Breaking News

Kamis, 05 Februari 2015

SEPAKBOLA BUKAN MILIK FIFA



Mendengar kata Sepakbola, memang lebih erat kaitannya dengan olahraga. Sepakbola merupakan olahraga semilyar umat. Tak kenal usia, suku, daerah, bahkan sekarang juga banyak digandrungi wanita. Akan tetapi, yang perlu diingat bahwa sepakbola juga merupakan seni, bukan tentang teknik-teknik indah yang sering dipertontonkan oleh pemain professional (luar negeri) saja, lebih dari itu sepak bola selalu berkaitan dengan emosi, perasaan, dan jiwa.

Tentunya anda pernah menonton sepakbola, bukan? Atau mungkin bagi wanita (yang tidak suka bola), menyaksikan ayah atau saudara laki-lakinya di rumah menonton bola? Tentu jawaban mayoritas, pasti mengatakan “Iya”. Menonton sepakbola pasti melibatkan emosi, apalagi yang ditonton adalah tim idola. Ketika tim idola kebobolan, kata-kata kasar dan makian seringkali terlontar secara spontan. Memaki wasit, pemain lawan, bahkan pemain idola, praktis tak pernah terlewatkan dalam setiap kali menonton bola. Memang terlihat bodoh, ketika memaki orang yang sama sekali tak mendengar makian kita. Berkomentar, harus begini-begitu, tapi ketika sendirinya bermain pun tak bisa mempraktikan apa yang dinasihatkan. Pun ketika menang atau mencetak gol, berteriak dan loncat kegirangan seringkali terhampar di ruang televisi rumah seperti orang gila. Ya, tapi itulah sepakbola, selalu melibatkan emosi, perasaan, bahkan (sakit) jiwa.

Itu baru cerita menonton di rumah. Lain lagi dengan cerita menonton di stadion. Menonton di stadion memberikan rasa yang berbeda. Anda bisa teriak sekeras-kerasnya tanpa merasa orang lain terganggu, memaki wasit dan pemain langsung (meskipun mungkin masih tidak terdengar), dan berkata-kata kasar lalu malah diberikan applause oleh penonton lain. Hal yang tak bisa anda temui di rumah ataupun di tempat lain. Menonton di stadion pun memberikan sudut pandang yang lebih jelas, anda bisa melihat keseluruhan sudut lapangan, dan juga tribun penonton. Belum pernah merasakan? Coba sesekali nonton sepakbola di stadion dan rasakan bedanya!

Sepakbola di Kolong Jembatan (vivanews.com)

MAIN BOLA SUKA-SUKA

Bongkar kembali ingatan kita akan masa kecil dulu. Pernah main bola di halaman rumah? Halaman sekolah? Gang di depan kompleks? Di pinggir sungai? Di kebun kosong? Sawah yang kering sehabis panen? Atau, jalan sempit kompleks rumah dengan gawang sisa-sisa puing bangunan?

Setiap kali pulang ke kampung halaman, saya selalu menyempatkan berkumpul bersama teman kecil. Sekedar bersua 1-2 jam sehari, di tengah kesibukan masing-masing, rasanya lebih dari cukup. Tak jarang kami bernostalgia dengan melakukan apa-apa yang sering dilakukan di masa lampau. Termasuk bermain bola.

Rumah saya yang tak jauh dari sekolah dasar tempat menuntut ilmu dulu, tak pelak menjadikan saya sering melewatinya. Tak jarang saya melihat anak-anak berusia 6-12 tahun bermain di halaman sekolah tiap sore. Ternyata, setelah saya amati lebih dekat, peraturannya tak banyak berubah. Bahkan “alat-alat” yang digunakan dalam bermain pun masih sama. Alas kaki (sandal jepit) yang dijadikan gawang, bermain tanpa sepatu, dan lebar gawang ditentukan oleh langkah kaki. Untuk panjang dan lebar lapangan ditentukan dengan musyawarah, yang tak jarang dilakukan pada saat permainan telah dimulai. “Woy, itu udah out bolanya”, teriak pemain dari tim sebelah barat. “Belum, lah. Biasanya kan kalau sudah melewati itu (menunjuk plang depan sekolah, dengan menarik garis lurus secara kira-kira), baru sudah out”, timpal pemain sebelah timur. Ya, perdebatan akan bola sudah keluar lapangan saja sudah memakan waktu, belum lagi dengan perdebatan masalah handsball yang mengandalkan kejujuran dan mempercayai sumpah, dan juga tentunya perdebatan mengenai bola gol atau tidak.

Mengenai pemilihan posisi, formasi, atau taktik, sepertinya tak menjadi hal yang penting bagi mereka (kita). Setidaknya sudah ada pakem tersendiri, pemain lambat dan gendut ditempatkan sebagai pemain belakang atau kiper, sedangkan pemain yang cepat biasanya ditempatkan sebagai penyerang dan gelandang. Tak jarang pula untuk posisi yang paling membosankan, yakni kiper, para pelaku sepakbola suka-suka ini bergantian. Setiap kebobolan berapa kali, penjaga gawang pun berganti. Sebetulnya tidak hanya pada posisi penjaga gawang saja, pun pada posisi lain, mereka menerapkan taktik rolling. Berganti-ganti posisi. Tapi tentu tidak dimaksudkan untuk membuat lawan bingung melakukan penjagaan, mereka masih terlalu polos untuk berpikir sejauh itu.

Tendangan dianggap tidak gol jika bola tidak dapat dijangkau oleh kiper karena terlalu tinggi. Hanya pelanggaran yang benar-benar keras dan melukai lawan yang akan menghentikan permainan, dan langsung penalti walaupun terjadi di mana saja. Peluit panjang tanda pertandingan berakhir adalah adzan maghrib, tapi di tempat saya dahulu (mungkin hingga kini) pertandingan seketika akan bubar meski belum terdengar adzan maghrib jika pemilik bola terluka dan pulang mengadu ke mamanya.

Untuk menghitung gol, itu biasanya dilakukan oleh seorang wanita tomboy yang biasanya ikut-ikutan datang. Atau bisa dilakukan dengan menuliskannya di tanah tempat bermain, walaupun sering sekali hitungan gol itu terhapus karena terinjak. Pemilik bola adalah raja, ia akan dijemput oleh banyak orang ketika sore hari tiba dengan memanggil-manggil namanya di depan rumah.

Punya cerita berbeda, atau mungkin ada peraturan yang berbeda pada saat anda main bola-suka-suka? Silakan berbagi di kolom komentar.

BUKAN MILIK FIFA, MILIK KITA SEMUA

Dari kenyataan-kenyataan di atas, baik saat menonton ataupun bermain, sepakbola dimiliki oleh semua lapisan masyarakat. Baik yang berada, maupun golongan bawah yang berada di garis kemiskinan. Sepakbola tidak mengenal perbedaan, semuanya disatukan dalam satu bola dan dua gawang, tak peduli ukuran lapangan, bola yang dipakai, atau dari benda apa gawang itu dibuat.

Geram rasanya ketika mendengar jawaban atas pertanyaan dari Najwa Shihab pada acaranya di salah satu televisi swasta kepada PSSI yang saat itu diwakili oleh Hinca Panjaitan, yang mengatakan bahwa sepakbola adalah milik FIFA. Memang betul dalam “sepakbola formal”, otoritas tertinggi berada di tangan Federasi Sepakbola Dunia tersebut. Akan tetapi, mereduksi nilai sepakbola dengan mengatakan bahwa sepakbola hanya milik sekelempok orang yang bernama FIFA adalah hal yang salah. Sama saja seperti mengerdilkan sepakbola yang telah dinikmati semilyar umat manusia ini. Toh, dengan tidak ada FIFA atau PSSI pun, anak-anak tetap bisa bermain sepakbola, bukan?

Sebab “sepakbola formal” yang kita saksikan di televisi dan stadion-stadion Indonesia hanyalah sebagian saja dari potret besar sepakbola sebagai permainan untuk kita semua. Sepakbola adalah milik kita semua.

1 komentar:

  1. Mantab kak artikelnya.. Betul sepakbola adalah milik kita sampai kapanpun. ^_^

    apalagi bibit sepakbola sekarng ini bnyak sekali di indonesia ^_^

    BalasHapus

Designed By Dea Alfi Fauzan