Breaking News

Jumat, 27 Juni 2014

Awal Ramadhan, Kapan?

Kapan mulai puasa? Ya 1 Ramadhan. Yang menjadi permasalahan adalah Kalender yang berlaku di Indonesia adalah kalender yang mengacu pada peredaran matahari, sedangkan kalender Islam adalah mengacu pada peredaran bulan, sehingga terlihat  maju sekitar 11 hari setiap tahunnya. Padahal sebetulnya tidak, yang ada hanyalah perbedaan jumlah hari dalam setahun.

Umat Islam sepertinya akan memulai kembali memulai Ramadhan tahun ini dengan perbedaan. Dua ormas Islam terbesar yang menggunakan 2 metode berbeda dalam menentukan awal bulan. 2 metode yang selalu diperdebatkan tiap tahunnya, padahal sebetulnya dua-duanya memiliki dalil yang menurut mereka kuat, dan itu sah-sah saja. Toh kan berbeda asal memiliki tujuan yang sama itu tidak apa-apa. J

Saya sendiri berpegangan pada satu dalil yang mengatakan "berpuasalah kalian jika melihat hilal, berbukalah (Idul Fitri) saat melihat hilal" (HR Bukhari). Maka saya lebih prefer pada Rukyatul Hilal atau melihat hilal dengan dalil ini, tapi saya juga tidak menyalahkan pihak yang menggunakan Hisab. Mereka juga memiliki dalil, perbedaan ini yang menjadikan kita kaya.

Rukyatul Hilal kembali terbagi atas 2 bagian, yakni Rukyat Global dan Rukyat Lokal. Indonesia sendiri yang kebanyakan menganut Mazhab Syafi’i mempercayai pada Rukyat Lokal. Sedangkan 3 Mazhab sisanya menganut Rukyat Global. Dalam Rukyat Lokal, para Ulama Mazhab Syafi’i meyakini kalau setiap daerah di dunia jika sudah berbeda 120 Km maka boleh Rukyat sendiri. Hal ini terkait kemampuan kuda pada saat itu yang menjadi kendaraan untuk menyampaikan informasi yang hanya sebatas itu.

Dengan keadaan teknologi yang sangat canggih seperti sekarang, maka informasi akan bisa sangat cepat sampai dari belahan dunia satu ke belahan dunia lain, sehingga sesungguhnya perbedaan-perbedaan tersebut bisa ditekan dan umat di Dunia bisa melaksanakan Ibadah puasa secara bersama termasuk juga merayakan hari raya dengan bersamaan. Tetapi, kembali lagi ke kepercayaan masing-masing dan tafsir terhadap dalil, berbeda tidak apa-apa, karena Ijtihad itu jika benar mendapat 2 pahala, jika salah pun mendapat 1 pahala. Hehehe J

Pendapat Jumhur’ Ulama yang bersandarkan pada Surah Al-Baqarah ayat 185 yang mengatakan bahwa Apabila salah satu diantara Umat Muslim melihat hilal, maka wajib kita berpuasa. Ini tentunya memperlihatkan bahwa apabila ada salah satu saudara kita di negeri lain melihat Hilal, maka wajib kita berpuasa karena sudah memasuki bulan baru. Dari Jumhur’ Ulama ini saya berpendapat kalau Rukyat Global lah yang sebaiknya digunakan, yaitu ketika salah satu dari Umat melihat hilal, siapapun ia dan dimanapun ia asal masih berada di Bumi, wajib kita berpuasa.

Maka dengan menggunakan metode Rukyat Global, sesungguhnya kemungkinan besar 1 Ramadhan bertepatan dengan Sabtu, 28 Juni 2014. Sedangkan apabila menggunakan Rukyat Lokal, maka kemungkinan besar 1 Ramadhan dimulai pada Ahad, 29 Juni 2014. Namun, dengan adanya hal ini maka apabila anda percaya pada Rukyat Lokal, jangan sampai malah berjaga-jaga dengan ikut puasa pada hari Sabtu tetapi mempercayai 1 Ramadhan pada hari Ahad. Karena Rasulullah SAW bersabda:

“Jangan kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari kecuali seseorang yang biasa berpuasa dengan suatu puasa tertentu maka (tetaplah) ia berpuasa” (HR. Bukhari & Muslim)

Maka dengan adanya hal ini, lebih percaya pada pendapat manapun itu terserah. Akan tetapi saya sendiri lebih meyakini bahwa ketika ada umat muslim yang melihat Hilal di suatu belahan dunia, maka saya wajib berpuasa dan hari tersebut sudah memasuki 1 Ramadhan.


