Saya selalu diajarkan untuk
merencanakan sesuatu dengan matang sebelum dilaksanakan. Sejak kecil saya
jarang sekali melakukan hal-hal yang sifatnya mendadak, termasuk masalah
jalan-jalan. Maka ketika saya selalu diajarkan melakukan apapun dengan rencana
yang matang, ketika itu apa yang saya lakukan akan terlaksana dengan baik.
Melakukan sesuatu dengan mendadak
bisa mengakibatkan apa yang dilakukan tidak maksimal atau bahkan malah akan
menghancurkan. Saya akan mengajak anda untuk berintermezo tentang hal-hal yang
sifatnya “Dadakan” ini.
Pertama, bagi seorang aktivis
sekolah, maka dalam awal tahun ia akan menyusun program dan rencana kerja
paling tidak selama setahun kedepan. Gak mendadak kan? Selain itu paling tidak
sebulan sebelum kegiatan dilaksanakan proposal sudah harus masuk. Apalagi untuk
mencari Sponsor, maka proposal pun harus sudah masuk 3 bulan sebelum kegiatan
dilaksanakan. Masih merasa diajarkan untuk Dadakan?
Lalu masalah belajar, kita selalu
diberi wejangan oleh guru-guru kita bahwa belajar dadakan atau biasa disebut system
kebut semalam itu tidak baik. Dengan alasan yang panjang lebar tentunya kita mengamini bahwa system
kebut semalam adalah sebuah cara yang “seharusnya” dihindari, meskipun pada
kenyataannya kita sendiri sering melakukannya.
Hal-hal yang melarang kita untuk “memilih”
jalan dadakan ini akan saya coba relasikan dengan Pilpres dan mana yang
sebaiknya kita pilih. Prabowo Subianto telah melakukan persiapan menjadi Calon
Presiden sejak jauh-jauh hari, bahkan sejak 2009 pada saat ia menjadi Calon
Wakil Presiden-nya Ibu Megawati Soekarnoputri, ia telah menyatakan diri bahwa
ingin menjadi Calon Presiden pada Pilpres 2014. Bahkan pada saat itu ia
mengabadikan pernyataan dirinya tersebut dalam perjanjian Batu Tulis yang salah
satu isinya adalah meminta Ibu Megawati Soekarnoputri untuk mendukungnya pada
Pilpres 2014. Sayangnya ternyata Ibu Megawati mengkhianati janjinya sendiri
hehehe J
Hal itu menunjukan kalau konsep
kenegaraan yang diusung oleh Prabowo Subianto benar-benar telah ia persiapkan
oleh dirinya sendiri sejak jauh-jauh hari. Dan yang saya tangkap dari
konsep-konsep yang Prabowo Subianto berikan adalah konsepnya sendiri yang telah
ia pelajari 5 tahun belakangan. Ia tentu telah belajar dari pemerintah saat
ini, lalu mendengar dari rakyat, dan mengkaji sendiri apa yang seharusnya
diterapkan di bangsa ini.
Mari kita bandingkan dengan Calon
Presiden yang satunya lagi, yakni yang diusung oleh PDIP, Joko Widodo atau yang
biasa dipanggil Jokowi. Jokowi adalah Gubernur DKI Jakarta terpilih periode
2012-2017. Saat ini dia tengah sibuk mempersiapkan dirinya menjadi Calon
Presiden dan mengajukan Cuti Gubernur sampai Pilpres selesai. Kenapa tidak
mundur saja? Karena takut kalah dan jabatan Gubernur untuk jaga-jaga bila ia
kalah. Kasian ya rakyat Jakarta jadi cadangan, Hehehe J
Jokowi mendeklarasikan diri
sebagai Calon Presiden pada tanggal 14 Maret 2014. Pada saat itu adalah kurang
lebih sebulan sebelum Pemilu Legislatif dan diharapkan dapat meningkatkan suara
PDIP lebih dari 20%, tapi ternyata tidak sampai 20% walaupun memenangkan Pileg.
14 Maret 2014 juga titik dimana 4 bulan sebelum Pilpres dilaksanakan. Hal yang
serba mendadak dan terkesan tergesa-gesa, tiba-tiba, dan katanya memberi
kejutan ini saya rasa tidak etis bagi seorang Calon Presiden yang akan
membangun bangsa selama 5 tahun ke depan tetapi persiapannya mepet sekali.
Karena saya yakin, konsep yang dibuat Jokowi selama 4 bulan ini bukanlah buatan
dirinya sendiri, dengan waktu yang semepet itu saya yakini bahwa dia
mengonsepnya bersama tim, belum lagi ditambah pekerjaannya sebagai Gubernur.
Duh, Jakarta makin terabaikan.
Perbedaan cara dan waktu mengusung konsep
yang dilakukan juga sudah memberi bukti kepada kita bahwa Calon mana yang lebih
siap dalam membangun bangsa ini. Terlihat calon mana yang sudah matang konsep
yang akan dijalankannya.
Lalu kapan sih kita mulai
mengenal Jokowi secara luas? Jokowi dikenal karena prestasinya yang katanya
adalah 50 besar Walikota terbaik di dunia. Apa prestasi yang ditonjolkan kepada
khalayak ramai saat itu? Mobil Esemka. Ya, saya ingat betul saat itu saya
disuguhkan kebanggaan tersendiri melihat teman-teman saya yang dari Solo bisa
membuat sebuah mobil berlabelkan Esemka. Bahkan saya berencana jika sudah
bekerja nanti saya ingin membeli mobil itu saja, gak kalah keren kok. Nah,
sejak saat itulah Jokowi dikenal dan popularitasnya semakin menanjak kala ia
mencalonkan diri sebagai Cagub Jakarta. Tapi ternyata Mobil esemka tak bertahan
lama, bahkan sekarang terkuak bahwa mobil tersebut hanyalah rakitan belaka yang
hampir semua anak SMK bisa melakukannya. Sejak saat itu ia mulai gemar
blusukan, pergi ke kampung-kampung, masuk ke dalam got, bermandikan air comberan,
tak lupa bersama media.
Marilah kita melihat lebih
terbuka dengan pikiran yang jernih, andai saja Jokowi blusukan tanpa media,
lalu kerjanya terasa nyata, maka saya akan mempertimbangkan untuk memilihnya.
Pilih yang benar-benar siap, tidak serba dadakan, karena yang serba mendadak
sejatinya tidak baik. Pilih dan pilah dengan pemikiran dan kajian, jangan
tertipu oleh pencitraan. Jangan pilih yang mendadak tenar, mendadak nyapres,
nanti Negara kita jadi mendadak hancur. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar