Mendengar kata
Sepakbola, memang lebih erat kaitannya dengan olahraga. Sepakbola merupakan
olahraga semilyar umat. Tak kenal usia, suku, daerah, bahkan sekarang juga
banyak digandrungi wanita. Akan tetapi, yang perlu diingat bahwa sepakbola juga
merupakan seni, bukan tentang teknik-teknik indah yang sering dipertontonkan oleh
pemain professional (luar negeri) saja, lebih dari itu sepak bola selalu
berkaitan dengan emosi, perasaan, dan jiwa.
Tentunya anda
pernah menonton sepakbola, bukan? Atau mungkin bagi wanita (yang tidak suka
bola), menyaksikan ayah atau saudara laki-lakinya di rumah menonton bola? Tentu
jawaban mayoritas, pasti mengatakan “Iya”. Menonton sepakbola pasti melibatkan
emosi, apalagi yang ditonton adalah tim idola. Ketika tim idola kebobolan,
kata-kata kasar dan makian seringkali terlontar secara spontan. Memaki wasit,
pemain lawan, bahkan pemain idola, praktis tak pernah terlewatkan dalam setiap
kali menonton bola. Memang terlihat bodoh, ketika memaki orang yang sama sekali
tak mendengar makian kita. Berkomentar, harus begini-begitu, tapi ketika
sendirinya bermain pun tak bisa mempraktikan apa yang dinasihatkan. Pun ketika
menang atau mencetak gol, berteriak dan loncat kegirangan seringkali terhampar
di ruang televisi rumah seperti orang gila. Ya, tapi itulah sepakbola, selalu
melibatkan emosi, perasaan, bahkan (sakit) jiwa.
Itu baru cerita
menonton di rumah. Lain lagi dengan cerita menonton di stadion. Menonton di
stadion memberikan rasa yang berbeda. Anda bisa teriak sekeras-kerasnya tanpa
merasa orang lain terganggu, memaki wasit dan pemain langsung (meskipun mungkin
masih tidak terdengar), dan berkata-kata kasar lalu malah diberikan applause oleh penonton lain. Hal yang
tak bisa anda temui di rumah ataupun di tempat lain. Menonton di stadion pun
memberikan sudut pandang yang lebih jelas, anda bisa melihat keseluruhan sudut
lapangan, dan juga tribun penonton. Belum pernah merasakan? Coba sesekali
nonton sepakbola di stadion dan rasakan bedanya!
Bongkar kembali
ingatan kita akan masa kecil dulu. Pernah main bola di halaman rumah? Halaman
sekolah? Gang di depan kompleks? Di pinggir sungai? Di kebun kosong? Sawah yang
kering sehabis panen? Atau, jalan sempit kompleks rumah dengan gawang sisa-sisa
puing bangunan?
Setiap kali
pulang ke kampung halaman, saya selalu menyempatkan berkumpul bersama teman
kecil. Sekedar bersua 1-2 jam sehari, di tengah kesibukan masing-masing,
rasanya lebih dari cukup. Tak jarang kami bernostalgia dengan melakukan apa-apa
yang sering dilakukan di masa lampau. Termasuk bermain bola.
Rumah saya yang
tak jauh dari sekolah dasar tempat menuntut ilmu dulu, tak pelak menjadikan
saya sering melewatinya. Tak jarang saya melihat anak-anak berusia 6-12 tahun
bermain di halaman sekolah tiap sore. Ternyata, setelah saya amati lebih dekat,
peraturannya tak banyak berubah. Bahkan “alat-alat” yang digunakan dalam
bermain pun masih sama. Alas kaki (sandal jepit) yang dijadikan gawang, bermain
tanpa sepatu, dan lebar gawang ditentukan oleh langkah kaki. Untuk panjang dan
lebar lapangan ditentukan dengan musyawarah, yang tak jarang dilakukan pada
saat permainan telah dimulai. “Woy, itu udah out bolanya”, teriak pemain dari tim sebelah barat. “Belum, lah.