Tapi tetaplah menyikapi perbedaan dengan bijak, karena menggunakan metode Hisab, Rukyat Lokal, maupun Rukyat Global semuanya memiliki dalil. Tinggal kita menyikapi mana dalil yang kita yakini merupakan dalil terkuat, karena sejatinya perbedaan diciptakan untuk saling mempersatukan. Marhaban yaa Ramadhan, semoga Ramadhan tahun ini dapat mengambil semua berkah yang Allah turunkan di bulan yang mulia. Jazakumullah Khairan Katsiran. J
Read more ...

Selasa, 24 Juni 2014

Bukankah Serba Mendadak Itu Tidak Baik?

Saya selalu diajarkan untuk merencanakan sesuatu dengan matang sebelum dilaksanakan. Sejak kecil saya jarang sekali melakukan hal-hal yang sifatnya mendadak, termasuk masalah jalan-jalan. Maka ketika saya selalu diajarkan melakukan apapun dengan rencana yang matang, ketika itu apa yang saya lakukan akan terlaksana dengan baik.

Melakukan sesuatu dengan mendadak bisa mengakibatkan apa yang dilakukan tidak maksimal atau bahkan malah akan menghancurkan. Saya akan mengajak anda untuk berintermezo tentang hal-hal yang sifatnya “Dadakan” ini.

Pertama, bagi seorang aktivis sekolah, maka dalam awal tahun ia akan menyusun program dan rencana kerja paling tidak selama setahun kedepan. Gak mendadak kan? Selain itu paling tidak sebulan sebelum kegiatan dilaksanakan proposal sudah harus masuk. Apalagi untuk mencari Sponsor, maka proposal pun harus sudah masuk 3 bulan sebelum kegiatan dilaksanakan. Masih merasa diajarkan untuk Dadakan?

Lalu masalah belajar, kita selalu diberi wejangan oleh guru-guru kita bahwa belajar dadakan atau biasa disebut system kebut semalam itu tidak baik. Dengan alasan yang panjang lebar tentunya kita mengamini bahwa system kebut semalam adalah sebuah cara yang “seharusnya” dihindari, meskipun pada kenyataannya kita sendiri sering melakukannya.

Hal-hal yang melarang kita untuk “memilih” jalan dadakan ini akan saya coba relasikan dengan Pilpres dan mana yang sebaiknya kita pilih. Prabowo Subianto telah melakukan persiapan menjadi Calon Presiden sejak jauh-jauh hari, bahkan sejak 2009 pada saat ia menjadi Calon Wakil Presiden-nya Ibu Megawati Soekarnoputri, ia telah menyatakan diri bahwa ingin menjadi Calon Presiden pada Pilpres 2014. Bahkan pada saat itu ia mengabadikan pernyataan dirinya tersebut dalam perjanjian Batu Tulis yang salah satu isinya adalah meminta Ibu Megawati Soekarnoputri untuk mendukungnya pada Pilpres 2014. Sayangnya ternyata Ibu Megawati mengkhianati janjinya sendiri hehehe J

Hal itu menunjukan kalau konsep kenegaraan yang diusung oleh Prabowo Subianto benar-benar telah ia persiapkan oleh dirinya sendiri sejak jauh-jauh hari. Dan yang saya tangkap dari konsep-konsep yang Prabowo Subianto berikan adalah konsepnya sendiri yang telah ia pelajari 5 tahun belakangan. Ia tentu telah belajar dari pemerintah saat ini, lalu mendengar dari rakyat, dan mengkaji sendiri apa yang seharusnya diterapkan di bangsa ini.

