Breaking News

Kamis, 16 April 2015

KARENA CORAT-CORET SERAGAM ITU “KEREN”!

Ujian Nasional SMA telah usai dilewati oleh adik-adik kelas XII. Berbagai mata pelajaran telah dilahap dan diselesaikan, dan tinggal menunggu hasil. Akan tetapi, seperti yang telah dilakukan oleh angkatan sebelum-sebelumnya, setelah UN usai, prosesi selanjutnya yang (seakan) wajib dilakukan adalah konvoi lalu bermain-main dengan Pilox dan spidol. Oh ya, tak lupa berselfie ria dengan seragam putih abu yang telah bertransformasi menjadi warna-warni.  


Corat-coret seragam SMA, sering diartikan sebagai ungkapan kebahagiaan telah melewati berbagai rintangan terjal menuju fase selanjutnya. Kenangan putih-abu akan terasa lengkap bila terdapat banyak tanda tangan teman-teman seperjuangan di seragam. Warna-warni pilox tersemai langsung di pakaian, lalu nanti akan dijadikan pajangan kamar layaknya barang antik di museum. Seragam yang tadinya berwarna putih itu akan berubah menjadi berbagai macam warna dengan tanda tangan yang melekat erat di tiap jengkal seragam.
Foto: @UrbanCikarang
Sia-sia Belaka

Prosesi “sakral” yang biasanya dilakukan selepas UN dan bertempat di jalanan ini sejatinya merupakan perbuatan sia-sia belaka. Setidaknya ada tiga alasan yang mendasari saya berpendapat seperti itu. Pertama, dulu ketika pertama dibelikan oleh orang tua, senangnya bukan main. Pakaian dijaga tetap putih dan bersih, terkena saus di kantin pun langsung uring-uringan. Lantas hanya dalam sehari, pakaian itu dibiarkan kotor (dan sulit dibersihkan) tanpa penyesalan?
Kedua, meskipun pakaian itu tidak akan dipakai lagi oleh kita, ternyata masih banyak adik-adik kita yang membutuhkan seragam tersebut karena tak mampu membeli yang baru. Masih ingat, ketika sudah hampir berminggu-minggu sekolah di SMA, ternyata masih ada yang berpakaian putih-biru? Atau mungkin kita sendiri begitu, karena hanya menunggu seragam yang dibeli dari sekolah.
Ketiga, kalau memang alasannya sebagai simbol kenangan, bukankah tak pernah kita memakai seragam yang berwarna-warni macam yang digantung itu kala melakukan kegiatan di SMA? Kalaupun ada, mungkin hanya pada pentas Drama, ya? Sebab kenangan itu biasanya akan terlintas di kepala, ketika kita menyaksikan suatu barang yang tersimpan rapi tanpa perubahan berarti. Barang-barang replika di museum saja dibuat semirip mungkin dengan yang asli, ini malah barang asli dibuat beda. :D

Begitu Caranya Bersyukur?

Sebelum kita melaksanakan ujian-ujian, termasuk UN, rasa-rasanya semua pasti akan merasakan takut dan cemas. Takut tidak lulus, cemas karena merasa belum menguasai betul materi. Selain belajar, ada hal lain yang sudah tentu disadari oleh semua, yaitu berdo’a. Selalu ada yang tak bisa kita hindari dalam hidup ini, dan hanya kepada-Nya kita menggantungkan harapan. Ketika sebelum UN, kita berdo’a begitu rajin, setiap waktu, menangis ketika Istighosah, memohon maaf pada orang tua dan teman, lantas setelahnya kita malah melakukan tindakan yang tidak Dia sukai? Hmmm … jadi, arti dari tindakan sebelum UN itu maksudnya apa?
Masih banyak cara mengungkapkan kebahagiaan setelah berjuang melewati rintangan. Berkumpul bersama teman, langsung mencari pekerjaan, lanjut belajar untuk menghadapi ujian selanjutnya bagi yang melanjutkan, menyumbangkan pakaian, dan lain sebagainya.
Masa SMA memang masa yang tak terlupakan. Tanpa seragam warna-warni dan penuh tanda tangan bergantung di kamar pun, tidak akan mereduksi indahnya kenangan tersebut. Yakin, seluruh kenangan itu akan tersimpan baik dalam memori. Jika masih butuh simbol, atau pemicu ingatan itu timbul, gantungkan saja seragam yang warnanya masih putih. Atau, simpan dengan rapi buku-buku catatan/literatur yang kamu punya. Dijamin, ketika melihatnya, kamu akan langsung ingat masa-masa itu. Jadi, tak perlu lagi seragam warna-warni penuh coretan, kan?  

2 komentar:

Designed By Dea Alfi Fauzan