Breaking News

Selasa, 24 Juni 2014

Bukankah Serba Mendadak Itu Tidak Baik?

Saya selalu diajarkan untuk merencanakan sesuatu dengan matang sebelum dilaksanakan. Sejak kecil saya jarang sekali melakukan hal-hal yang sifatnya mendadak, termasuk masalah jalan-jalan. Maka ketika saya selalu diajarkan melakukan apapun dengan rencana yang matang, ketika itu apa yang saya lakukan akan terlaksana dengan baik.

Melakukan sesuatu dengan mendadak bisa mengakibatkan apa yang dilakukan tidak maksimal atau bahkan malah akan menghancurkan. Saya akan mengajak anda untuk berintermezo tentang hal-hal yang sifatnya “Dadakan” ini.

Pertama, bagi seorang aktivis sekolah, maka dalam awal tahun ia akan menyusun program dan rencana kerja paling tidak selama setahun kedepan. Gak mendadak kan? Selain itu paling tidak sebulan sebelum kegiatan dilaksanakan proposal sudah harus masuk. Apalagi untuk mencari Sponsor, maka proposal pun harus sudah masuk 3 bulan sebelum kegiatan dilaksanakan. Masih merasa diajarkan untuk Dadakan?

Lalu masalah belajar, kita selalu diberi wejangan oleh guru-guru kita bahwa belajar dadakan atau biasa disebut system kebut semalam itu tidak baik. Dengan alasan yang panjang lebar tentunya kita mengamini bahwa system kebut semalam adalah sebuah cara yang “seharusnya” dihindari, meskipun pada kenyataannya kita sendiri sering melakukannya.

Hal-hal yang melarang kita untuk “memilih” jalan dadakan ini akan saya coba relasikan dengan Pilpres dan mana yang sebaiknya kita pilih. Prabowo Subianto telah melakukan persiapan menjadi Calon Presiden sejak jauh-jauh hari, bahkan sejak 2009 pada saat ia menjadi Calon Wakil Presiden-nya Ibu Megawati Soekarnoputri, ia telah menyatakan diri bahwa ingin menjadi Calon Presiden pada Pilpres 2014. Bahkan pada saat itu ia mengabadikan pernyataan dirinya tersebut dalam perjanjian Batu Tulis yang salah satu isinya adalah meminta Ibu Megawati Soekarnoputri untuk mendukungnya pada Pilpres 2014. Sayangnya ternyata Ibu Megawati mengkhianati janjinya sendiri hehehe J

Hal itu menunjukan kalau konsep kenegaraan yang diusung oleh Prabowo Subianto benar-benar telah ia persiapkan oleh dirinya sendiri sejak jauh-jauh hari. Dan yang saya tangkap dari konsep-konsep yang Prabowo Subianto berikan adalah konsepnya sendiri yang telah ia pelajari 5 tahun belakangan. Ia tentu telah belajar dari pemerintah saat ini, lalu mendengar dari rakyat, dan mengkaji sendiri apa yang seharusnya diterapkan di bangsa ini.

Mari kita bandingkan dengan Calon Presiden yang satunya lagi, yakni yang diusung oleh PDIP, Joko Widodo atau yang biasa dipanggil Jokowi. Jokowi adalah Gubernur DKI Jakarta terpilih periode 2012-2017. Saat ini dia tengah sibuk mempersiapkan dirinya menjadi Calon Presiden dan mengajukan Cuti Gubernur sampai Pilpres selesai. Kenapa tidak mundur saja? Karena takut kalah dan jabatan Gubernur untuk jaga-jaga bila ia kalah. Kasian ya rakyat Jakarta jadi cadangan, Hehehe J

Jokowi mendeklarasikan diri sebagai Calon Presiden pada tanggal 14 Maret 2014. Pada saat itu adalah kurang lebih sebulan sebelum Pemilu Legislatif dan diharapkan dapat meningkatkan suara PDIP lebih dari 20%, tapi ternyata tidak sampai 20% walaupun memenangkan Pileg. 14 Maret 2014 juga titik dimana 4 bulan sebelum Pilpres dilaksanakan. Hal yang serba mendadak dan terkesan tergesa-gesa, tiba-tiba, dan katanya memberi kejutan ini saya rasa tidak etis bagi seorang Calon Presiden yang akan membangun bangsa selama 5 tahun ke depan tetapi persiapannya mepet sekali. Karena saya yakin, konsep yang dibuat Jokowi selama 4 bulan ini bukanlah buatan dirinya sendiri, dengan waktu yang semepet itu saya yakini bahwa dia mengonsepnya bersama tim, belum lagi ditambah pekerjaannya sebagai Gubernur. Duh, Jakarta makin terabaikan.

Perbedaan cara dan waktu mengusung konsep yang dilakukan juga sudah memberi bukti kepada kita bahwa Calon mana yang lebih siap dalam membangun bangsa ini. Terlihat calon mana yang sudah matang konsep yang akan dijalankannya.

Lalu kapan sih kita mulai mengenal Jokowi secara luas? Jokowi dikenal karena prestasinya yang katanya adalah 50 besar Walikota terbaik di dunia. Apa prestasi yang ditonjolkan kepada khalayak ramai saat itu? Mobil Esemka. Ya, saya ingat betul saat itu saya disuguhkan kebanggaan tersendiri melihat teman-teman saya yang dari Solo bisa membuat sebuah mobil berlabelkan Esemka. Bahkan saya berencana jika sudah bekerja nanti saya ingin membeli mobil itu saja, gak kalah keren kok. Nah, sejak saat itulah Jokowi dikenal dan popularitasnya semakin menanjak kala ia mencalonkan diri sebagai Cagub Jakarta. Tapi ternyata Mobil esemka tak bertahan lama, bahkan sekarang terkuak bahwa mobil tersebut hanyalah rakitan belaka yang hampir semua anak SMK bisa melakukannya. Sejak saat itu ia mulai gemar blusukan, pergi ke kampung-kampung, masuk ke dalam got, bermandikan air comberan, tak lupa bersama media.


Marilah kita melihat lebih terbuka dengan pikiran yang jernih, andai saja Jokowi blusukan tanpa media, lalu kerjanya terasa nyata, maka saya akan mempertimbangkan untuk memilihnya. Pilih yang benar-benar siap, tidak serba dadakan, karena yang serba mendadak sejatinya tidak baik. Pilih dan pilah dengan pemikiran dan kajian, jangan tertipu oleh pencitraan. Jangan pilih yang mendadak tenar, mendadak nyapres, nanti Negara kita jadi mendadak hancur. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Dea Alfi Fauzan