Pada pilpres kali ini mungkin
teman-teman heran melihat saya sangat frontal untuk mendukung salah satu calon
presiden. Banyak yang berkomentar, “untuk apa sih?”, “Emang kalo dia menang lu bakal
dapet apa?”, dan banyak pertanyaan lain yang intinya adalah mempertanyakan
kenapa saya begitu frontal dan terlihat fanatik dalam mendukung Prabowo
Subianto di Pilpres kali ini.
Sebelum sampai ke penjelasan
kesana, ada baiknya saya sampaikan sesuatu dulu. Sebetulnya dari kedua calon
presiden baik Prabowo maupun Jokowi, dua-duanya tidak ada yang sangat sreg di
hati saya. Karena bahwa saya harus memilih, pada saat penutupan pendaftaran
calon presiden saya langsung meminta petunjuk pada Allah untuk diberikan
wejangan mana yang pantas saya pilih dan dukung. Lalu saya ditunjukan pada
beberapa fakta menarik mengenai Jokowi dan Prabowo.
Mau fakta yang mana dulu? Jokowi
dulu aja ya. Saya sangat mengakui bahwa Jokowi adalah pemimpin yang sangat
merakyat, mau masuk ke got demi rakyatnya, bahkan ketika ada tangga untuk naik
melewati banjir, ia memilih untuk memanjat tiang tangga bukan naik melewati
tangga. Ia adalah pemimpin yang selalu mengatakan, “2 tahun selesai”, “4 tahun
selesai”, dan ternyata sampai saat ini belum ada yang terbukti secara nyata.
Saya masih ingat ketika Pilkada
Jakarta dan menyaksikan cuplikan kampanye beliau dan banyak mengatakan, “Jakarta
bla bla bla bla, dan saya bersama Basuki akan menyelesaikan persoalan Banjir
dan Macet di Jakarta selama 2 tahun”. Memang belum genap 2 tahun, tapi sudah
semakin mendekati 2 tahun dan belum ada tanda-tanda macet dan banjir Jakarta
akan segera selesai. Tetap saja semrawut.
Lalu warisan Jakarta yang akan ia
tinggalkan kepada Ahok jika ia terpilih menjadi Presiden adalah alasan kenapa
saya memilih untuk tidak memilih Jokowi. Dalam agama yang saya anut, Islam,
dilarang untuk memilih Pemimpin dari golongan Kafir. Maka ketika kita memilih
Jokowi, bukankah kita juga berarti memilih Ahok untuk memimpin Jakarta?
Beberapa minggu yang lalu saya
berkesempatan mengunjungi tanah abang yang katanya sudah rapi. Dengan harapan
saya tidak melihat kesemrawutan yang terjadi ketika zaman Foke, ternyata Tanah
Abang zaman Jokowi tetap semrawut, masih sama seperti dulu. Makanya saya heran,
kok bisa-bisanya pada saat Debat pertama Jokowi menjual Tanah Abang sebagai
prestasinya. Hehehe J
Lalu saya juga diberi kesempatan
oleh Allah untuk mengingat Jokowi tak lama setelah pelantikannya sebagai
Gubernur Jakarta. Pada saat itu dia pernah berkata, “Banyak yang mengisukan
bahwa saya akan meninggalkan Jakarta di tengah jalan, diisukan seperti itu.
Hari ini, di depan rakyat Jakarta saya katakan bahwa Jokowi dan Basuki
BERKOMITMEN AKAN MENYELESAIKAN JAKARTA SELAMA 5 TAHUN.” Dengan pernyataannya
seperti itu, maka dengan tidak memilih Jokowi maka saya mendukung Jokowi untuk
tetap menjadi Gubernur dan menyelesaikan komitmennya untuk membereskan Jakarta
selama 5 tahun masa Jabatannya. Siapa yang ingin dipimpin orang yang
mencla-mencle dan sering bohong? J
Berbicara mengenai siapa yang
berada di belakang Jokowi, maka saya semakin yakin bahwa tidak akan memilih
Jokowi dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak terpilihnya Jokowi menjadi
Presiden. Partai pengusungnya, yakni PDIP adalah salah satu partai yang
seringkali memperlihatkan “anti-Islam” dengan berbagai tindakan dan kebijakan
yang mereka ambil, seperti menolak penutupan lokalisasi Dolly, pernyataan
berbagai kadernya yang merendahkan Palestina, menolak UU Anti Pornografi, wacana
penghapusan Perda Syariat Islam jika Jokowi terpilih, dan yang terbaru adalah
wacana penghapusan kolom Agama dalam KTP. Selain PDIP, maka Jokowi juga
disokong oleh Jaringan Islam Liberal dengan paham liberalismenya, Syiah yang jelas-jelas
bertentangan dengan syariat Islam, Ahmadiyah yang merupakan aliran sesat, dan
lain sebagainya. Dengan orang-orang seperti itu saya khawatir Islam akan
minoritas di negerinya sendiri jika Jokowi menjabat sebagai Presiden.
Lalu, kenapa saya memilih
Prabowo? Apakah karena saya hanya “membenci” Jokowi dan orang-orang
dibelakangnya? Tentu tidak, saya juga melihat fakta mengenai Prabowo yang
membuat saya ingin memilih dan mendukungnya.
Dengan ketegasan dan
kewibawaannya, saya meyakini bahwa Prabowo akan menjadi pemimpin yang disegani,
baik oleh bangsa sendiri maupun oleh bangsa lain. Kondisi Indonesia saat ini
yang sering dilecehkan bahkan kepentingan bangsanya sering dikorbankan demi
kepentingan asing membuat Prabowo menjadi sosok yang tepat untuk memimpin
negeri ini lima tahun ke depan.
Terkait kasus pelanggaran HAM
yang katanya melibatkan Prabowo, saya rasa Prabowo sudah
mempertanggung jawabkannya ke Pengadilan Militer saat itu. Selain belum ada
bukti kuat, yang ada hanya saksi, dan ketika itu saya rasa Prabowo hanyalah
seorang Prajurit yang memiliki atasan yakni Wiranto. Dengan prinsip di militer
yakni, “Prajurit tak pernah salah, yang salah adalah Komandannya” maka saya
juga berpegangan bahwa dalam kasus tersebut walaupun Prabowo bersalah, yang
patut untuk lebih dipersalahkan adalah Wiranto dan pimpinan lainnya. Selain
itu, kasus tersebut belum ada bukti yang sangat kuat dan jelas, jadi bagi yang
mempersalahkannya dan pada saat itu masih ingusan, silakan cari buktinya baru
kembali mempermasalahkannya ya J
Gagasan utama Prabowo yang
mengutamakan kemakmuran rakyat dengan menekan kebocoran anggaran dan sumber
daya alam juga menarik minat saya. Saat ini sudah terlalu banyak sumber daya
alam dan anggaran kita yang merembes ke pihak asing. Padahal dalam UUD 1945
sangat jelas diterangkan bahwa seluruh kekayaan alam adalah untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Fakta lain mengenai Prabowo
adalah ia berlatarbelakang militer dan Hatta Rajasa berlatarbelakang ekonom.
Kombinasi yang menarik menurut saya, karena saat Presiden kita berlatarbelakang
militer tak satu jengkal pun tanah air ini lepas dari genggaman. Bandingkan
ketika dipegang Presiden yang dari pihak sipil, Timor Timur lepas, Indosat
lepas, banyak kontroversi, dsb. Dengan wakil yang dari ekonom, akan terjadi
pembagian kerja yang jelas dan terarah dari keduanya. Prabowo akan mendominasi,
tapi tidak terlalu mendominasi karena pembagian kerjanya akan jelas dengan
Hatta. Tidak seperti saat ini yang mungkin Pak SBY sangatlah mendominasi dan
kita seakan lupa masih memiliki Wakil Presiden. Atau kita bandingkan dengan
komposisi Jokowi-JK yang menurut saya akan terjadi dualisme kepemimpinan.
Dua-duanya akan merasa paling superpower, karena kita tahu sendiri bahwa pak JK
adalah mantan Wapres yang tentunya sudah sangat berpengalaman, menginginkan
kepemimpinan yang “lebih” dari sebelumnya, dan usianya pun sudah cukup tua.
Langit Jakarta terlihat sangat
mendung pagi ini, semoga tak terjadi hujan lebat yang menghalangi aktivitas
seluruh mahasiswa yang akan kuliah hari ini. Karena saya libur hari ini, setelah
begadang nonton Piala Dunia, dilanjutkan dengan main kartu-kartuan, biar dibilang keren dan kekinian, bukan zaman batu.
J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar