Masih segar dalam ingatan bagaimana diri terperangah menyaksikan tim yang membawa nama bangsa ditumpas habis oleh negara-negara yang dulu masih sering kita kalahkan. Timnas sama sekali tidak berdaya, bermain tanpa pola, dan acapkali melakukan kesalahan-kesalahan yang sebetulnya tidak perlu dilakukan. Tim ini seperti kalah kelas dibanding lawan-lawannya di fase akhir tersebut. Permainan yang ‘ganteng maksimal’ gagal diperlihatkan penggawa Garuda Muda di babak Semifinal dan perebutan medali perunggu.
Berbagai alibi
disampaikan oleh orang yang mengatakan dirinya paling bertanggung jawab atas
kegagalan Timnas, sang arsitek tim Aji Santoso. Hilangnya fokus pemain buah
kisruh yang tak kunjung usai, rasa lelah yang menghinggapi pemain, merupakan
beberapa alasan yang ditengarai sebagai musabab kekalahan telak Timnas atas
Thailand dan Vietnam.
Jika ditarik mundur, rasa-rasanya prestasi Garuda
Muda terakhir yang cukup membanggakan adalah ketika berhasil menjuarai Piala
AFF U-19 2013. Kala itu, timnas bermain dengan semangat yang berapi-api, bermain
cantik, dan penuh determinasi. Sayangnya, prestasi tersebut tidak berlanjut di
gelaran Piala Asia U-19. Lagi-lagi timnas gagal total. Tercatat tiga kekalahan
mewarnai tiga pertandingan di fase grup dan memaksa Evan Dimas cs. angkat koper
lebih awal, masing-masing oleh Uzbekistan (1-3), Australia (0-1), dan di laga
penutup dihancurkan Uni Emirat Arab (1-4). Mimpi melaju ke Piala Dunia U-20 pun
sirna. Malah Myanmar yang berhasil mencapai semifinal dan akhirnya mencapai
Piala Dunia U-20 yang baru-baru ini dilaksanakan di Selandia Baru.
Timnas Senior?
Ah, butuh waktu yang lebih lama untuk mengatakan timnas senior mencatat
prestasi membanggakan. Bagi saya, Piala Asia 2007 adalah pencapaian terbaik Timnas dalam 10 tahun
terakhir. Meski gagal melaju ke fase gugur, bergabung di grup berat bersama duo
raja sepak bola Asia saat itu (Arab Saudi & Korea Selatan) dan berada di
peringkat ketiga adalah sebuah prestasi yang membanggakan. Terlebih, timnas
berhasil menjungkalkan Bahrain di laga pertama, 2-1. Piala AFF? Memang Irfan Bachdim dkk. bisa mencapai final, akan
tetapi setelah bermain apik di pertandingan-pertandingan sebelumnya, timnas
gagal memperlihatkannya pada partai puncak dan akhirnya gagal merengkuh gelar.
Hanya
Penonton
Jangan sesekali
meragukan atmosfir sepak bola Indonesia. Seni lapangan hijau ini adalah
primadona di tanah air. Tua, muda, laki-laki, maupun perempuan menggandrungi
olahraga semiliar umat ini. Manakala klub lokal maupun tim nasional bertanding,
stadion akan segera penuh sesak. Bahkan berjam-jam sebelum pertandingan
berlangsung!
Negeri ini adalah
salah satu pasar terbesar di dunia sepak bola. Klub-klub elit Eropa silih
berganti hadir untuk merasakan atmosfir sepak bola Indonesia. Pemain elit Eropa
seolah berlomba untuk mengatakan bahwa atmosfir stadion sepak bola di Indonesia
sangatlah luar biasa. Terbaru, meski tengah di sanksi FIFA, AS Roma masih
diupayakan untuk bisa bermain di Gelora Bung Karno. Suporter yang tengah haus
pertandingan, tentu sangat senang jika hal ini bisa direalisasikan. Terlebih
fans AS Roma di tanah air.
Namun, kepandaian
rakyat Indonesia dalam menonton sepak bola sepertinya tidak bisa (kembali)
dijewantahkan dalam bermain. Tim sepak bola kita tak kunjung digdaya, apalagi
bermimpi untuk kembali jadi Macan Asia. Bahkan, dengan Myanmar yang dulu sering
kita bantai pun, sekarang sudah tertinggal. Orang-orang yang mengurusi sepak
bola tanah air seperti kedap kritik, masuk telinga kiri dan keluar di telinga
kanan. Kita hanya bisa mengingat sejarah bahwa kita pernah berjaya, tapi sulit
untuk mengulanginya.
Revolusi
Total!
Saat ini
Indonesia tengah di sanksi oleh induk sepak bola dunia, FIFA. Persyaratan
pencabutan yang salah satunya mengharuskan Menpora untuk segera mencabut SK
Pembekuan PSSI sepertinya masih jauh panggang daripada api. Sang menteri
bergeming, seolah enggan memberikan kesempatan kedua kepada PSSI yang dinilai
telah gagal total dalam mengelola sepak bola nasional.
Pengucilan
Indonesia dari dunia Internasional di bidang sepak bola tentu tidak boleh
dibiarkan berlarut-larut. Betapa pun, sudah saatnya tim nasional dan klub lokal
berbicara lebih jauh di kancah Internasional. Keadaan sepak bola nasional yang
sedang mati suri mesti dihidupkan kembali. Ada jutaan orang yang menggantungkan
hidupnya pada cabang olahraga yang satu ini.
Sanksi sudah
tiba, kini saatnya untuk menagih janji Menpora Imam Nachrawi. Pembenahan
menyeluruh yang dijanjikan mesti segera dimulai. PSSI baru yang di
gadang-gadang segera hadir, harus segera direalisasikan. Pasalnya, sudah banyak
pihak yang menanti penyelesaian kisruh berkepanjangan ini. Pemain sudah
kehabisan tabungan untuk menafkahi anak istri. Penonton sudah merindukan
hiburan yang menjadi teman kala gundah menghadang. Semua sudah rindu, sepak
bola Indonesia kembali digdaya seperti dulu. Jangan sampai angan menjadi negeri
sepak bola hanya sampai pada fase negeri penonton bola.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar