Ujian Nasional
SMA telah usai dilewati oleh adik-adik kelas XII. Berbagai mata pelajaran telah
dilahap dan diselesaikan, dan tinggal menunggu hasil. Akan tetapi, seperti yang
telah dilakukan oleh angkatan sebelum-sebelumnya, setelah UN usai, prosesi
selanjutnya yang (seakan) wajib dilakukan adalah konvoi lalu bermain-main
dengan Pilox dan spidol. Oh ya, tak lupa berselfie ria dengan seragam putih abu
yang telah bertransformasi menjadi warna-warni.
Corat-coret seragam SMA, sering diartikan sebagai ungkapan kebahagiaan telah melewati berbagai rintangan terjal menuju fase selanjutnya. Kenangan putih-abu akan terasa lengkap bila terdapat banyak tanda tangan teman-teman seperjuangan di seragam. Warna-warni pilox tersemai langsung di pakaian, lalu nanti akan dijadikan pajangan kamar layaknya barang antik di museum. Seragam yang tadinya berwarna putih itu akan berubah menjadi berbagai macam warna dengan tanda tangan yang melekat erat di tiap jengkal seragam.
Sia-sia Belaka
Prosesi “sakral”
yang biasanya dilakukan selepas UN dan bertempat di jalanan ini sejatinya
merupakan perbuatan sia-sia belaka. Setidaknya ada tiga alasan yang mendasari
saya berpendapat seperti itu. Pertama, dulu ketika pertama dibelikan oleh orang
tua, senangnya bukan main. Pakaian dijaga tetap putih dan bersih, terkena saus
di kantin pun langsung uring-uringan. Lantas hanya dalam sehari, pakaian itu
dibiarkan kotor (dan sulit dibersihkan) tanpa penyesalan?
Kedua, meskipun
pakaian itu tidak akan dipakai lagi oleh kita, ternyata masih banyak adik-adik
kita yang membutuhkan seragam tersebut karena tak mampu membeli yang baru.
Masih ingat, ketika sudah hampir berminggu-minggu sekolah di SMA, ternyata
masih ada yang berpakaian putih-biru? Atau mungkin kita sendiri begitu, karena
hanya menunggu seragam yang dibeli dari sekolah.
Ketiga, kalau
memang alasannya sebagai simbol kenangan, bukankah tak pernah kita memakai
seragam yang berwarna-warni macam yang digantung itu kala melakukan kegiatan di
SMA? Kalaupun ada, mungkin hanya pada pentas Drama, ya? Sebab kenangan itu biasanya
akan terlintas di kepala, ketika kita menyaksikan suatu barang yang tersimpan
rapi tanpa perubahan berarti. Barang-barang replika di museum saja dibuat semirip mungkin dengan yang asli, ini malah barang asli dibuat beda. :D
Begitu Caranya Bersyukur?
Sebelum kita
melaksanakan ujian-ujian, termasuk UN, rasa-rasanya semua pasti akan merasakan
takut dan cemas. Takut tidak lulus, cemas karena merasa belum menguasai betul
materi. Selain belajar, ada hal lain yang sudah tentu disadari oleh semua,
yaitu berdo’a. Selalu ada yang tak bisa kita hindari dalam hidup ini, dan hanya
kepada-Nya kita menggantungkan harapan. Ketika sebelum UN, kita berdo’a begitu
rajin, setiap waktu, menangis ketika Istighosah, memohon maaf pada orang tua
dan teman, lantas setelahnya kita malah melakukan tindakan yang tidak Dia
sukai? Hmmm … jadi, arti dari tindakan sebelum UN itu maksudnya apa?
Masih banyak
cara mengungkapkan kebahagiaan setelah berjuang melewati rintangan. Berkumpul
bersama teman, langsung mencari pekerjaan, lanjut belajar untuk menghadapi
ujian selanjutnya bagi yang melanjutkan, menyumbangkan pakaian, dan lain
sebagainya.
Masa SMA memang
masa yang tak terlupakan. Tanpa seragam warna-warni dan penuh tanda tangan bergantung
di kamar pun, tidak akan mereduksi indahnya kenangan tersebut. Yakin, seluruh
kenangan itu akan tersimpan baik dalam memori. Jika masih butuh simbol, atau
pemicu ingatan itu timbul, gantungkan saja seragam yang warnanya masih putih.
Atau, simpan dengan rapi buku-buku catatan/literatur yang kamu punya. Dijamin,
ketika melihatnya, kamu akan langsung ingat masa-masa itu. Jadi, tak perlu lagi
seragam warna-warni penuh coretan, kan?

Kereen gan (y)
BalasHapuslebih baik mengucap syukur atau doa bersama :)
Yoi gan! :)
Hapus