Breaking News

Selasa, 12 April 2016

KOMPETISI, KEMBALILAH!


Liga-liga Eropa segera berakhir. Seperti biasa, Liga Inggris menjadi liga yang paling seru untuk ditonton. Bukan hanya karena ada Manchester United di sana, yang sampai sejauh ini masih berkutat dengan permainan membosankan, namun hadirnya anomali dengan Leicester City yang hingga saat ini masih berada di pucuk klasemen dan berpeluang besar menjadi juara, adalah keseruan yang mungkin tidak bisa disaksikan di tahun-tahun berikutnya. Panditfootball bahkan mengatakan bahwa fenomena ini adalah gerhana sepak bola, yang jarang sekali bisa kita tonton kehebatannya.
Namun keseruan-keseruan di Eropa sana berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di negeri tercinta. Dengan awetnya sanksi FIFA yang sudah hampir setahun ini bertahan, praktis kompetisi jangka panjang yang diidam-idamkan masih sulit terealisasi. Indonesia Soccer Competition (ISC) yang direncanakan akan digelar pertengahan April ini pun mesti mundur dari jadwal. Perizinan lagi-lagi menjadi alasan klise penyelenggara.
Sebagian besar stadion Indonesia saat ini hanya jadi ruang kosong yang detak jantungnya terhenti. Meski ada banyak turnamen yang diharapkan menjadi api kecil pemantik membaranya kembali geliat sepak bola nasional, ternyata geliat hanya dirasakan di beberapa daerah dan tidak bertahan lama. Semua cepat padam dan tak bersisa.
Kemenangan PSSI dalam gugatannya ke PTUN dan MA nampaknya bukan menjadi akhir dari saga perseteruan PSSI dengan Kemenpora. Upaya peninjauan kembali dari Kemenpora membuat lika-liku perseteruan ini semakin panjang dan rumit. Namun atas kemenangan tersebut, sepertinya PSSI kembali percaya diri dan memberikan janji surga kepada klub, pemain, dan semua yang terkait dengan sepak bola, yakni kompetisi.

Kembalikan Pentas Itu

Mari ingat kembali saat-saat ketika sepak bola nasional belum mati suri. Ketika kumandang yel-yel penikmat sepak bola tanah air telah gaduh berjam-jam sebelum pertandingan berlangsung, para pedagang yang telah menggelar dagangannya sejak sehari sebelum laga dilangsungkan, gurat kebanggaan kala pemain bernyanyi lagu kebangsaan, perayaan gol bersama penonton, dan semua laku insan sepak bola nasional yang mengundang perhatian banyak orang.
Sepak bola adalah hiburan rakyat. Aksi-aksi memukau para seniman lapangan hijau tersebut sangat menyedot perhatian masyarakat. Sekarut-marut apa pun sepak bola nasional, olah raga ini adalah yang paling diminati saat ini. Seluruh pecinta sepak bola Indonesia sedang merindu pada sepak bola.
Tentu kita tidak boleh menafikan bahwa mesti ada perubahan total di tingkat pengurus dan juga sistem pembinaan. Sepak bola nasional tidak boleh terus-terusan berlari di tempat, atau bahkan berjalan mundur. Tak patut pula federasi dikuasai oleh koruptor dan segelintir orang yang hanya mementingkan kepentingan kelompoknya. Semuanya mesti di revolusi, tapi, bukan dengan menghentikan kompetisi.
Tidak bisa ditampik kalau pembekuan terhadap PSSI tentu akan membuat semua embel-embel yang berkaitan dengan PSSI ikut membeku, termasuk kompetisi. Tim transisi yang dijanjikan akan mengatur segala urusan PSSI selama dibekukan nyatanya belum berbuat apa-apa. “Tata kelola sepak bola yang lebih baik” hanya menjadi retorika di tengah rindunya masyarakat akan sepak bola.
Pentas hiburan itu mesti segera dikembalikan. Kembali dalam artian bukan hanya sebagai hiburan sejenak berupa turnamen yang waktu penyelenggaraannya hanya sebentar, tetapi kembali untuk benar-benar kembali. Para pemain sudah kehilangan banyak aset untuk menghidupi keluarganya, para pedagang turun omzetnya, dan penonton sudah rindu untuk bernyanyi di tribun. Semua rindu pada pertandingan, dan berharap janji kompetisi bisa direalisasikan.

Pentingkan Pemain

Tidak bisa dimungkiri bahwa kedua pihak yang berseteru saat ini memiliki ego yang begitu besar. Keduanya sama-sama merasa paling benar, dan paling berhak dibela. Namun sepertinya kedua kubu tidak menyadari kalau bukan mereka yang terkena imbas terbesar dalam perseteruan yang tak jelas kapan akan berakhirnya ini.
Perseteruan yang sepertinya makin runyam dan masih panjang penyelesaiannya ini sangat berimbas pada pemain. Banyak pemain yang belum siap untuk berhenti bermain sepak bola, hingga harus kehabisan tabungan dan menjual berbagai aset yang dimiliki.
Sejatinya pemain menyadari kalau pun ada kompetisi itu tidak menjamin lancarnya pendapatan yang mereka terima. Tentu masih lekat dalam ingatan bagaimana pemain PSMS Medan yang mogok bermain lalu melakukan unjuk rasa di depan kantor PSSI karena gajinya ditunggak. Belum lagi klub-klub lain yang masih kesulitan dana selepas pelarangan klub menerima dana APBD.
Namun, setidaknya jika ada kompetisi, mereka masih bisa berharap. Harapan membuat orang bisa bertahan hidup. Yang penting kompetisi jalan dulu, mereka bermain dulu. Sejatinya saat ini kompetisi sepak bola nasional sedang dalam tahap berkembang, klub-klub sudah banyak mendapat sponsor dan bisa menutupi seluruh biaya yang dikeluarkan selama semusim.
Sudahlah para elitis, luruhkan ego, duduk bersama, berjalan beriringan demi perbaikan sepak bola nasional. Kami sudah merindu, dan seluruh insan sepak bola punya harapan: kompetisi akan segera berjalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Dea Alfi Fauzan