Biasanya kan kalau sudah melewati itu (menunjuk plang depan sekolah, dengan
menarik garis lurus secara kira-kira), baru sudah out”, timpal pemain sebelah timur. Ya, perdebatan akan bola sudah
keluar lapangan saja sudah memakan waktu, belum lagi dengan perdebatan masalah handsball yang mengandalkan kejujuran
dan mempercayai sumpah, dan juga tentunya perdebatan mengenai bola gol atau
tidak.
Mengenai
pemilihan posisi, formasi, atau taktik, sepertinya tak menjadi hal yang penting
bagi mereka (kita). Setidaknya sudah ada pakem tersendiri, pemain lambat dan gendut
ditempatkan sebagai pemain belakang atau kiper, sedangkan pemain yang cepat
biasanya ditempatkan sebagai penyerang dan gelandang. Tak jarang pula untuk
posisi yang paling membosankan, yakni kiper, para pelaku sepakbola suka-suka
ini bergantian. Setiap kebobolan berapa kali, penjaga gawang pun berganti.
Sebetulnya tidak hanya pada posisi penjaga gawang saja, pun pada posisi lain,
mereka menerapkan taktik rolling. Berganti-ganti posisi. Tapi tentu tidak
dimaksudkan untuk membuat lawan bingung melakukan penjagaan, mereka masih
terlalu polos untuk berpikir sejauh itu.
Tendangan
dianggap tidak gol jika bola tidak dapat dijangkau oleh kiper karena terlalu
tinggi. Hanya pelanggaran yang benar-benar keras dan melukai lawan yang akan
menghentikan permainan, dan langsung penalti walaupun terjadi di mana saja.
Peluit panjang tanda pertandingan berakhir adalah adzan maghrib, tapi di tempat
saya dahulu (mungkin hingga kini) pertandingan seketika akan bubar meski belum
terdengar adzan maghrib jika pemilik bola terluka dan pulang mengadu ke
mamanya.
Untuk
menghitung gol, itu biasanya dilakukan oleh seorang wanita tomboy yang biasanya
ikut-ikutan datang. Atau bisa dilakukan dengan menuliskannya di tanah tempat
bermain, walaupun sering sekali hitungan gol itu terhapus karena terinjak.
Pemilik bola adalah raja, ia akan dijemput oleh banyak orang ketika sore hari
tiba dengan memanggil-manggil namanya di depan rumah.
Punya cerita
berbeda, atau mungkin ada peraturan yang berbeda pada saat anda main
bola-suka-suka? Silakan berbagi di kolom komentar.
BUKAN MILIK FIFA, MILIK KITA
SEMUA
Dari
kenyataan-kenyataan di atas, baik saat menonton ataupun bermain, sepakbola
dimiliki oleh semua lapisan masyarakat. Baik yang berada, maupun golongan bawah
yang berada di garis kemiskinan. Sepakbola tidak mengenal perbedaan, semuanya
disatukan dalam satu bola dan dua gawang, tak peduli ukuran lapangan, bola yang
dipakai, atau dari benda apa gawang itu dibuat.
Geram rasanya
ketika mendengar jawaban atas pertanyaan dari Najwa Shihab pada acaranya di
salah satu televisi swasta kepada PSSI yang saat itu diwakili oleh Hinca
Panjaitan, yang mengatakan bahwa sepakbola adalah milik FIFA. Memang betul
dalam “sepakbola formal”, otoritas tertinggi berada di tangan Federasi
Sepakbola Dunia tersebut. Akan tetapi, mereduksi nilai sepakbola dengan
mengatakan bahwa sepakbola hanya milik sekelempok orang yang bernama FIFA
adalah hal yang salah. Sama saja seperti mengerdilkan sepakbola yang telah
dinikmati semilyar umat manusia ini. Toh, dengan tidak ada FIFA atau PSSI pun,
anak-anak tetap bisa bermain sepakbola, bukan?
Sebab
“sepakbola formal” yang kita saksikan di televisi dan stadion-stadion Indonesia
hanyalah sebagian saja dari potret besar sepakbola sebagai permainan untuk
kita semua. Sepakbola adalah milik kita semua.

Mantab kak artikelnya.. Betul sepakbola adalah milik kita sampai kapanpun. ^_^
BalasHapusapalagi bibit sepakbola sekarng ini bnyak sekali di indonesia ^_^