akan terjadi hari ini. Berbeda dengan media daring yang terus mengabarkan setiap saat, dan berlomba-lomba siapa yang paling cepat & akurat.
Setidaknya ada beberapa alasan yang mendasari saya untuk berlangganan koran, dalam hal ini Harian Kompas. Pertama, kehadiran surat kabar setiap pagi akan memaksa saya untuk membaca terlebih dahulu sebelum memulai aktivitas. Dengan membaca, maka kejadian yang terjadi di seantero dunia yang dikabarkan dalam surat kabar dapat saya ketahui. Pengetahuan akan bertambah, dan hal itu membuat apa yang saya tulis dan saya katakan dalam pelbagai kesempatan menjadi lebih memiliki makna.
Kedua, membaca surat kabar akan membuat saya fokus pada membaca surat kabar tersebut, tanpa harus multi tasking dengan membuka media sosial seperti yang sering saya lakukan ketika membaca media daring. Fokus dalam membaca menentukan masuk atau tidaknya isi dari bacaan tersebut ke dalam ingatan. Berbeda dengan ketika membaca di media daring, saya lebih mengingat data-data yang disajikan dalam surat kabar. Hal itu memperkaya khazanah pengetahuan saya.
Selanjutnya, banyak tulisan di media cetak yang tidak dimuat pula dalam media daring, dan tulisan-tulisan tersebut sangat berbobot. Saya yang memang tertarik dengan dunia tulis-menulis serta jurnalistik akan sangat terbantu dengan membaca tulisan-tulisan berbobot milik mereka yang juga sudah terlebih dahulu berkecimpung dalam dunia kepenulisan. Atau tulisan para pengamat dalam rubrik opini yang sayang pabila dilewatkan. Kebanyakan dari tulisan tersebut tidak ikut dimuat dalam media daring milik mereka, karena memang fokus dari media daring adalah mengabarkan dengan cepat (dan akurat) suatu peristiwa yang terjadi secara real-time.
Keempat, tanpa sorotan cahaya dari layar gawai membuat saya bisa bertahan lebih lama dalam membaca. Dengan berbahan kertas, koran membuat saya membaca lebih lama karena mata tidak cepat lelah. Bagi saya, membaca menggunakan gawai membuat mata cepat lelah.
Terakhir, media cetak yang mulai ditinggalkan banyak pihak. Dalam era digital, dengan jumlah gawai yang sudah melebihi jumlah penduduk Indonesia, memang tidak bisa dimungkiri bahwa era buku elektronik, media daring, sudah menguasai jagat. Hal ini membuat beberapa media cetak kelimpungan untuk memenuhi kebutuhan operasional sehingga memilih untuk gulung tikar dan beralih ke media daring. Akan tetapi saya berpendapat, bahwa media cetak haruslah dipertahankan. Mengapa? Ya, alasannya adalah empat alasan saya di atas tadi. Sehingga pabila saya tidak mampu mengajak orang lain untuk ikut membantu, setidaknya saya sendiri ikut membantu agar media cetak tetap bertahan.
Dari beberapa alasan di atas, akhirnya saya memilih untuk tetap berlangganan surat kabar. Dengan harga yang tidak terlampau mahal, karena ada promo harga mahasiswa, juga menjadi salah satu pertimbangan saya dalam memilih berlangganan. Dan setelah hanya berlangganan Harian Kompas, saya menambah satu surat kabar lagi yakni Harian Bola. Hal ini dikarenakan saya yang ingin menambah pengetahuan sepak bola, dan ketertarikan kepada dunia Jurnalistik, termasuk Jurnalisme Olahraga dalam hal ini sepak bola. Rubrik olahraga dalam Harian Kompas saya rasa masih kurang sehingga saya memilih untuk berlangganan harian Bola.

Saling Melengkapi

Seperti yang telah disebutkan tadi, dalam era digital saat ini, kebutuhan informasi yang bersifat real-time mutlak harus didapatkan oleh setiap insan. Jika tidak, ya, akan ketinggalan informasi yang seharusnya diketahui saat itu juga. Media cetak dan media daring adalah dua hal yang tidak terlampau berbeda dan saling melengkapi satu sama lain.
Segala sesuatu yang dilakukan haruslah dipaksakan, baik dari eksternal maupun internal. Membaca adalah kebutuhan pokok saat ini, baik menyukai dunia kepenulisan atau pun tidak. Tanpa membaca, kita tidak akan tahu apa-apa, apa yang kita katakan akan kosong tanpa makna. Dengan adanya surat kabar setiap pagi, itu akan memaksa kita untuk membacanya. Begitu pun dengan media daring, yang biasanya mampir di lini masa media sosial kita. Keduanya saling melengkapi demi memenuhi kebutuhan pokok kita, yakni membaca.

Ya, karena membaca adalah kebutuhan primer. Sama seperti makan dan minum. Tanpa makan dan minum, kita tidak akan bisa hidup. Begitu pula tanpa membaca, semua ungkapan yang termaktub dalam ucapan atau tulisan akan kosong tanpa makna.
 


Read more ...
Designed By Dea Alfi Fauzan