Tahun ini,
merupakan tahun pertama saya menginjakan kaki pada usia kepala dua. Kenyataan
yang takkan bisa dipungkiri, dan harus dilalui terus demi mencapai apa yang
telah diangankan sejak lama. Momentum dimana harus segera meninggalkan tingkah
polah kekanak-kanakan yang masih sering saya lakukan dengan sengaja ataupun tidak.
Dan tahun ini pula, adik-adik saya, Dadang, Majid, Nandang, Timun, Ela, Cicih,
Dianty, Idah, Erna, Mimin, Dian, Aam, Nia, Dita, Aas dan rekan-rekan seluruh angkatannya (yang
tentu tak bisa saya sebut satu per satu) akan berjuang menempuh hidup baru
–tapi jangan dulu nikah ya- menuju masa depannya.
“Merantaulah,
maka kau akan mendapat pengganti kawan” – Imam Syafi’i dalam cover book trilogi
Negeri Lima Menara yang membuat saya mantap menatap tanah rantau yang saat ini sedang dijalani.
Perlu dipahami bahwa ‘pengganti kawan’ yang dimaksud adalah bukan berarti kawan
yang lama terlupa begitu saja, akan tetapi bahwa kalian tidak perlu takut akan
kehilangan kawan karena bertambahnya teman adalah sebuah keniscayaan.
Menjalani
masa-masa seperti yang kalian hadapi saat ini adalah fase paling menarik yang pernah saya hadapi sejauh ini. Saingan kalian sangatlah banyak, apalagi saya baca bahwa saat ini
pendaftar SNMPTN mencapai 850ribu orang, bisa dibayangkan bahwa kalian bersaing
melawan ratusan ribu orang tersebut. SNMPTN sendiri mungkin masih jadi
primadona di Bojongmangu, karena ketika bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri tanpa tes itu adalah sesuatu yang sangat nikmat. Pengalaman – pengalaman terdahulu dari kakak kelas
adalah visualisasi nyata tak terbantahkan.
![]() |
| Danboo aja berjuang, masa kalian nggak? Sumber gambar : my-sphire.blogspot.com |
Akan tetapi,
yang perlu kalian ingat adalah jangan pernah menggantungkan harapan terlalu
tinggi pada jalur yang satu ini. Seperti harapan – harapan lainnya, pabila
digantungkan terlalu tinggi akan menjadi hal yang sangat menyakitkan kalau tak
dapat digapai. Anggap saja fase ini sebagai fase “nyabut” yang kalian harus
memilih satu dari ratusan ribu kertas yang ada atau malah lempar dadu dengan
ratusan ribu mata dadu dan hanya satu yang tertulis nama kalian, yang artinya
apabila kalian berhasil mendapatkannya pun itu adalah suatu keberuntungan. Ya,
tes ini hanya untung – untungan. Bukankah tidak pernah panitia mengatakan
secara gamblang kriteria penilaiannya? Rapor, nilai UN, Sertifikat Prestasi,
dan lain sebagainya bukankah hanya (setidaknya menurut saya) prediksi belaka
padahal kenyataan di dalam penilaian tersebut tidak pernah dibuka secara
transparan? Sekali lagi, anggaplah ini hanya undian. Tapi kalian harus tetap ikut,
karena mana tahu keberuntungan ada di pihak kalian. Meskipun jalur ini
bukan jalan saya :D
Tetapi jika
kalian tidak beruntung, ada lagi jalur lain untuk menuju PTN, yakni SBMPTN. Di
jalan yang lebih ‘pasti’ ini kalian harus mengerahkan kemampuan sendiri dalam
sebuah tes tertulis. Di jalur ini kalian mesti mengerahkan kemampuan terbaik
kalian untuk bisa lolos, dan kriteria penilaiannya pun lebih jelas ketimbang
jalur SNMPTN. Akan tetapi, saingan kalian bukan hanya orang – orang seangkatan
seperti SNMPTN, tetapi juga (kalau tidak berubah aturannya) adalah angkatan 2014 dan
angkatan saya. Saingan kalian dari angkatan sebelumnya ini biasanya adalah yang
tidak lolos pada tahun lalu ataupun yang lolos tetapi diterima di Prodi yang
tidak cocok dengannya sehingga ia mencoba untuk tes lagi. Yang harus diwaspadai
adalah pengalaman mereka dalam menjalani tes ini, karena tentunya selain
pengetahuan terkait materi, pengalaman juga penting dibutuhkan. Banyak kok tulisan – tulisan di blog sebelah
yang memuat tips dan trik dalam menjalani tes yang satu ini. Kreatiflah, banyak
– banyak mencari informasi. Ini masa
depanmu! Dan lewat jalan inilah sekitar 2 tahun yang lalu Alhamdulillah saya
diterima di Ilmu Hubungan Internasional, UIN Jakarta.
Selain dua
jalur populer di atas, masih ada jalur lain untuk memasuki PTN. Ada beberapa
PTN yang menerima mahasiswa lewat jalur mandiri, ya tidak jauh berbeda dengan
SBM akan tetapi yang menyelenggarakan hanya PTN yang bersangkutan. Lalu ada
pula untuk Perguruan Tinggi Negeri Islam (kalau tidak salah singkatannya
PTAIN), biasanya melakukan tes bersama juga. Kalau nggak salah kemarin saya lihat Majid mengunggah kartu tes di Akun
Facebook-nya. Iya, itu. Kalau zaman saya dulu namanya SPMB-PTAIN, saya pun
sempat mau daftar, akan tetapi urung dilakukan karena sudah diterima SBMPTN.
Naah, masih ada
jalur lain untuk mengejar cita – cita (meski mungkin sebelumnya tak terpikirkan
sama sekali, ya :D) yaitu tes di Perguruan Tinggi Kedinasan. Setahu saya sudah
ada beberapa PTK yang sudah buka saat ini, yakni STIS (Sekolah Tinggi Ilmu
Statistik) dan STSN (Sekolah Tinggi Sandi Negara). Kalau untuk kampus saya
sendiri belum ada pengumuman, tapi kabarnya sih
tahun ini akan buka karena Direktorat Jenderal Pajak sedang membutuhkan
banyak pegawai untuk mencapai target penerimaan pajak yang tiap tahun terus
meningkat. Kabar mengenai pengumuman akan langsung saya bagikan, ya itu pun
kalau kalian berminat, sih. Hehehe :D
Masuk PTK
sendiri bisa menjadi greget tersendiri menurut saya. Peminat PTK tidak pernah
sepi, loh. Ini terjadi karena
kebanyakan PTK gratis karena dibiayai Negara dan setelah lulus diarahkan untuk
bekerja di Kementerian/Lembaga penyelenggara. Jelas menggiurkan, kan? Apalagi
di STAN, yang diselenggarakan oleh Kementerian Keuangan. Pendaftar tak kurang
dari 100ribu tiap kali USM, dan yang diterima tidak lebih dari 5000 saja. Kalau
bisa masuk, ya ada kebanggaan tersendiri dong! :D
Selain dari
itu, masih ada jalan lain yakni kuliah di swasta ataupun (seperti kebanyakan
yang lain) langsung kerja di Pabrik – pabrik sekitaran Bojongmangu.
Bagaimanapun jalannya, yakinlah itu adalah jalan terbaik. Dan apabila sudah
diberi jalan, bersungguh – sungguhlah menapakinya. Boleh jadi banyak orang yang
menginginkan jalan kalian tetapi tak bisa tercapai, dan kalian termasuk orang
yang beruntung. Yakinlah, masa depan sudah disiapkan dengan indah. Hanya perlu
perjuangan hebat untuk mencapainya. Karena masa depan tidak sesederhana candaan
yang sering kalian tertawakan bersama. Bahkan untuk memancing ikan pun butuh
usaha ekstra, bukan?
.jpg)
Thanks Ka dea
BalasHapusSama-sama, Jid. Terus cari di semua jalan ya. Syukur-syukur kalau di percobaan pertama sudah temukan jalan :)
Hapus