Gelisah,
Kata yang mungkin paling tepat menggambarkan perasaan saya saat
ini. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Gelisah diartikan sebagai tidak
tenteram, selalu merasa khawatir, tidak tenang, tidak sabar lagi dalam menanti,
cemas. Tidak tenteram, karena geliat Ramadhan tak lagi (terlalu) terasa,
menguap seperti embun yang hilang ketika siang menjelang. Khawatir karena
semangat orang berpuasa seakan luntur bak mencuci pakaian warna disertai
pemutih. Cemas karena takut hal ini lantas berlanjut dan bahkan semakin parah
nantinya.
Saya tidak bermaksud sok suci. Tulisan ini juga tidak
bertendensi untuk menghakimi, yang katanya hanya boleh dilakukan oleh Tuhan.
Hanya Tuhan yang paling tahu, bagaimana sebenarnya hidup seseorang. Hanya Tuhan
yang berhak menilai sesuatu itu baik atau buruk.
“Tapi, bukankah Tuhan memberikan kita akal untuk berpikir?
Menurunkan kitab suci agar hendaknya kita pelajari? Maka bukankah jelas apabila
sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan itu bisa dikatakan salah?”
Namun tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membahas itu
semua, membahas ke-berhak-an manusia menilai lalu menghakimi, tapi dari tulisan
ini saya hanya ingin menyampaikan satu hal: kegelisahan.
Dulu, kala berjalan melintasi jalanan siang hari saat bulan
puasa, hampir tak ada warung yang buka (kalaupun buka pasti ditutup rapat-rapat),
tukang es krim yang berkeliling, abang-abang bakso yang mengetuk-ngetuk mangkuk
tanda menawarkan dagangannya. Tapi kini, semua lazim. Seperti bulan-bulan
biasa, tidak ada yang istimewa.
Dulu, hampir tidak pernah saya melihat siang bolong orang
merokok, minum sirup, sambil tertawa-tawa di pinggir jalan. Namun kini, semua
terjadi begitu mudah. Atau bahkan sambil berkendara lantas mengisap rokoknya
dengan wajah tanpa tergurat malu.
“Mungkin saja mereka beragama lain, bukan? Jangan manja, deh. Tak usah mengemis penghormatan dari
minoritas!”
Betul memang. Tapi sayangnya, beberapa (yang melakukannya)
saya kenali. Dan tiap tahun mereka ikut berlebaran, ujian agama Islam waktu
sekolah, dan meski tak pernah melihat tanda pengenalnya, saya meyakini kalau
mereka masih (mengaku) Islam.
Apabila diperhatikan, makin tahun, semua ini makin menjadi.
Yang tadinya hanya tukang es krim berseliweran, sekarang ditambah tukang
siomay, bakso, dan cilok. Jika dulu warung-warung tutup siang hari, lalu
menutup jendela dan pintu dengan kain, sekarang terang-terangan buka. Jika dulu
orang masih ngumpet apabila dirinya
tidak berpuasa, sekarang mereka dengan nyamannya menunjukkan batang hidung.
Saya tidak tahu kenapa saya gelisah. Ya, gelisah saja. Takut
tahun depan tambah parah, tahun depannya lagi makin parah, hingga nantinya
tidak ada satu pun yang menyadari kalau sedang kedatangan sesuatu istimewa bernama Ramadhan.
Tidak ada yang salah memang dengan pernyataan menteri Agama,
yang mengutarakan kalau orang yang berpuasa harus menghormati yang tidak
berpuasa. Tapi mungkin ada yang kurang, Pak. “Begitu pun sebaliknya, orang yang
tidak berpuasa menghormati yang berpuasa. Saling menghormati dan menghargai,”
Itu saja tambahannya. Cukup.
Sebab gelisah adalah rasa yang mesti diungkap. Tidak ada
yang bisa membatasi, karena katanya negeri ini melindungi hak asasi.
Sama
seperti cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar