Liga-liga Eropa segera berakhir.
Seperti biasa, Liga Inggris menjadi liga yang paling seru untuk ditonton. Bukan
hanya karena ada Manchester United di sana, yang sampai sejauh ini masih
berkutat dengan permainan membosankan, namun hadirnya anomali dengan Leicester
City yang hingga saat ini masih berada di pucuk klasemen dan berpeluang besar
menjadi juara, adalah keseruan yang mungkin tidak bisa disaksikan di
tahun-tahun berikutnya. Panditfootball bahkan mengatakan bahwa fenomena ini
adalah gerhana sepak bola, yang jarang sekali bisa kita tonton kehebatannya.
Namun keseruan-keseruan di Eropa
sana berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di negeri tercinta. Dengan
awetnya sanksi FIFA yang sudah hampir setahun ini bertahan, praktis kompetisi
jangka panjang yang diidam-idamkan masih sulit terealisasi. Indonesia Soccer
Competition (ISC) yang direncanakan akan digelar pertengahan April ini pun
mesti mundur dari jadwal. Perizinan lagi-lagi menjadi alasan klise
penyelenggara.
Sebagian besar stadion Indonesia
saat ini hanya jadi ruang kosong yang detak jantungnya terhenti. Meski ada banyak
turnamen yang diharapkan menjadi api kecil pemantik membaranya kembali geliat
sepak bola nasional, ternyata geliat hanya dirasakan di beberapa daerah dan
tidak bertahan lama. Semua cepat padam dan tak bersisa.
Kemenangan PSSI dalam gugatannya
ke PTUN dan MA nampaknya bukan menjadi akhir dari saga perseteruan PSSI dengan
Kemenpora. Upaya peninjauan kembali dari Kemenpora membuat lika-liku
perseteruan ini semakin panjang dan rumit. Namun atas kemenangan tersebut,
sepertinya PSSI kembali percaya diri dan memberikan janji surga kepada klub,
pemain, dan semua yang terkait dengan sepak bola, yakni kompetisi.
Kembalikan Pentas Itu
Mari ingat kembali saat-saat
ketika sepak bola nasional belum mati suri. Ketika kumandang yel-yel penikmat
sepak bola tanah air telah gaduh berjam-jam sebelum pertandingan berlangsung,
para pedagang yang telah menggelar dagangannya sejak sehari sebelum laga
dilangsungkan, gurat kebanggaan kala pemain bernyanyi lagu kebangsaan, perayaan
gol bersama penonton, dan semua laku insan sepak bola nasional yang mengundang
perhatian banyak orang.
Sepak bola adalah hiburan rakyat.
Aksi-aksi memukau para seniman lapangan hijau tersebut sangat menyedot
perhatian masyarakat. Sekarut-marut apa pun sepak bola nasional, olah raga ini
adalah yang paling diminati saat ini. Seluruh pecinta sepak bola Indonesia
sedang merindu pada sepak bola.
Tentu kita tidak boleh menafikan
bahwa mesti ada perubahan total di tingkat pengurus dan juga sistem pembinaan.
Sepak bola nasional tidak boleh terus-terusan berlari di tempat, atau bahkan
berjalan mundur. Tak patut pula federasi dikuasai oleh koruptor dan segelintir
orang yang hanya mementingkan kepentingan kelompoknya. Semuanya mesti di revolusi,
tapi, bukan dengan menghentikan kompetisi.
Tidak bisa ditampik kalau
pembekuan terhadap PSSI tentu akan membuat semua embel-embel yang berkaitan
dengan PSSI ikut membeku, termasuk kompetisi. Tim transisi yang dijanjikan akan
mengatur segala urusan PSSI selama dibekukan nyatanya belum berbuat apa-apa. “Tata
kelola sepak bola yang lebih baik” hanya menjadi retorika di tengah rindunya
masyarakat akan sepak bola.
Pentas hiburan itu mesti segera
dikembalikan. Kembali dalam artian bukan hanya sebagai hiburan sejenak berupa
turnamen yang waktu penyelenggaraannya hanya sebentar, tetapi kembali untuk
benar-benar kembali. Para pemain sudah kehilangan banyak aset untuk menghidupi
keluarganya, para pedagang turun omzetnya, dan penonton sudah rindu untuk
bernyanyi di tribun. Semua rindu pada pertandingan, dan berharap janji
kompetisi bisa direalisasikan.
Pentingkan Pemain
Tidak bisa dimungkiri bahwa kedua
pihak yang berseteru saat ini memiliki ego yang begitu besar. Keduanya
sama-sama merasa paling benar, dan paling berhak dibela. Namun sepertinya kedua
kubu tidak menyadari kalau bukan mereka yang terkena imbas terbesar dalam
perseteruan yang tak jelas kapan akan berakhirnya ini.
Perseteruan yang sepertinya makin
runyam dan masih panjang penyelesaiannya ini sangat berimbas pada pemain.
Banyak pemain yang belum siap untuk berhenti bermain sepak bola, hingga harus
kehabisan tabungan dan menjual berbagai aset yang dimiliki.
Sejatinya pemain menyadari kalau
pun ada kompetisi itu tidak menjamin lancarnya pendapatan yang mereka terima.
Tentu masih lekat dalam ingatan bagaimana pemain PSMS Medan yang mogok bermain
lalu melakukan unjuk rasa di depan kantor PSSI karena gajinya ditunggak. Belum
lagi klub-klub lain yang masih kesulitan dana selepas pelarangan klub menerima
dana APBD.
Namun, setidaknya jika ada
kompetisi, mereka masih bisa berharap. Harapan membuat orang bisa bertahan
hidup. Yang penting kompetisi jalan dulu, mereka bermain dulu. Sejatinya saat
ini kompetisi sepak bola nasional sedang dalam tahap berkembang, klub-klub
sudah banyak mendapat sponsor dan bisa menutupi seluruh biaya yang dikeluarkan
selama semusim.
Sudahlah para elitis, luruhkan
ego, duduk bersama, berjalan beriringan demi perbaikan sepak bola nasional. Kami
sudah merindu, dan seluruh insan sepak bola punya harapan: kompetisi akan
segera berjalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar