Breaking News

Selasa, 24 Juni 2014

KENAPA (HARUS) PRABOWO?

Pada pilpres kali ini mungkin teman-teman heran melihat saya sangat frontal untuk mendukung salah satu calon presiden. Banyak yang berkomentar, “untuk apa sih?”, “Emang kalo dia menang lu bakal dapet apa?”, dan banyak pertanyaan lain yang intinya adalah mempertanyakan kenapa saya begitu frontal dan terlihat fanatik dalam mendukung Prabowo Subianto di Pilpres kali ini.

Sebelum sampai ke penjelasan kesana, ada baiknya saya sampaikan sesuatu dulu. Sebetulnya dari kedua calon presiden baik Prabowo maupun Jokowi, dua-duanya tidak ada yang sangat sreg di hati saya. Karena bahwa saya harus memilih, pada saat penutupan pendaftaran calon presiden saya langsung meminta petunjuk pada Allah untuk diberikan wejangan mana yang pantas saya pilih dan dukung. Lalu saya ditunjukan pada beberapa fakta menarik mengenai Jokowi dan Prabowo.

Mau fakta yang mana dulu? Jokowi dulu aja ya. Saya sangat mengakui bahwa Jokowi adalah pemimpin yang sangat merakyat, mau masuk ke got demi rakyatnya, bahkan ketika ada tangga untuk naik melewati banjir, ia memilih untuk memanjat tiang tangga bukan naik melewati tangga. Ia adalah pemimpin yang selalu mengatakan, “2 tahun selesai”, “4 tahun selesai”, dan ternyata sampai saat ini belum ada yang terbukti secara nyata.

Saya masih ingat ketika Pilkada Jakarta dan menyaksikan cuplikan kampanye beliau dan banyak mengatakan, “Jakarta bla bla bla bla, dan saya bersama Basuki akan menyelesaikan persoalan Banjir dan Macet di Jakarta selama 2 tahun”. Memang belum genap 2 tahun, tapi sudah semakin mendekati 2 tahun dan belum ada tanda-tanda macet dan banjir Jakarta akan segera selesai. Tetap saja semrawut.

Lalu warisan Jakarta yang akan ia tinggalkan kepada Ahok jika ia terpilih menjadi Presiden adalah alasan kenapa saya memilih untuk tidak memilih Jokowi. Dalam agama yang saya anut, Islam, dilarang untuk memilih Pemimpin dari golongan Kafir. Maka ketika kita memilih Jokowi, bukankah kita juga berarti memilih Ahok untuk memimpin Jakarta?

Beberapa minggu yang lalu saya berkesempatan mengunjungi tanah abang yang katanya sudah rapi. Dengan harapan saya tidak melihat kesemrawutan yang terjadi ketika zaman Foke, ternyata Tanah Abang zaman Jokowi tetap semrawut, masih sama seperti dulu. Makanya saya heran, kok bisa-bisanya pada saat Debat pertama Jokowi menjual Tanah Abang sebagai prestasinya. Hehehe J

Lalu saya juga diberi kesempatan oleh Allah untuk mengingat Jokowi tak lama setelah pelantikannya sebagai Gubernur Jakarta. Pada saat itu dia pernah berkata, “Banyak yang mengisukan bahwa saya akan meninggalkan Jakarta di tengah jalan, diisukan seperti itu. Hari ini, di depan rakyat Jakarta saya katakan bahwa Jokowi dan Basuki BERKOMITMEN AKAN MENYELESAIKAN JAKARTA SELAMA 5 TAHUN.” Dengan pernyataannya seperti itu, maka dengan tidak memilih Jokowi maka saya mendukung Jokowi untuk tetap menjadi Gubernur dan menyelesaikan komitmennya untuk membereskan Jakarta selama 5 tahun masa Jabatannya. Siapa yang ingin dipimpin orang yang mencla-mencle dan sering bohong? J

Berbicara mengenai siapa yang berada di belakang Jokowi, maka saya semakin yakin bahwa tidak akan memilih Jokowi dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak terpilihnya Jokowi menjadi Presiden. Partai pengusungnya, yakni PDIP adalah salah satu partai yang seringkali memperlihatkan “anti-Islam” dengan berbagai tindakan dan kebijakan yang mereka ambil, seperti menolak penutupan lokalisasi Dolly, pernyataan berbagai kadernya yang merendahkan Palestina, menolak UU Anti Pornografi, wacana penghapusan Perda Syariat Islam jika Jokowi terpilih, dan yang terbaru adalah wacana penghapusan kolom Agama dalam KTP. Selain PDIP, maka Jokowi juga disokong oleh Jaringan Islam Liberal dengan paham liberalismenya, Syiah yang jelas-jelas bertentangan dengan syariat Islam, Ahmadiyah yang merupakan aliran sesat, dan lain sebagainya. Dengan orang-orang seperti itu saya khawatir Islam akan minoritas di negerinya sendiri jika Jokowi menjabat sebagai Presiden.

Lalu, kenapa saya memilih Prabowo? Apakah karena saya hanya “membenci” Jokowi dan orang-orang dibelakangnya? Tentu tidak, saya juga melihat fakta mengenai Prabowo yang membuat saya ingin memilih dan mendukungnya.

Dengan ketegasan dan kewibawaannya, saya meyakini bahwa Prabowo akan menjadi pemimpin yang disegani, baik oleh bangsa sendiri maupun oleh bangsa lain. Kondisi Indonesia saat ini yang sering dilecehkan bahkan kepentingan bangsanya sering dikorbankan demi kepentingan asing membuat Prabowo menjadi sosok yang tepat untuk memimpin negeri ini lima tahun ke depan.

Terkait kasus pelanggaran HAM yang katanya melibatkan Prabowo, saya rasa Prabowo sudah mempertanggung jawabkannya ke Pengadilan Militer saat itu. Selain belum ada bukti kuat, yang ada hanya saksi, dan ketika itu saya rasa Prabowo hanyalah seorang Prajurit yang memiliki atasan yakni Wiranto. Dengan prinsip di militer yakni, “Prajurit tak pernah salah, yang salah adalah Komandannya” maka saya juga berpegangan bahwa dalam kasus tersebut walaupun Prabowo bersalah, yang patut untuk lebih dipersalahkan adalah Wiranto dan pimpinan lainnya. Selain itu, kasus tersebut belum ada bukti yang sangat kuat dan jelas, jadi bagi yang mempersalahkannya dan pada saat itu masih ingusan, silakan cari buktinya baru kembali mempermasalahkannya ya J

Gagasan utama Prabowo yang mengutamakan kemakmuran rakyat dengan menekan kebocoran anggaran dan sumber daya alam juga menarik minat saya. Saat ini sudah terlalu banyak sumber daya alam dan anggaran kita yang merembes ke pihak asing. Padahal dalam UUD 1945 sangat jelas diterangkan bahwa seluruh kekayaan alam adalah untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Fakta lain mengenai Prabowo adalah ia berlatarbelakang militer dan Hatta Rajasa berlatarbelakang ekonom. Kombinasi yang menarik menurut saya, karena saat Presiden kita berlatarbelakang militer tak satu jengkal pun tanah air ini lepas dari genggaman. Bandingkan ketika dipegang Presiden yang dari pihak sipil, Timor Timur lepas, Indosat lepas, banyak kontroversi, dsb. Dengan wakil yang dari ekonom, akan terjadi pembagian kerja yang jelas dan terarah dari keduanya. Prabowo akan mendominasi, tapi tidak terlalu mendominasi karena pembagian kerjanya akan jelas dengan Hatta. Tidak seperti saat ini yang mungkin Pak SBY sangatlah mendominasi dan kita seakan lupa masih memiliki Wakil Presiden. Atau kita bandingkan dengan komposisi Jokowi-JK yang menurut saya akan terjadi dualisme kepemimpinan. Dua-duanya akan merasa paling superpower, karena kita tahu sendiri bahwa pak JK adalah mantan Wapres yang tentunya sudah sangat berpengalaman, menginginkan kepemimpinan yang “lebih” dari sebelumnya, dan usianya pun sudah cukup tua.


Langit Jakarta terlihat sangat mendung pagi ini, semoga tak terjadi hujan lebat yang menghalangi aktivitas seluruh mahasiswa yang akan kuliah hari ini. Karena saya libur hari ini, setelah begadang nonton Piala Dunia, dilanjutkan dengan main kartu-kartuan, biar dibilang keren dan kekinian, bukan zaman batu. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Dea Alfi Fauzan