Mari kita bandingkan dengan Calon Presiden yang satunya lagi, yakni yang diusung oleh PDIP, Joko Widodo atau yang biasa dipanggil Jokowi. Jokowi adalah Gubernur DKI Jakarta terpilih periode 2012-2017. Saat ini dia tengah sibuk mempersiapkan dirinya menjadi Calon Presiden dan mengajukan Cuti Gubernur sampai Pilpres selesai. Kenapa tidak mundur saja? Karena takut kalah dan jabatan Gubernur untuk jaga-jaga bila ia kalah. Kasian ya rakyat Jakarta jadi cadangan, Hehehe J

Jokowi mendeklarasikan diri sebagai Calon Presiden pada tanggal 14 Maret 2014. Pada saat itu adalah kurang lebih sebulan sebelum Pemilu Legislatif dan diharapkan dapat meningkatkan suara PDIP lebih dari 20%, tapi ternyata tidak sampai 20% walaupun memenangkan Pileg. 14 Maret 2014 juga titik dimana 4 bulan sebelum Pilpres dilaksanakan. Hal yang serba mendadak dan terkesan tergesa-gesa, tiba-tiba, dan katanya memberi kejutan ini saya rasa tidak etis bagi seorang Calon Presiden yang akan membangun bangsa selama 5 tahun ke depan tetapi persiapannya mepet sekali. Karena saya yakin, konsep yang dibuat Jokowi selama 4 bulan ini bukanlah buatan dirinya sendiri, dengan waktu yang semepet itu saya yakini bahwa dia mengonsepnya bersama tim, belum lagi ditambah pekerjaannya sebagai Gubernur. Duh, Jakarta makin terabaikan.

Perbedaan cara dan waktu mengusung konsep yang dilakukan juga sudah memberi bukti kepada kita bahwa Calon mana yang lebih siap dalam membangun bangsa ini. Terlihat calon mana yang sudah matang konsep yang akan dijalankannya.

Lalu kapan sih kita mulai mengenal Jokowi secara luas? Jokowi dikenal karena prestasinya yang katanya adalah 50 besar Walikota terbaik di dunia. Apa prestasi yang ditonjolkan kepada khalayak ramai saat itu? Mobil Esemka. Ya, saya ingat betul saat itu saya disuguhkan kebanggaan tersendiri melihat teman-teman saya yang dari Solo bisa membuat sebuah mobil berlabelkan Esemka. Bahkan saya berencana jika sudah bekerja nanti saya ingin membeli mobil itu saja, gak kalah keren kok. Nah, sejak saat itulah Jokowi dikenal dan popularitasnya semakin menanjak kala ia mencalonkan diri sebagai Cagub Jakarta. Tapi ternyata Mobil esemka tak bertahan lama, bahkan sekarang terkuak bahwa mobil tersebut hanyalah rakitan belaka yang hampir semua anak SMK bisa melakukannya. Sejak saat itu ia mulai gemar blusukan, pergi ke kampung-kampung, masuk ke dalam got, bermandikan air comberan, tak lupa bersama media.


Marilah kita melihat lebih terbuka dengan pikiran yang jernih, andai saja Jokowi blusukan tanpa media, lalu kerjanya terasa nyata, maka saya akan mempertimbangkan untuk memilihnya. Pilih yang benar-benar siap, tidak serba dadakan, karena yang serba mendadak sejatinya tidak baik. Pilih dan pilah dengan pemikiran dan kajian, jangan tertipu oleh pencitraan. Jangan pilih yang mendadak tenar, mendadak nyapres, nanti Negara kita jadi mendadak hancur. J
Read more ...

KENAPA (HARUS) PRABOWO?

Pada pilpres kali ini mungkin teman-teman heran melihat saya sangat frontal untuk mendukung salah satu calon presiden. Banyak yang berkomentar, “untuk apa sih?”, “Emang kalo dia menang lu bakal dapet apa?”, dan banyak pertanyaan lain yang intinya adalah mempertanyakan kenapa saya begitu frontal dan terlihat fanatik dalam mendukung Prabowo Subianto di Pilpres kali ini.

Sebelum sampai ke penjelasan kesana, ada baiknya saya sampaikan sesuatu dulu. Sebetulnya dari kedua calon presiden baik Prabowo maupun Jokowi, dua-duanya tidak ada yang sangat sreg di hati saya. Karena bahwa saya harus memilih, pada saat penutupan pendaftaran calon presiden saya langsung meminta petunjuk pada Allah untuk diberikan wejangan mana yang pantas saya pilih dan dukung. Lalu saya ditunjukan pada beberapa fakta menarik mengenai Jokowi dan Prabowo.

Mau fakta yang mana dulu? Jokowi dulu aja ya. Saya sangat mengakui bahwa Jokowi adalah pemimpin yang sangat merakyat, mau masuk ke got demi rakyatnya, bahkan ketika ada tangga untuk naik melewati banjir, ia memilih untuk memanjat tiang tangga bukan naik melewati tangga. Ia adalah pemimpin yang selalu mengatakan, “2 tahun selesai”, “4 tahun selesai”, dan ternyata sampai saat ini belum ada yang terbukti secara nyata.

Saya masih ingat ketika Pilkada Jakarta dan menyaksikan cuplikan kampanye beliau dan banyak mengatakan, “Jakarta bla bla bla bla, dan saya bersama Basuki akan menyelesaikan persoalan Banjir dan Macet di Jakarta selama 2 tahun”. Memang belum genap 2 tahun, tapi sudah semakin mendekati 2 tahun dan belum ada tanda-tanda macet dan banjir Jakarta akan segera selesai. Tetap saja semrawut.

Lalu warisan Jakarta yang akan ia tinggalkan kepada Ahok jika ia terpilih menjadi Presiden adalah alasan kenapa saya memilih untuk tidak memilih Jokowi. Dalam agama yang saya anut, Islam, dilarang untuk memilih Pemimpin dari golongan Kafir. Maka ketika kita memilih Jokowi, bukankah kita juga berarti memilih Ahok untuk memimpin Jakarta?

Beberapa minggu yang lalu saya berkesempatan mengunjungi tanah abang yang katanya sudah rapi. Dengan harapan saya tidak melihat kesemrawutan yang terjadi ketika zaman Foke, ternyata Tanah Abang zaman Jokowi tetap semrawut, masih sama seperti dulu. Makanya saya heran, kok bisa-bisanya pada saat Debat pertama Jokowi menjual Tanah Abang sebagai prestasinya. Hehehe J

Lalu saya juga diberi kesempatan oleh Allah untuk mengingat Jokowi tak lama setelah pelantikannya sebagai Gubernur Jakarta. Pada saat itu dia pernah berkata, “Banyak yang mengisukan bahwa saya akan meninggalkan Jakarta di tengah jalan, diisukan seperti itu. Hari ini, di depan rakyat Jakarta saya katakan bahwa Jokowi dan Basuki BERKOMITMEN AKAN MENYELESAIKAN JAKARTA SELAMA 5 TAHUN.” Dengan pernyataannya seperti itu, maka dengan tidak memilih Jokowi maka saya mendukung Jokowi untuk tetap menjadi Gubernur dan menyelesaikan komitmennya untuk membereskan Jakarta selama 5 tahun masa Jabatannya. Siapa yang ingin dipimpin orang yang mencla-mencle dan sering bohong? J

Berbicara mengenai siapa yang berada di belakang Jokowi, maka saya semakin yakin bahwa tidak akan memilih Jokowi dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak terpilihnya Jokowi menjadi Presiden. Partai pengusungnya, yakni PDIP adalah salah satu partai yang seringkali memperlihatkan “anti-Islam” dengan berbagai tindakan dan kebijakan yang mereka ambil, seperti menolak penutupan lokalisasi Dolly, pernyataan berbagai kadernya yang merendahkan Palestina, menolak UU Anti Pornografi, wacana penghapusan Perda Syariat Islam jika Jokowi terpilih, dan yang terbaru adalah wacana penghapusan kolom Agama dalam KTP. Selain PDIP, maka Jokowi juga disokong oleh Jaringan Islam Liberal dengan paham liberalismenya, Syiah yang jelas-jelas bertentangan dengan syariat Islam, Ahmadiyah yang merupakan aliran sesat, dan lain sebagainya. Dengan orang-orang seperti itu saya khawatir Islam akan minoritas di negerinya sendiri jika Jokowi menjabat sebagai Presiden.

Lalu, kenapa saya memilih Prabowo? Apakah karena saya hanya “membenci” Jokowi dan orang-orang dibelakangnya? Tentu tidak, saya juga melihat fakta mengenai Prabowo yang membuat saya ingin memilih dan mendukungnya.

Dengan ketegasan dan kewibawaannya, saya meyakini bahwa Prabowo akan menjadi pemimpin yang disegani, baik oleh bangsa sendiri maupun oleh bangsa lain. Kondisi Indonesia saat ini yang sering dilecehkan bahkan kepentingan bangsanya sering dikorbankan demi kepentingan asing membuat Prabowo menjadi sosok yang tepat untuk memimpin negeri ini lima tahun ke depan.

Terkait kasus pelanggaran HAM yang katanya melibatkan Prabowo, saya rasa Prabowo sudah mempertanggung jawabkannya ke Pengadilan Militer saat itu. Selain belum ada bukti kuat, yang ada hanya saksi, dan ketika itu saya rasa Prabowo hanyalah seorang Prajurit yang memiliki atasan yakni Wiranto. Dengan prinsip di militer yakni, “Prajurit tak pernah salah, yang salah adalah Komandannya” maka saya juga berpegangan bahwa dalam kasus tersebut walaupun Prabowo bersalah, yang patut untuk lebih dipersalahkan adalah Wiranto dan pimpinan lainnya. Selain itu, kasus tersebut belum ada bukti yang sangat kuat dan jelas, jadi bagi yang mempersalahkannya dan pada saat itu masih ingusan, silakan cari buktinya baru kembali mempermasalahkannya ya J

Gagasan utama Prabowo yang mengutamakan kemakmuran rakyat dengan menekan kebocoran anggaran dan sumber daya alam juga menarik minat saya. Saat ini sudah terlalu banyak sumber daya alam dan anggaran kita yang merembes ke pihak asing. Padahal dalam UUD 1945 sangat jelas diterangkan bahwa seluruh kekayaan alam adalah untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Fakta lain mengenai Prabowo adalah ia berlatarbelakang militer dan Hatta Rajasa berlatarbelakang ekonom. Kombinasi yang menarik menurut saya, karena saat Presiden kita berlatarbelakang militer tak satu jengkal pun tanah air ini lepas dari genggaman. Bandingkan ketika dipegang Presiden yang dari pihak sipil, Timor Timur lepas, Indosat lepas, banyak kontroversi, dsb. Dengan wakil yang dari ekonom, akan terjadi pembagian kerja yang jelas dan terarah dari keduanya. Prabowo akan mendominasi, tapi tidak terlalu mendominasi karena pembagian kerjanya akan jelas dengan Hatta. Tidak seperti saat ini yang mungkin Pak SBY sangatlah mendominasi dan kita seakan lupa masih memiliki Wakil Presiden. Atau kita bandingkan dengan komposisi Jokowi-JK yang menurut saya akan terjadi dualisme kepemimpinan. Dua-duanya akan merasa paling superpower, karena kita tahu sendiri bahwa pak JK adalah mantan Wapres yang tentunya sudah sangat berpengalaman, menginginkan kepemimpinan yang “lebih” dari sebelumnya, dan usianya pun sudah cukup tua.


Langit Jakarta terlihat sangat mendung pagi ini, semoga tak terjadi hujan lebat yang menghalangi aktivitas seluruh mahasiswa yang akan kuliah hari ini. Karena saya libur hari ini, setelah begadang nonton Piala Dunia, dilanjutkan dengan main kartu-kartuan, biar dibilang keren dan kekinian, bukan zaman batu. J
Read more ...
Designed By Dea Alfi Fauzan